Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juli 2014

JANGAN GALAU WAHAI CALDOKKU....

(senyam-senyum baca tulisan ini. Tulisan yang lahir diantara tumpukan skripsi. Tulisan yang bikin...ngena banget nih...Semoga senatiasa menyemangati... Jika tulisan ini buruk, sungguh maaf, karena memang ia lahir saat iman ini turun, ia lahir saat fikiran ini tak jernih. Namun, ketika dibaca, walaupun buruk, ia bermakna, memberikan sensasi berbeda..semangat Alin...)

Denger temen bakalan lulus, wisuda, kerja, atau malah nikah...
Eh, malah galau...
Berharap cepetan lulus juga,
Cepetan wisuda juga,
Cepetan kerja juga,
Atau malah ikutan kebelet kawin juga..

Aduh, caldokku...
Dimana rasionalitasmu,
Dimana idealismemu untuk jadi dokter.
Bukan tak boleh berharap demikian.
Tapi liat situasi dong.
Kuliah masih lama, kerja juga perlu UKDI dulu,
Boro-boro nikah, ngebahagian ortu aja belum.

Aduh, caldokku...
Jangan galau dong...
Galau disiang bolong, ntar kesambet loh..
Nikmatin aja semua...
Setiap rangkaian waktu yang berjalan,..
Toh, ntar bakalan lulus juga, bakalan wisuda juga, bakalan dinas juga, dan bakalan nikah juga.
Aamiin Allahumma Aamiin

Aduh, caldokku...
Masih banyak yang bisa dilakuin selain galau...
Belajar kek...
Tugas-tugas...
Jalan2 kek..
Organisasi..
Trus dakwah dikemanain?

Jangan galau caldokku...
Galau klo ortu kadang nanya..
Kapan lulus...
Kapan wisuda...
Kapan dinas...
Kapan nikah...
Kapan dong ibu nimang cucu...
Dan masih banyak kapannya...
Tapi...cepetan buang tuh galau..
Sembari menyabarkan diri dan ortu..
Usaha dan doa juga dong..
Jangan berlarut-larut sama galaunya...

Terakhir..
Jangan galau wahai caldokku...
Jangan galau...

Sabtu, 30 November 2013

Puisi : Untukmu Calon Dokter ku

reblogged from ineztiani

Wahai calon dokterku,
Tahukah engkau…?
Menjadi dokter adalah pilihan yang hebat…
Karena ia begitu mulia dan sangat berharga dimataku…
Segala talenta terpatri dalam jiwanya
Mulai dari komunikasinya yang menghangatkan jiwa,
Keahlian seorang detektif dalam diagnosanya,
Jiwa seorang guru yang memberikan pengertian kepada pasiennya,
Kemampuan persuasifnya…
Kesabaran, kegigihan, keuletan, dan tanggung jawab yang diembannya…
Sifat rela berkorbannya, keikhlasannya… dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan…
Terimakasih calon dokterku, karena saat ini, engkau belajar, memahami, mencerna, dan mencari segala sesuatu di kedokteran hanya untukku… calon pasienmu
Tenagamu engkau sumbangkan, lelahmu dalam belajar selalu berusaha engkau tekan, kantukmu engkau lawan…
Dan semua engkau lakukan hanya untuk memberikan yang terbaik bagiku… pasienmu kelak…
Sungguh caldokku, aku tidak tahu harus membalas apa… sungguh mulianya dirimu…
Dan ku yakin engkau akan berkata “tidak, tidak usah dibalas, dan saya hanya manusia biasa, hanya Sang Pencipta yang berkuasa”.
Aku disini selalu berharap engkaulah yang dipilih sang pencipta untuk merawatku kelak… layaknya seperti manusia, ketika aku sakit, ketika aku membutuhkan semangat untuk hidup, dan ketika aku butuh akan perhatian…
Maka dari itu, tersenyumlah…  :)
Aku senang melihatmu tersenyum… :)
Karena dengan senyummu saja, sakit yang kurasa terasa sirna…

Calon dokterku,
Sudah banyak dokter yang tidak mengerti tugasnya, melupakan hatinya, dan tidak mengakui bahwa betapa mulianya ia…
Dan karena itulah aku selalu menunggumu karena aku percaya kelak engkau tidak seperti mereka
Dan karena aku percaya engkau adalah seorang dokter yang berbeda…
Seorang dokter yang akan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati
Seorang dokter yang selalu berusaha sekuat tenaga demi keceriaan pasiennya meski Yang Maha Kuasa menggariskan sesuatu yang bernama takdir padanya.
Aku ingin segera memanggilmu dokter. Dan bukan calon dokter lagi. Bukankah engkau juga ingin segera mendengarnya?
Namun, aku mengerti…. Pelajaran itu tidaklah semudah yang mereka bayangkan…
Maka, berjuanglah caldokku…
Aku, calon pasien pertamamu… akan selalu menantimu…
Aku akan terus memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dapat bertemu denganmu dan mewujudkan impianku untuk menyapamu dengan sebutan ‘dokter’ di ruang praktekmu pagi itu…. :)
Tertanda..
Calon Pasien Pertamamu – Ibu yang selalu merindukanmu

Minggu, 03 Februari 2013

Cinta Allah : La Tahzan (puisi)

Oleh : Nurfazlina, 
diterbitkan dalam Dawa' Buletin FSKI BEM KM FK UNAND| Edisi Special/TH. XXIV/Februari 2013.



Ketika laut bergemuruh,
Ombak menggunung,
Angin bertiup kencang,
Air menggenang dimana-mana,
La Tahzan,
Cinta Allah selalu ada
Untuk ummatNya yang beribadah padaNya
Untuk ummatNya yang berdoa padaNya
Untuk ummatNya yang mencintaiNya

Ketika musibah menimpa,
Bencana dan tragedi melanda,
La Tahzan,
Cinta Allah selalu ada
Untuk ummatNya yang beribadah padaNya
Untuk ummatNya yang berdoa padaNya
Untuk ummatNya yang mencintaiNya

Ketika berjalan ditengah gurun pasir tersesat,
Kendaraan tak tahu lagi jalan yang benar, dan
Kafilah sudah kebingungan menentukan arah lajunya,
La Tahzan,
Cinta Allah selalu ada
Untuk ummatNya yang beribadah padaNya
Untuk ummatNya yang berdoa padaNya
Untuk ummatNya yang mencintaiNya

Ketika semua cara telah dicoba,
Ternyata tak ada celah untuk keluar.
Ketika semua jalan telah menjadi demikian sempit,
Semua yang dicita-citakan buntu, dan
Semua jalan pintas telah pupus
La Tahzan,
Cinta Allah selalu ada
Untuk ummatNya yang beribadah padaNya
Untuk ummatNya yang berdoa padaNya
Untuk ummatNya yang mencintaiNya

Ketika hidup terasa berat,
Tak tau tempat mengadu,
Tak tau tempat bertanya,
Tak tau tempat bercerita,
La Tahzan,
Cinta Allah selalu ada
Untuk ummatNya yang beribadah padaNya
Untuk ummatNya yang berdoa padaNya
Untuk ummatNya yang mencintaiNya

Ketika air mata menetes,
Ketika hati gundah,
Pikiran kalut,
Dunia kelam,
La Tahzan,
Cinta Allah selalu ada
Untuk ummatNya yang beribadah padaNya
Untuk ummatNya yang berdoa padaNya
Untuk ummatNya yang mencintaiNya

La Tahzan,
Cinta Allah selalu ada
Untuk ummatNya yang beribadah padaNya
Untuk ummatNya yang berdoa padaNya
Untuk ummatNya yang mencintaiNya

Rabu, 22 Agustus 2012

Surat Cinta Untuk Ramadhanku

oleh : Nurfazlina

Kekasihku…
Sungguh aku rindu karena sudah setahun kita tak bertemu,
Sungguh aku masih ingat masa-masa satu tahun lalu,
Sungguh aku akan bersyukur jika aku masih bisa bertemu denganmu,
Sungguh aku akan bahagia jika masih bisa bersamamu ,
Sungguh aku tak ingin menyia-nyiakanmu
Sungguh aku akan menyambutmu, menemanimu, mengisi hari-hari bersamamu.

Kekasihku…
Alhamdulillaah,
Allah mengijinkanku untuk bertemu denganmu lagi tahun ini,
Allah memberiku kesehatan untuk menyambutmu,
Allah memberiku ni’mat untuk menemanimu, mentraktirmu sahur dan berbuka, mengulang bahkan berusaha lebih beribadah bersamamu.

Kekasihku…
Aku masih ingat satu tahun lalu bersamu,
Dipagi buta, ku bangun bersama keluarga atau terkadang sendiri untuk sahur,
Ku melahap rezeki dariNya walau terkadang nafsu makanku mulai hilang, mungkin karena kantuk,
Mata ini berusaha untuk terbuka dengan terkadang hati ini kesal karena ingin tidur,
Atau aku tertidur tak bisa sahur atau memilih tak bangun karena enaknya tidur,
Tak beberapa menit kemudian, imsakpun mulai menyapa,
Ku teguk air agar tak haus disiang hari dan agar pencernaan itu lancar,
Sebenarnya aku ingin mengaji seperti muslimah lain untuk menunggu azan atau bersegera wudhu’ untuk ke mesjid, namun terkadang mata memilih untuk menutup dan betapa enaknya tubuh ini ditutupi selimut.
Tapi aku bersyukur, kali ini tubuh bisa menghirup udara subuh yang bersih dengan bergegas menuju mesjid
Kemudian usai subuh bersiap kembali kerumah untuk tidur lagi atau untuk bersiap ke sekolah, kampus, atau kerja.
Dari terbit fajar hingga terbenam matahari, qiyam itu ku jalani,
Terkadang lapar, haus, emosi, nafsu, dan lelah mengganggu,
Namun, ibadah harus tetap ku jalani untuk membahagiakanmu,
Dalam Dhuhaku, Tadarusku, Zhuhurku, Zikirku, Asharku, Kerjaku, Sekolahku, Kuliahku ku abdikan hanya karena aku bahagia menyambutmu, bahagia atau berkah yang kali ini kau beri untukku, karena kau menjanjikan hadiah yang indah, cantik, dan berlipat yaitu pahala, syurga, dan ampunan dosa.
Tak Terasa, Sirine atau bedukpun berbunyi, aku bersyukur masih bisa melahap rezeki dari Allah dengan secukupnya tak lebih jadi nafsu karena maghrib telah menantiku,
Terkadang makan dulu atau menunda untuk makan karena ingin secepatnya ke mesjid, isya, taraweh, witir, mendengar ceramah, mengunjungi rumah Allah,
Pulang malam memang melelahkan dengan mata mulai mengantuk tapi bintang di langit sungguh memelekkan mata,
Sampai rumah, Tubuh lansung menuju kasur atau memilih membaca Al-qur’an atau memilih makan.
Aku selalu berdo’a agar terbangun di tengah malam untuk tahajud, bermunajat padaNya,
Aku ingin mencari lailatulqadarNya,
Hingga sahurpun lagi-lagi datang.
30 haripun berlalu,
Sungguh aku bahagia karena idul fitri akan datang
Tetapi aku sedih karena dirimu akan pergi dari hatiku, dari hariku, kerena mungkin saja tahun depan kita tak lagi bertemu.
Aku menyesal karena terkadang aku mengecawakanmu 30 hari lalu, tidak benar-benar memanfaatkan waktu bersamamu,
Aku selalu berusaha agar kepergianmu mengajarkanku untuk menunggumu dengan istiqamah beribadah, mempercantik iman ini,
Aku selalu berdo’a agar masih bisa bertemu denganmu lagi dan tak menyia-nyiakanmu lagi karena mungkin saja mati lebih dahulu menjemputku sebelum kamu datang lagi dan kita bersama lagi.

Kekasihku…
Allah mendengar do’aku,
Aku bisa bertemu denganmu lagi, memulai kebersamaan kita lagi 30 hari kedepan,
Aku berikhtiar agar kita bisa bersama dalam ibadah pada Allah, dalam haru karena pahala, ampunan dosa dan syurga telah menunggu, dalam indahnya ukhuwah dan cinta Allah,
Aku berikhtiar agar sahur dengan syukur dan lahap bersamamu Ramadhan,
Agar shalat wajib, shalat sunnah, dan shalat malam itu tak bolong lagi seperti donat,
Agar tadarus dan Al-qur’an itu menemaniku,
Agar zikir senantiasa menemani dalam bekerja, kesawah, ke pasar, ke kampus, ke sekolah,
Agar berbuka dengan sederhana dan dalam syukur,
Agar ceramah ustad di mesjid, ceramah ustad maulana, ceramah mamah dedeh, yusuf mansur, dll bisa ku dengar dan memperbaiki ibadahku,
Agar zakat, infak, dan sedekah bisa ku tunaikan karena harta ini milik Allah, karena saudaraku yang tak beribu, berayah, yang cacat, yang tak punya rumah, yang hari ini tak bisa makan, yang hari ini tak punya baju, yang hari ini ditimpa bencana dan musibah bisa tersenyum dan juga beribadah pada Allah
Agar lailatulqadar menjadi hadiah bertemu dengamu, Ramadhanku.

Kekasihku…
Ramadhanku…
Bersamamu aku beribadah padaNya, bermohon syurgaNya, takut nerakaNya.
Kekasihku…
Ramadhanku…
Ternyata, tak terasa 30 hari pun berlalu,
Dalam takbir berkumandang, kau beranjak meninggalkanku lagi dan lagi,
Ku hanya mencatat dan menyimpan kenangan bersamamu satu bulan lalu, Ramdhan 1433 H
Beberapa ikhtiar diatas mungkin telah terpenuhi,
Tapi, bersamamu tak kan terganti bahkan aku merasa merugi,
Aku masih ingat hari jum’at atau sabtu, ku memulai berpuasa,
Alhamdulillaah bisa sahur dan berbuka bersama keluarga untuk setengah ramadhan awal,
Menjahit, memasak, menjalani aktivitas bersama mama
Malamnya, pergi taraweh juga bersama mama,
6 Agustus 2012, ku memulai sahur sendiri di kamar kos. Tak ada lagi canda tawa mama, papa, zikri, dan abang,
Paginya, memulai aktivitas kuliah yang tetap saja padat walau sedang berpuasa,
Tapi, Ramdhan tahun ini sungguh berbeda, tak hanya menjadi Pencari Ta’jil Gratis dengan ikut ngabubutir bareng Al-Qur’an di mesjid kampus, namun juga menjadi Penyedia Ta’jil Gratis bersama kakak-kakak dan teman-teman akhwat lainnya, sungguh menyenangkan,
Malam minggu pun menjadi tak terlupakan, i’tikaf pertama  dan satu-satunya yang bisa ku jalani di mesjid Semen Padang karena begitu padatnya agenda. Subhanallaah, tangisan pecah saat tahajud bersama,
Minggu malam menyusul dengan cerita bersama saudara-saudari yang sudah tak berayah dan beribu. Hatiku pilu ketika mimpi-mimpi mereka diucap dengan yakin, hatiku pilu ketika tubuh-tubuh kecil itu patuh pada pembinanya, apakah mereka mengerti dan sadar bahwa mereka hanya sebatang kara? Namun, senyum mereka masih ada dan optimis, Semoga banyak donatur yang sadar bahwa mereka ada.
Hari-hari mendekati kepergian Ramadhan menjadi biasa-biasa saja, dengan rutinitas ibadah yang diusahakan tak bolong,
Aku ingin i’tikaf lagi, tapi tugas kuliah menggunung mendekati liburan, agenda if’thor jama’i pun ada setiap hari, bahkan nenekpun mengundang untuk bersilaturrahmi, semoga ramdhan depan bisa i’tikaf lagi. Amiin Ya Rabb.
Kini, ramadhan telah benar-benar pergi, ku berharap semoga amal ibadahku di ramadhan tahun ini diterima disisiNya walau tak sempurna dan tak luarbiasa, ku berharap bisa istiqamah beribadah padaNya dalam penantian menunggu Ramadhan depan, Kekasih yang begitu didamba.

Minggu, 19 Agustus 2012

Tuhan, Ku Mohon...


Tuhan, ku mohon bisa membuang rasa ini karena ku hanya ingin menjadi muslimah karenaMu, hanya ingin menjadi istri shalehah karenaMu, hanya ingin menjadi ibu yang baik karenaMu
Tuhan, ku mohon hilangkan rasa ini dari hatiku karena ku ingin ikhlas menerima jodoh dari lauhul mahfizhMu kelak, ku tak ingin ia cemburu, ku ingin rasa ini hanya untuknya kelak
Tuhan, ku mohon bisa menjaga hatiku, menjaga pandanganku, menjaga kehormatanku agar ku bisa mencintai dan dicintai dengan ikhlas oleh jodoh dari Lauhul MahfuzhMu kelak
Tuhan, ku mohon jangan ada suka dan cinta dihati ini pada ikhwan manapun agar ku bisa menerima dan mencintai jodoh dari Lauhul MahfuzhMu kelak dengan sepenuh hati, siapapun itu.
Tuhan, ku mohon beri kemudahan agar bisa istiqamah berikhtiar menjadi terbaik dimataMu, menjadi muslimah terbaik dimataMu, menjadi istri yang terbaik dimataMu dan menjadi ibu yang baik dimataMu agar jodohku dari Lauhul MahfuzhMu adalah sosok yang senantiasa menjadi terbaik dimataMu, sosok muslim terbaik dimataMu, sosok suami terbaik dimataMu dan sosok ayah terbaik dimataMu sehingga keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah itu menjadi dambaan.

Jumat, 04 Mei 2012

Satu Tubuh, Aku bertahmid padaNya

oleh Nur Fazlina pada 4 Mei 2012 pukul 13:10 ·
 
 
Awalnya, paru-parumu masih bertugas seperti biasa,
menyaring setiap udara yang masuk lewat hidung, tenggorokan, bronkus, dan bronkiolus,
menyalurkan oksigen ke paru-paru,
kemudian menerima karbon dioksida untuk dibuang kembali

Awalnya, jantungmu masih berdetak dan memompa darah,
dan dengan bantuan pembuluh darah, darah dari jantungmu pun dialirkan ke seluruh tubuh,
hingga oksigen yang dibawa darahpun sampai ke jaringan untuk membantu metabolisme,
agar nutrisi itu ada dan tubuhmu tak lemah,

Awalnya, tulang dan ototmu berkontraksi secara ritmis karena oksigen tadi,
dan saraf menstimulus ototmu berkontraksi,
tubuhmu pun bisa bergerak secara aktif, makan, munim, belajar, bekerja, dan beribadah padaNya

Awalnya, matamu masih menangkap cahaya sinar siang ini dan gelap gulitanya malam,
hidungmu masih membau lezatnya aroma masakan sang bunda,
kulitmu masih merasakan dingin kala malam tiba dan keringatpun mengucur di tengah terik,
bibirmu pun masih membantu sang hidung membedakan rasa masakan,
dan berucap setiap huruf menjadi rangkaian kata, setiap hijaiyah menjadi FirmanNya,
telingamu pun masih mendengar panggilanNya

Awalnya, mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus mu bekerja sama untuk mencerna makanan, mengabsorbsi nutrisi dan obat, serta meekskresi zat buangan

Awalnya, hormon-hormon dari kelenjar endokrinmu masih bekerja untuk mengatur fisiologis tubuhmu,
mengatur kadar cairan tubuhmu, mengatur kadar glukosa tubuhmu,
bahkan mengatur pertumbuhan sel-sel tubuhmu,

Awalnya, ginjal, ureter, kantung kemih, dan uretra dari tubuhmu bekerja sama untuk, mengatur keseimbangan cairan dan asam-basa dalam tubuhmu,
hingga urin itu keluar sebagai zat buangan,

Awalnya, tubuhmu begitu menarik karena ciri-ciri seksual sekundermu,
apakah rohmu ditempatkan pada tubuh seorang pria,
apakah rohmu ditempatkan pada tubuh seorang wanita,

Awalnya....
Sungguh, ilmu ku masih belum mampu mengungkap segala
ingatanku masih belum mampu menyebut semua
Satu tubuh untuk ibadah padaNya
Satu tubuh, Aku bertahmid padaNya

Tapi, bayangkan...
Bila paru-parumu tak mampu lagi menampung udara dan ventilasi udara pun tak berjalan,
Bila jantungmu tak berdetak secara ritmis, darah tak mengalir deras, oksigen tak membantu metabolisme, dan tubuhmu lemah
Bila tulangmu mulai keropos, ototmu mulai aus
Bila matamu mulai kabur, hidungmu mulai tak berfungsi, kulitmu mulai keriput, bibirmu terbata, dan telingamu mulai tuli
Bila mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anusmu tak berfungsi sempurna
Bila hormon-hormonmu tak ada atau tak ada reseptornya
Bila ginjal, ureter, kantung kemih, dan uretramu tak berfungsi sempurna
Bila tubuhmu tak menarik dan rohmu ditempatkan pada tubuh meragukan

Bila......
Bila satu tubuh senantiasa bersyukur sebisanya,
beribadah sekuatnya
Satu tubuh untuk ibadah padaNya
Satu tubuh, Aku bertahmid padaNya

Hingga...
Satu tubuh menemui ajalnya,
Roh pun mulai meninggalkannya,
Satu tubuh, Aku bertahmid padaNya
Untuk terakhir kalinya

Entri Terbaru

Tokoh Indonesia dan Nilai Berakhlak