Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2018

Cerita Intenship part 3 : Kehamilan kedua (sebelumnya abortus)

Stase berganti : Puskesmas
Alhamdulillah, setelah kosong 3 bulan, test pack positif lagi. walau belum berani USG lagi (trauma), tapi bawaannya yakin aja, sujud syukur. Kali ini janji benar-benar jaga. 
Mulai dari minum suplemen bumil, susu bumil, istirahat, dll bahkan memutuskan cuti karena kadang mabok kali dan ngurangi perjalan jauh dan kecapean dulu.

Tapi kali ini rasanya Allah nguji kali : mual sering, heartburn, GERD, pernah demam, pernah mencret2, pusing, lemes, suka tersinggung, bawaan nangis aja, takut, cemas, dll. Semua jadi satu. 
Innallaaha maashshobiriin...
Rabbi lazarni fardan wa anta kharirul waaritsiin.. Aamiin

Rabu, 29 Agustus 2018

Cerita Internship part 2 : Abortus dan dikuretase

Akhhirnya,,, internship itu dimulai
Aku yang sebelumnya memutuskan untuk tidak hamil dulu sebelum mulai internship, akhirnya memulai program hamil. Walau kadang sedih, teman-teman yang lain sudah hamil bahkan sudah punya anak.

Dimulai dari stase igd
Stase yang melelahkan dan menegangkan menurutku
Setelah melalui dua bulan stase igd, aku pun hamil. Karena sibuk dengan "karier" ini, aku tak terlalu care dengan kehamilanku. Telat konsumsi suplemen bumil dan suka ngelanggar pantangan ex, katanya jangan naik motor, jangan berhubungan seksual dulu, jangan stress, jangan kerja berat, dll. Dan... hampir semua aku langgar. Astaghfirullah... Kehamilanku hanya bertahan dua bulan.

Stase pun berganti
Tetap setelah satu minggu di stase bangsal, aku memutuskan USG ke senior dr. Sp.OG tempatku iship, Alhamdulillah sudah tampak kantong, dan usia 6-7 minggu. namun belum ada DJJ. Kata dokternya kemungkinan tunggu seminggu lagi baru ada DJJ.
Satu minggu kemudian, aku mengalami flek. Memutuskan untuk cek ke Sp.OG dan diUSG, di beri obat, dan dianjurkan istirahat.
Namun, aku yg masih memikirkan "karier" ini memutuskan tetap jaga sore, tepat masuk jaga bangsal pagi.
Alhasil. TIdak hanya flek lagi, ditambah darah. Aku segera ke igd RS Swasta dan dirawat, diusg : masih ada kantong. disuruh istirahat total. hanya berbaring dan tidak boleh bergerak. makan, minum, BAB, BAK ditempat tidur. Sungguh apakan ini ujian, cobaan, atau azab. Aku hanya berserah. kadang nyeri dan perdarahan masih terjadi. 3 hari dirawat, di usg lagi. Sudah tidak ada kantong kehamilan. dan akhirnya aku dikuretase. Ini kehamilan pertama dan aku dikuretase. Post kuretase tidak boleh hamil dulu paling kurang 3 bulan.
Astaghfirullaah.
Innallaaha maashabiriin

Selasa, 08 Mei 2018

Cerita Internship...part 1

Finally, after waiting for so long...

Pada hari itu, tanggal 18 oktober 2017 pukul 13.00 WIB pemilihan wahana iship untuk lokal dibuka. Satu hari sebelum hari ini, aku bingung dimana aku bisa melakukan pemilihan, di warnet? pake internet kantor uda? dan... tiba-tiba uda harus ke luar kota hari-H ini, sehingga aku harus mencari warnet disekitaran kontrakan saja. Tepat saat login, server down, aku pun gemetaran, ingin menangis rasanya, berteriak. Namun, apa daya, ini hanyalah warnet biasa di sebuah kota kecil, bukan seperti warnet di pulau jawa atau dikota besar lainnya yang dibooking kebanyakan teman ku lainnya. Aku pun menelpon uda sambil terisak. Syukurlah teman yang menemani uda ke luar kota membawa laptop. Hanya dengan terathering dari ponsel ke laptop, uda bisa login dan dan lansung mengklik wahana kami inginkan.


Alhamdulillah... akhirnya, aku bisa iship, setelah melewatkan satu ronde pemilihan wahana karena ingin memilih wahana yang sekota dengan tempat uda bekerja.

Dan aku pun memulai dengan stase terlelah sepanjang perishipan, yaitu IGD

Jumat, 06 Januari 2017

Manajemen Stress, Makanan bergizi, Olahraga teratur?



Lama tak menulis... Terakhir menulis tentang menyambur ramadhan lalu. Tepat selesai siklus jiwa. Lagi-lagi klo stress ujian muncul ide buat nulis atau ngerjain hal ini. � Ketika temen2 yang lain mampu membahas ratusan soal. Ku hanya merangkak seperti kura-kura. Kata temen : “dipaksain kak”.. Tapi boleh gag nulis dulu.���

Akhirnya aku sampai pada tahap ini �. Rotasi dua. Mencari pengalaman 10 minggu di dua puskesmas : Belimbing dan Nanggalo. Ternyata kerja di Puskesmas stressnya gag setinggi di Rumah Sakit…���

Teringat penjelasan dan diskusi dengan dokter preseptor Puskesmas beberapa hari yang lalu. Kami, dokter muda. Sering memberi edukasi pada pasien tentang manajemen stress, makanan bergizi, dan olahraga teratur. Tapi kalau ditanya lebih lanjut dan disuruh jelasin jadi agak terbata-bata. �

Pertama : Manajemen stress Kalau biasanya bilang ke pasien “kurangi stress ya pak, bu”..nah loh.. Gimana cara ngurangi stress kalo stressornya aja masih ada �.. Ibuk preseptor puskesmas pun berbagi ilmunya. Ada empat cara manajemen stress. yaitu ventilasi (menceritakan masalah kepada orang lain), relaksasi (menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya), rekreasi (mengalihkan ke hobi seperti menulis, membaca, menonton, travelling,dll), dan meningkatkan iman dan taqwa. Yuuk di coba satu-satu.

Kedua : makanan bergizi Apa sih yang dimaksud makanan bergizi? Kalau dulu disebut empat sehat lima sempurna. Kalau sekarang lebih ke gizi seimbang. Cukup karbohidrat (nasi, kentang, ubi-ubian,dll) , protein dan lemak (telur, ikan, ayam, dll), serat, vitamin, mineral (sayur, buah,dll), air putih, minum susu "jika suka dan sanggup membeli". Perlu ditekankan kata “cukup” ,gag kurang dan gag berlebihan. Gag perlu mahal juga. Sesuai kemampuan aja dan bervariasi tentunya ���

Ketiga : olahraga teratur. Ini merupakan hal yang agak sulit. Terkadang kita berfikir bahwa aktivitas sehari-hari seperti mencuci, memasak, bergerak sudah dianggap olahraga. Padahal kaidah olahraga itu adalah benar (pemanasan, inti, dan pendinginan), lama minimal 30 menit, minimal 3 kali seminggu, dan sesuai (sesuai dengan kondisi fisik dan tidak membosankan. Intinya menyenangkan �)

Itu sedikit ilmu yang didapat dan coba share biar ingat. Yuuk sama-sama saling koreksi jika ada yang kurang tepat..Yuuk sama-sama berusaha tuk diaplikasikan ���

Sabtu, 01 November 2014

Ceritaku : Surgery, 2nd Junior Clerkship

Surgery atau bedah...

Kebanyakan teman2 grup C dan D yanh sebelumnya yg telah mendapat giliran JC bedah berpendapat bahwa JC bedah adalah JC yang paling melelahkan, selain karena banyak cabang2 nya( Bedah anak, Bedah TKV, Bedah Saraf, Bedah Urologi, Bedah Plastik, Bedah Orthopedi, Bedah onkologi, dan Bedah Digestive) , tetapi juga karena semua residen dan konsulen (preseptor) sibuk OK, sibuk Jaga, sibuk terbang keluar negeri untuk ikut seminar ilmiah dll sehingga kami, mahasiswa JC sering di PHP-in hingga jam 12 malam pun.
Disamping semua kelelahan bathin ini diPHP-in, ternyata ada senyum untuk materi yg luarbiasa, kasus yg menarik, dan pasien yg senantiasa kooperatif untuk berbagi informasi tentang penyakitnya. Tak lupa, ada senyuman untuk residen dan preseptor yang keren2, pintar2, dan ganteng2 (karena bedah umumnya cowok2 :-) )

Minggu Pertama : Bagian Bedah anak dan Bedah TKV.
Dibagian ini, kami kelompok 4 mendapat case atresia ani dan pneumotoraks. Sikecil yg mengalami atresia ani ini sangat lucu. Sayangnya, beberapa minggu setelah kami memeriksanya, ia.harus mengikuti operasi. Bapak yang mengalami pneumotoraks yg kami periksa menceritakan bahwa ia sebelumnya terkena trauma tajam pada dada kirinya.

Minggu Kedua : Bagian Bedah Saraf dan Bedah Urologi.
Di bagian ini, kami mendapat kasus perdarahan subdural (kata residennya dan berdasarkan pemeriksaan CT Scan kepala), namun dalam pembahasan bersama preseptor, dari anamnesis disimpulkan fraktur basis cranii. Untuk bedah urologi, kami mendapat kasus BPH. Sangat disayangkan, diantara kami tidak melalukan RT. Kata abang residennya, nanti pas coass aja :( ...

Minggu Ketiga : Bagian Bedah Plastik dan Bedah Orthopedi.
Kami mendapati seorang gadis kecil dengan luka bakar pada muka dan salah satu tangannya. Dari anamnesis, anak ini mengatakan bahwa ia terkena api ketika main masak2an bersama temannya. Kini muka dan salah satu tangannya di verban. Untuk, bedah orthopedi, kami mendapati seorang remaja laki-laki (siswa SMK) berbaring dengan traksi skeletal di salah satu kakinya. Dari anamnesis, diketahui bahwa ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan fraktur femur sinistra.

Minggu keempat : Bagian Onkologi.
Pada bagian ini, kami mendapat pasien wanita yang mengalami Ca Mamae rekurens. Setahun sebelumnya ia telah mendapat Operasi dan diikuti dengan Kemoterapi.

Minggu kelima(terakhir) : Bedah Digestive.
Pada bagian ini, kami mendapati seorang bapak dengan benjolan di.kedua lipat pahanya. Dokter mendiagnosa ia menderita hernia.inguinalis dextra sinistra.

Demikian ceritaku tentang JC bedah.
Last,
Good bye JC Bedah...
Welcome JC Obgyn



 

Sabtu, 30 Agustus 2014

Ceritaku : Pediatric, 1st junior clerkship

Sebenarnya, JC atau junior clerkship sudah dimulai sejak 2 minggu yang lalu. Namun, karena 2 minggu awal berupa pembekalan dan seperti kuliah biasanya, jadi terlihat kurang berkesan. Nah.. Minggu ini kurasa cukup berkesan. Kenapa?

Pertama, aku kebagian JC di bagian anak (pediatric). Bagian yg katanya cukup serem karena preseptornya galak-galak dan pinter abis, mempertanyakan kepiawaian berkomunikasi dengan anak-anak, dan keahlian dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik karena anak bukanlah dewasa kecil.

Kedua, untuk pertamakalinya dalam 5 minggu kedepan. Kami (aku dan teman se tim ku) bisa lansung ketemu pasien anak. Alhamdulillah, anaknya sudah gede (10 tahun), kooperatif dan cerdas sehingga lansung bisa menerapkan jurus2 anamnesis dan pemeriksaan fisik. Namun, sungguh sangat disayangkan, kami belum siap dalam menggunakan jurus2 tersebut sehingga hasilnya minimal sekali. Nasihat yg dipetik : kedepannya lebih siap mengaplikasikan ilmu dalam anamnesis dan pemeriksaan fisiknya ya.. alias BELAJAR…

Ketiga, kamipun bisa membuat status pasien walau sangat banyak kekurangan karena anamnesis dan pemeriksaan fisiknya sangat minimal. Berikut status pasiennya :
“Seorang anak laki-laki (10 tahun) dibawa ibunya ke dokter karena sembab sejak 4 hari yg lalu, berawal dari kelopak mata, lalu kedua kaki, dan diikuti seluruh tubuh kecuali kedua lengan. Anak tidak demam dan tidak ada sesak. Pola makan teratur dan gizi cukup. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Dalam 6 bulan terakhir, pasien pernah dirawat karena Sindroma Nefrotik dan mendapat steroid dan pernah remisi…………”

Terakhir, salah satu kata-kata preseptor yang selalu teringat dan memotivasiku untuk bersungguh-sungguh untuk siklus anak dalam JC ini adalah “untuk yang perempuan, kalian kan akan jadi ibu. Ilmu ini akan sangat berguna. Kita akan tahu apakah pertumbuhan dan perkembangan anak kita baik atau tidak, apakah anak kita cukup imunisasi atau tidak, dsb”

So… Hamasah !!!


 

 

Sabtu, 30 November 2013

Kedokteran : Hidup kelapa!!! :D


image
Berdasarkan penelitian Keys dkk, Seven Countries Study, 1970, ditemukan bahwa ada hubungan makanan dengan penyakit jantung. Asupan tinggi lemak jenuh, tinggi kelesterol, rendah lemak tak jenuh berisiko menderita penyakit jantung, seperti infark miokard dimana asupan ini akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah sehingga terjadi aterosklerosis. JIka aterosklerosis terjadi pada pembuluh darah di jantung, seperti arteri koroner, maka akan berujung pada infark miokard dan juga dapat berujung pada gagal jantung.

Pada Masyarakat tropis, terutama asia tenggara, sejak nenek moyang hingga sekarang, kelapa merupakan salah satu sumber lemak terbesar dalam asupan makanan sehari-hari dan bagian dari food culture. Sedangkan pada negara barat, lemak hewani merupakan sumber lemak terbesar. Dari ilmu gizi, kelapa dan lemak hewani mengandung asam lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan akan berisiko aterogenik dibandingkan asam lemak tak jenuh. Terhadap profil darah, asam lemak jenuh yang memiliki C12 sampai C 16 dapat meningkatkan LDL dan HDL. Peningkatan LDL (biasa disebut kolesterol jahat) inilah yang berhubungan dengan hiperlipidemia.

Berdalih pada hal diatas, masyarakat tropis mulai mengurangi konsumsi kelapa, seperti mengganti konsumsi santan dengan susu, dll. Padahal, pada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat minang, kelapa merupakan makanan yang penting. Sejak nenek moyang, masyarakat minang telah mengkonsumsi kelapa untuk bertahan hidup, menghabiskan bahkan berpuluh-puluh kelapa untuk membuat santan pada rendang atau gulai untuk dikonsumsi sehari-hari atau pada acara besar. Bahkan jika tidak ada lauk, memakan nasi dengan santan atau kuah gulai saja sudah terasa nikmat. Hingga, para penelitipun tertarik untuk meneliti lebih lanjut apakah mengkonsumsi kelapa atau santan merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskuler.

Menariknya, beberapa penelitian menyimpulkan bahwa dalam mengkonsumsi lemak jenuh, walaupun memiiki struktur yang sama dengan lemak hewani, ternyata minyak kelapa, virgin coconut oil, mempunyai efek protektif, anti mikroba dan anti virus. Minyak kelapa yang mengandung 90% asam lemak jenuh, 50% nya mengandung asam lemak dengan C<12. Asam lemak dengan C< 12 inilah yang disebut asam lemak laurat yang memilki efek efek protektif, anti mikroba dan anti virus. Selain itu, ternyata, dalam mengkonsumsi santan, kadar asam lemak yang diterkandung lebih sedikit karena dalam santan lebih banyak mengandung air dari pada lemak itu sendiri. Berdasarkan penelitian Prof. Dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MSc, PhD, ahli gizi Fakultas Kedokteran Unand, ditemukan bahwa pada masyarakat minang, tidak terdapat perbedaan konsumsi kelapa pada penderita PJK dan orang sehat. Oleh karena itu, bagi penderita penyakit jantung, lebih aman mengkonsumsi kelapa atau santan sebagai sumber lemak tubuh dibandingkan mengkonsumsi lemak hewani, minyak goreng, atau makanan yang mengandung kolesterol lainnya, tetapi tentu dengan jumlah yang tidak berlebihan.

Jadi tak ada alasan lagi bagi kita, masyarakat minang untuk menjauhi, meninggalkan atau bahkan membenci kelapa atau santan. Kalau boleh dikatakan, kelapa yang merupakan sumber kehidupan nenek moyang masyarakat minang yang membuat mereka survive sehingga melahirkan kita sebagai generasi penerus, ternyata aman dikonsumsi sebagai sumber lemak tubuh dbanding lemak hewani atau makanan berkolestorel tinggi. Hidup kelapa!!! (KP Nutrisi pada Penyakit Kardiovaskuler , Gizi Klinik)

Selasa, 25 Juni 2013

Family Oriented Medical Education (FOME)



LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN FOME

Dosen Pembimbing:
dr. Afdal, Sp.A


oleh:
KELOMPOK 7 A
Nurfazlina 1110312157






Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
2013


Berkas Keluarga Binaan
Kelompok                               : 7A
Nama Mahasiswa                    : Nurfazlina
Pembimbing                            : dr. Afdal, Sp.A

Data Demografi Keluarga
Kepala Keluarga                     : Zirwan
Alamat                                    : Jl. Ganting, RT 003, RW 009,
Kelurahan Ganting ParakGadang, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat
No telp                                   : 085365339000


Tabel 1. Anggota keluarga yang tinggal serumah atau yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga
No
Nama
Kedudukan dalam keluarga
Gender
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Berpartisipasi dalam pembinaan
Ket tambahan
1
Zirwan
Ayah
Laki-laki
54 th
SMP
Wiraswasta


2
Mai Yusni
Ibu
Perempuan
50 th
STM
Ibu Rumah Tangga
Sebagai sumber informasi

3
Andri Novia
Anak kandung
Laki-laki
27 th
STM
Swasta

Sudah berkeluarga dan tidak tinggal dengan orang tua lagi
4
Roza Rahayu
Anak kandung
Perempuan
26 th
SMEA
Ibu                                 RT                                

Sudah berkeluarga dan tidak tinggal dengan orang tua lagi
5
Imelia
Anak kandung
Perempuan
24 th
SMA
Ibu                                 RT

Sudah berkeluarga dan tidak tinggal dengan orang tua lagi

Tabel 2. Fungsi-fungsi dalam keluarga
Fungsi Keluarga
Penilaian
Kesimpulan pembina untuk fungsi keluarga yang bersangkutan
Biologis
adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam menghadapi resiko masalah biologis, pencegahan, cara mengatasinya dan beradaptasi dengan masalah biologis (masalah fisik jasmaniah)
Sikap dan Prilaku dalam menghadapi risiko masalah fisiologis :
Keluarga ini kurang memperhatikan faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan masalah biologis, seperti memiliki kebiaasaan merokok dan memakan makanan yang menimbulkan risiko asam urat.

Pencegahan terhadap masalah biologi :
Keluarga ini mengetahui faktor risiko yang dapat menimbulkan masalah biologis, tetapi belum optimal dalam realisasi pencegahan.

Cara mengatasi penyakit :
keluarga ini memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, seperti kalau ada salah satu dari anggota keluarga yang sakit langsung di bawa berobat ke bidan.

Sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam menghadapi resiko masalah biologis, pencegahan, dan cara mengatasinya masih kurang.
Psikologis
adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam membangun hubungan psikologis internal antar anggota keluarga. Termasuk dalam hal memelihara kepuasan psikologis seluruh anggota keluarga dan manajemen keluarga dalam menghadapi masalah psikologis.

Komunikasi dalam rumah tangga baik karena adasikap saling menghormati dan saling menghargai antara anggota keluarga. Mereka juga menjalin komunikasi dengan tutur yang sopan santun.

Psikologis dalam keluarga : baik
Sosial
adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam mempersiapkan anggota keluarga untuk terjun ke tangah masyarakat. Termasuk di dalamnya pendidikan formal dan informal untuk dapat mandiri.
Ketiga anak bu Mai adalah lulusan SLTA/sederajat. Bu Mai juga memperhatikan dan mengajarkan anak perempuannya untuk menjadi ibu yang baik, seperti mengunjungi anaknya atau mengajak anaknya tinggal dirumah selama
Proses menuju melahirkan yang pertama sembari berbagi ilmu dan pengalaman.

Hubungan dengan masyarakat : sering berkumpul dengan tetangga untuk berbagi cerita, pengalaman dan sering menolong memasak tetangga yang mengadakan acara .
Pendidikan foramal dan nonformal bagi anak baik

Hubungan dengan masyarakat juga baik
Ekonomi &
Pemenuhan kebutuhan

adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam usaha pemenuhan kebutuhan primer, sekunder dan tertier.
Kebutuhan fisik dan uang cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari, pemilikan barang milik pribadi, dan gaya hidup keluarga termasuk sederhana, dan prioritas keuangan untuk kebutuhan nutrisi keluarga, fisik, dan berobat ke bidan.
Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan keluarga bu Mai cukup baik

Data Risiko Internal Keluarga
Tabel 3. Perilaku kesehatan keluarga

Perilaku
Sikap & perilaku keluarga yang menggambarkan perilaku tsb
Kesimpulan pembina untuk perilaku ybs
kebersihan pribadi & lingkungan
apakah tampilan individual dan lingkungan bersih dan terawat, bagaimana kebiasaan perawatan kebersihannya
Kebersihan pribadi : bagus
Kebersihan rumah : masih banyak pasir-pasir di lantai, dapur  yang agak basah karena posisinya dekat dengan kamar mandi. Lantainya meninggalkan noda yang sangat hitam pada kaki
Perlu penyuluhan tentang pola hidup bersih dan sehat agar keluarga tetap mempertahankan dan meningkatkan PHBS.
pencegahan spesifik
termasuk perilaku imunisasi anggota keluarga, ANC, gerakan pencegahan penyakit lain yang telah dianjurkan (baik penyakit menular maupunt tidak menular)
Ny.Lia tidak pernah ANC selama kehamilannya. Dan juga dindong tidak mendapatkan imunisasi yang lengkap.
Selama membesarkan anaknya bu Mai berhubungan denga bidan yang merupakan kerabatnya dan ketiga anaknya mendapat imunisasi.
Gerakan pencegahan tidak kurang dilakukan seperti kebiasaan merokok.
Untuk pencegahan penyakit msih kurang.
gizi keluarga
pengaturan makanan keluarga, mulai cara pengadaan, kuantitas dan kualitas makanan serta perilaku terhadap diet yang dianjurkan bagi penyakit tertentu pada anggota keluarga
Bu Mai selalu menyiapkan kebutuhan nutrisi yang bervatiasi bagi keluarga dan tidak ada pantangan makanan.
Diet yang dianjurkan bagi risiko asam urat ibu Mai kurang diperhatikan, seperti makanan kaya serat, rendah kolesterol, dan banyak air putih.
Asupan Gizi keluarga: baik
Diet yang dianjurkan bagi penyakit tertentu pada anggota keluarga kurang diperhatikan
latihan jasmani / aktifitas fisik          kegiatan keseharian untuk meggambarkan apakah sedentary life atau cukup atau teratur dalam latihan jasmani. Physical exercise tidak selalu harus berupa olahraga seperti sepak bola, badminton,dsb.
Keluarga ini tidak memiliki kebiasaan keluarga yang rutin, karena mereka menganggap kegiatan sehari-hari mereka sudah cukup untuk latihan jasmani
Aktivitas fisik yg tidak rutin kurang baik, karena untuk hidup sehat diperlukan aktivitas fisik yang rutin
penggunaan pelayanan kesehatan
perilaku keluarga apakah datang ke posyandu, puskesmas, dsb untuk preventif juga, atau hanya kuratif, atau kuratif ke pengobatan komplimenter dan alternatif, sebutkan jenisnya dan berapa keseringannya
Kalau ada anggota keluarga yang sakit dibawa lebih sering ke bidan karena masih ada hubungan keluarga dan belum merasa perlu ke puskesmas atau rumah sakit.
Keluarga punya jamkesmas
Penggunaan pelayanan kesehatan: kurang

kebiasaan / perilaku lainnya yang buruk untuk kesehatan
misalnya merokok, minum alkohol, bergadang,dsb sebutkan keseringannya dan banyaknya setiap kali dan jenis yang dikonsumsi
Bapak zirwan : merokok 1 bungkus sehari.
Bu Mai : sering duduk lama kalau bekerja, diet kurang diperhatikan.
kebiasaan / perilaku lainnya yang buruk untuk kesehatan : ada


Data Sarana Pelayanan Kesehatan dan Lingkungan Kehidupan Keluarga
Tabel 4. Faktor pelayanan kesehatan
Faktor
Keterangan
Kesimpulan pembina untuk faktor pelayanan kesehatan
Pusat pelayanan kesehatan yang digunakan oleh keluarga
-          Bidan



Pemanfaatan pelayanan kesehatan kurang optimal karena hanya ke bidan.
Cara mencapai pusat pelayanan kesehatan tersebut
-          berjalan kaki

Tarif pelayanan kesehatan tersebut dirasakan
*  sangat mahal 
*  mahal
*  terjangkau
*  murah
*  gratis  
Kualitas pelayanan kesehatan tersebut dirasakan
*  sangat baik
*  baik
*  biasa
*  tidak memuaskan
*  Buruk

Tabel 5. Lingkungan tempat tinggal
Kepemilikan rumah : milik sendiri
Daerah perumahan : padat bersih
Karakteristik Rumah dan Lingkungan
Kesimpulan pembina untuk lingkungan tempat tinggal
Luas rumah : ……9….x…7……m2
Faktor lingkungan keluarga baik, hanya saja perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Jumlah orang dalam satu rumah :   ………2…… org
Luas Halaman rumah : …1…x…1,5….m2
Tidak Bertingkat
Lantai rumah dari : semen
Dinding rumah dari : tembok
Penerangan di dalam rumah
Jendela : ada
Listrik : ada
Bila tidak, malam hari menggunakan………………
Ventilasi
Kelembapan rumah :  tidak lembap
Bantuan ventilasi di dalam rumah : ada
Bila ada, yaitu : Kipas angin
Kebersihan di dalam rumah : bersih
Tata letak Barang dalam rumah : rapi


Gambar rumah keluarga binaan Fome
Gambar Depan Rumah

Gambar Ruang Tamu dan Ruang Tengah Rumah

Gambar Ruang Makan Rumah

Gambar Dapur Rumah


Gambar Kamar Mandi Rumah
 
Gambar Kamar Mandi Rumah
Health Promotion
 
Health Promotion

Skor kemampuan keluarga dalam penyelesaian masalah dan Rencana Penatalaksanaan
No
Kegiatan
Sasaran
Waktu
Hasil yang diharapkan
Coping score awal

masalah internal
-          Kebiasaan merokok
→ memberikan promosi kesehatan kepada keluarga tentang bahaya merokok melalui lisan dan tulisan (leaflet)
-          Ibu : risiko asam urat.
→ memberikan promosi kesehatan kepada keluarga tentang gambaran umum penyakit rematik (penyebab, faktor risiko, gejala, dan pencegaha) melalui lisan dan tulisan (leaflet)

masalah eksternal
-          Kebersihan tempat tinggal khusunya lantai kamar mandi dan pemanfaatan pelayanan kesehatan kurang optimal karena hanya ke bidan.
→ memberikan promosi kesehatan kepada keluarga tentang Prilaku Hidup Barsih dan Sehat (PHBS) melalui lisan dan tulisan (poster kesehatan)


Bapak Zirwan





Ibu Mai Yusni








Keluarga







Kedatangan ketiga





Kedatangan ketiga








Kedatangan ketiga


Bapak Zirwan mengurangi konsumsi rokok (frekuensi dan jumlah) atau menghentikannya.

Ibu Mai memiliki pengetahuan tentang penyakit rematik dan memiliki kesadaran untuk menghidari hal-hal yang menjadi faktor risiko.



Keluarga memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang PHBS dan berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


1






4









4








Total :
9
Keterangan Coping score:
1 = Tidak dilakukan, menolak, tidak ada partisipasi
2 = Mau melakukan tapi tidak  mampu, tak ada sumber (hanya keinginan) penyelesaian masalah dilakukan sepenuhnya oleh provider
3 = Mau melakukan, namun perlu penggalian sumber yang belum dimanfaatkan sehingga penyelesaian masalah dilakukan  sebagian besar oleh provider
4 = Mau melakukan namun tak sepenuhnya, masih tergantung pada upaya provider
5 = Dapat dilakukan  sepenuhnya oleh keluarga

Tindak lanjut dan hasil intervensi
Tanggal
INTERVENSI YANG DILAKUKAN, KEMAJUAN MASALAH KESEHATAN KELUARGA, KESESUAIAN DENGAN HASIL YANG DIHARAPKAN & RENCANA SELANJUTNYA

Kedatangan  pertama

Berkenalan dengan salah satu anggota keluarga (Ibu Mai), menjelaskan tujuan kedatang untuk berbagi ilmu, dan meminta nomor HP keluarga yang bisa dihubungi. Keluarga bersikap terbuka dan menerima maksud dan tujuan dari kegiatan fome, serta memberikan nomor HP salah bapak Zirwan.
Merencanakan untuk meminta data-data yang lebih dalam pada kedatangan berikutnya karena takut dikira sensus.

TINDAK LANJUT I

Meminta data-data masing keluarga, KK, dan mengidentifikasi masalah internal dan eksternal keluarga. Keluarga (Ibu Mai) bersedia memberikan data-data secara lugas dan bersahabat.
Merencanakan untuk memberikan promosi kesehatan pada kedatangan berikutnya.
TINDAK LANJUT II
Melakukan promosi kesehatan melalui lisan dan tulisan (leaflet dan poster kesehatan). Keluarga (Ibu Mai) paham dengan informasi yang diberikan dan mau melakuan, serta bersedia memberitahu dan mengajak suaminya yang sedang tidak berada dirumah.
Merencanakan follow up pada kedatangan berikutnya











Masalah kesehatan keluarga pada saat berakhirnya pembinaan pertama dan coping score akhir
-          Kebiasaan merokok bapak Zirwan sulit untuk dikurangi →  coping score akhir : 3
-          Risiko asam urat  →  coping score akhir : 4
-          Peninghatan PHBS →  coping score akhir : 5
-          Total  coping score akhir : 12
Faktor pendukung terselesaikannya masalah kesehatan keluarga :
-          Antusias, partisipasi, dan kerjasama salah satu anggota keluargan (Ibu Mai)
-          Teknik penyampaian promosi kesehatan yang santai, menarik, dan tidak menggurui (saling berbagi ilmu.dan pengalaman)
Faktor penghambat terselesaikannya masalah kesehatan keluarga :
-          Kesadaran pribadi masing-masing keluarga untuk mengaplikasikan promosi kesehatan yang diberikan masih kurang dan sulitnya untuk merubah kebiasaan ecara instan dan butuh proses dan keinginan kuat.
Rencana pembinaan keluarga selanjutnya
-          Follow up pembinaan pertama, mengevaluasi, dan memcari solusi baru jika dirasa perlu.
Kesimpulan Pembinaan Keluarga pada Pembinaan Keluarga Saat ini
 (keadaan kesehatan keluarga pada saat berakhirnya pembinaan pertama, faktor-faktor pendukung dan penghambat partisipasi keluarga, indikator keberhasilan, serta rencana pembinaan keluarga selanjutnya)



Demikianlah, laporan kegiatan FOME ini disampaikan , sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.
Padang, 25  Juni 2013
Pembimbing Lapangan                                                                                               Pembina

( dr. Afdal, Sp.A )                                                                                                   ( Nurfazlina  )
 

Entri Terbaru

Tokoh Indonesia dan Nilai Berakhlak