Hari ini, hari dimana pada tanggal yang sama, pada bulan yang sama, beberapa tahun yang lalu aku dilahirkan. Hari dimana mama berjuang keras menahan rasa sakit untuk melahirkanku kedunia yang fana ini. Terimakasih mama, sebenarnya hari ini adalah harimu, hari dimana mama berhasil melahirkanku. Hari yang dinanti-nantikan oleh mama, papa, mak wo, atau orang lain yang tahu bahwa aku pernah ada dalam rahim mama. Hari dimana semua berbeda. Aku yang menangis sementara mama, papa, atau orang lain disana mungkin tersenyum menyambut tangisku.
Hari ini, tepat hari ini, umurku genap 22 tahun. Umur yang sudah bisa dibilang tua, atau mungkin matang bagi sebagian orang. Namun, bagiku umur ini belum matang, masih banyak yang kurang disana-sini, masih banyak yang compang camping disana-sini, masih banyak harapan dan impian disana-sini, masih banyak luka disana-sini, dan masih banyak lagi.
Hari ini, digenap 22 tahun ini, dihari dimana hanya mama yang mengucap selamat dan salah satu temanku di kos yang tahu, aku hanya bisa berucap Alhamdulillah. Tuhan masih beri aku kesempatan untuk hidup, kesempatan untuk beribadah, kesempatan untuk berusaha membahagiakan orang tua, keluarga, orang disekelilingku.
Digenap usiaku yang 22 tahun ini, aku hanya ingin minta maaf pada semua orang yang pernah hadir dihidupku, untuk semua salahku, khilafku, egoku, dll. Aku minta maaf pada ma, pa, abg, zikri, mak wo, pa wo, bang fandi, dll, jika aku pernah berbuat salah, berbuat hal yang penuh ego, sungguh egois. Ku akui ego ku. Hingga saat ini, aku berusaha menebus salahku dengan berusaha disini. Ku ingin minta maaf pada sekolahku, guru2 ku, temanku, sahabatku untuk semua egoku, semua sifat burukku, dll. Aku ingin minta maaf, sungguh ingin minta maaf. Ku hanya minta doakan ku sukses dijalan ini. Jalan yang telah ku pilih. Jalan yang memang berat, lama, dan butuh kesabaran.
Digenap usiaku yang 22 tahun ini, khusus untuk mama. Sosok yang begitu ku cinta, sosok yang begitu kuat. Terimakasih untuk kesabaranmu meladeni sikapku, kesabaranmu membesarkanku, kesabaranmu akan semua tingkahku. Bahkan, sekarang dirimu begitu sabar setiap hari bangun pagi, pulang petang, lelah, setiap hari melakukan hal yang sama. Mungkin, aku tak tau apakah mama bangga punya anak sepertiku. Maaf ma, untuk semua, maaf. Ku tak bisa berjanji banyak, berjanji untuk kehidupan yang mewah kelak, untuk kesuksesan kelak. Aku hanya bisa berbuat seperti ini. Ku tak tau apakah mama bangga denganku. Jika mungkin, aku akan berusaha membahagiakanmu didunia. Jika tak mungkin, ku hanya bisa mendoakanmu. Ku ingin menjadi anak shalehah yang senantiasa mendoakan bundanya. Aku mencintaimu karena Allah, ma.
Berdasarkan penelitian Keys dkk, Seven Countries Study, 1970, ditemukan bahwa ada hubungan makanan dengan penyakit jantung. Asupan tinggi lemak jenuh, tinggi kelesterol, rendah lemak tak jenuh berisiko menderita penyakit jantung, seperti infark miokard dimana asupan ini akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah sehingga terjadi aterosklerosis. JIka aterosklerosis terjadi pada pembuluh darah di jantung, seperti arteri koroner, maka akan berujung pada infark miokard dan juga dapat berujung pada gagal jantung.
Pada Masyarakat tropis, terutama asia tenggara, sejak nenek moyang hingga sekarang, kelapa merupakan salah satu sumber lemak terbesar dalam asupan makanan sehari-hari dan bagian dari food culture. Sedangkan pada negara barat, lemak hewani merupakan sumber lemak terbesar. Dari ilmu gizi, kelapa dan lemak hewani mengandung asam lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan akan berisiko aterogenik dibandingkan asam lemak tak jenuh. Terhadap profil darah, asam lemak jenuh yang memiliki C12 sampai C 16 dapat meningkatkan LDL dan HDL. Peningkatan LDL (biasa disebut kolesterol jahat) inilah yang berhubungan dengan hiperlipidemia.
Berdalih pada hal diatas, masyarakat tropis mulai mengurangi konsumsi kelapa, seperti mengganti konsumsi santan dengan susu, dll. Padahal, pada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat minang, kelapa merupakan makanan yang penting. Sejak nenek moyang, masyarakat minang telah mengkonsumsi kelapa untuk bertahan hidup, menghabiskan bahkan berpuluh-puluh kelapa untuk membuat santan pada rendang atau gulai untuk dikonsumsi sehari-hari atau pada acara besar. Bahkan jika tidak ada lauk, memakan nasi dengan santan atau kuah gulai saja sudah terasa nikmat. Hingga, para penelitipun tertarik untuk meneliti lebih lanjut apakah mengkonsumsi kelapa atau santan merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskuler.
Menariknya, beberapa penelitian menyimpulkan bahwa dalam mengkonsumsi lemak jenuh, walaupun memiiki struktur yang sama dengan lemak hewani, ternyata minyak kelapa, virgin coconut oil, mempunyai efek protektif, anti mikroba dan anti virus. Minyak kelapa yang mengandung 90% asam lemak jenuh, 50% nya mengandung asam lemak dengan C<12. Asam lemak dengan C< 12 inilah yang disebut asam lemak laurat yang memilki efek efek protektif, anti mikroba dan anti virus. Selain itu, ternyata, dalam mengkonsumsi santan, kadar asam lemak yang diterkandung lebih sedikit karena dalam santan lebih banyak mengandung air dari pada lemak itu sendiri. Berdasarkan penelitian Prof. Dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MSc, PhD, ahli gizi Fakultas Kedokteran Unand, ditemukan bahwa pada masyarakat minang, tidak terdapat perbedaan konsumsi kelapa pada penderita PJK dan orang sehat. Oleh karena itu, bagi penderita penyakit jantung, lebih aman mengkonsumsi kelapa atau santan sebagai sumber lemak tubuh dibandingkan mengkonsumsi lemak hewani, minyak goreng, atau makanan yang mengandung kolesterol lainnya, tetapi tentu dengan jumlah yang tidak berlebihan.
Jadi tak ada alasan lagi bagi kita, masyarakat minang untuk menjauhi, meninggalkan atau bahkan membenci kelapa atau santan. Kalau boleh dikatakan, kelapa yang merupakan sumber kehidupan nenek moyang masyarakat minang yang membuat mereka survive sehingga melahirkan kita sebagai generasi penerus, ternyata aman dikonsumsi sebagai sumber lemak tubuh dbanding lemak hewani atau makanan berkolestorel tinggi. Hidup kelapa!!! (KP Nutrisi pada Penyakit Kardiovaskuler , Gizi Klinik)