Blog ini berisi semua tentang perjalanan. Apakah menyenangkan? Apakah melelahkan? Apakah membutuhkan perjuangan?
Rabu, 10 September 2014
Ceritaku : Sidang, Balada Skripsi, Pembimbing, dan Penguji Part 3
Alhamdulillah....
Lansung sujud syukur...
Kemaren, 10 September2014...
Tercatat dalam sejarah hidupku : SIDANG SKRIPSI
then semangat revisi, semangat ujian blok penyakit tropis, semangat JC (Junior Clerkship), dan semangat persiapan compre osce...
Hamasah !!!
Sabtu, 30 Agustus 2014
Ceritaku : Pediatric, 1st junior clerkship
Sebenarnya, JC atau junior clerkship sudah
dimulai sejak 2 minggu yang lalu. Namun, karena 2 minggu awal berupa
pembekalan dan seperti kuliah biasanya, jadi terlihat kurang berkesan.
Nah.. Minggu ini kurasa cukup berkesan. Kenapa?
Pertama, aku kebagian JC di bagian anak (pediatric). Bagian yg katanya cukup serem karena preseptornya galak-galak dan pinter abis, mempertanyakan kepiawaian berkomunikasi dengan anak-anak, dan keahlian dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik karena anak bukanlah dewasa kecil.
Kedua, untuk pertamakalinya dalam 5 minggu kedepan. Kami (aku dan teman se tim ku) bisa lansung ketemu pasien anak. Alhamdulillah, anaknya sudah gede (10 tahun), kooperatif dan cerdas sehingga lansung bisa menerapkan jurus2 anamnesis dan pemeriksaan fisik. Namun, sungguh sangat disayangkan, kami belum siap dalam menggunakan jurus2 tersebut sehingga hasilnya minimal sekali. Nasihat yg dipetik : kedepannya lebih siap mengaplikasikan ilmu dalam anamnesis dan pemeriksaan fisiknya ya.. alias BELAJAR…
Ketiga, kamipun bisa membuat status pasien walau sangat banyak kekurangan karena anamnesis dan pemeriksaan fisiknya sangat minimal. Berikut status pasiennya :
“Seorang anak laki-laki (10 tahun) dibawa ibunya ke dokter karena sembab sejak 4 hari yg lalu, berawal dari kelopak mata, lalu kedua kaki, dan diikuti seluruh tubuh kecuali kedua lengan. Anak tidak demam dan tidak ada sesak. Pola makan teratur dan gizi cukup. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Dalam 6 bulan terakhir, pasien pernah dirawat karena Sindroma Nefrotik dan mendapat steroid dan pernah remisi…………”
Terakhir, salah satu kata-kata preseptor yang selalu teringat dan memotivasiku untuk bersungguh-sungguh untuk siklus anak dalam JC ini adalah “untuk yang perempuan, kalian kan akan jadi ibu. Ilmu ini akan sangat berguna. Kita akan tahu apakah pertumbuhan dan perkembangan anak kita baik atau tidak, apakah anak kita cukup imunisasi atau tidak, dsb”
So… Hamasah !!!
Pertama, aku kebagian JC di bagian anak (pediatric). Bagian yg katanya cukup serem karena preseptornya galak-galak dan pinter abis, mempertanyakan kepiawaian berkomunikasi dengan anak-anak, dan keahlian dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik karena anak bukanlah dewasa kecil.
Kedua, untuk pertamakalinya dalam 5 minggu kedepan. Kami (aku dan teman se tim ku) bisa lansung ketemu pasien anak. Alhamdulillah, anaknya sudah gede (10 tahun), kooperatif dan cerdas sehingga lansung bisa menerapkan jurus2 anamnesis dan pemeriksaan fisik. Namun, sungguh sangat disayangkan, kami belum siap dalam menggunakan jurus2 tersebut sehingga hasilnya minimal sekali. Nasihat yg dipetik : kedepannya lebih siap mengaplikasikan ilmu dalam anamnesis dan pemeriksaan fisiknya ya.. alias BELAJAR…
Ketiga, kamipun bisa membuat status pasien walau sangat banyak kekurangan karena anamnesis dan pemeriksaan fisiknya sangat minimal. Berikut status pasiennya :
“Seorang anak laki-laki (10 tahun) dibawa ibunya ke dokter karena sembab sejak 4 hari yg lalu, berawal dari kelopak mata, lalu kedua kaki, dan diikuti seluruh tubuh kecuali kedua lengan. Anak tidak demam dan tidak ada sesak. Pola makan teratur dan gizi cukup. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Dalam 6 bulan terakhir, pasien pernah dirawat karena Sindroma Nefrotik dan mendapat steroid dan pernah remisi…………”
Terakhir, salah satu kata-kata preseptor yang selalu teringat dan memotivasiku untuk bersungguh-sungguh untuk siklus anak dalam JC ini adalah “untuk yang perempuan, kalian kan akan jadi ibu. Ilmu ini akan sangat berguna. Kita akan tahu apakah pertumbuhan dan perkembangan anak kita baik atau tidak, apakah anak kita cukup imunisasi atau tidak, dsb”
So… Hamasah !!!
Rabu, 20 Agustus 2014
Ceritaku : Bapak dan Ibu Guru Tercinta...
Kali ini, air mataku menetes.
Berawal dari menelpon mama, trus mama cerita, untuk kedua kalinya ketemu guru
SMPku dikedai tempat mama kerja. Beliau makan bersama adik beliau yang kata
mama sukses, kerja tambang di Kalimantan. Sang guru bilang kecewa, kenapa aku
gag kerumah beliau waktu lebaran.
Episode haru ini mengingatkanku pada semua guru-guru tercintaku. Mulai dari guru TK yang mengenalkanku pada baca puisi, bermain, membaca, membawaku ikut lomba mewarnai tetapi tidak menang karena ketidakahlianku mewarnai dengan lincah, pawai baju adat takuluak tanduak, dan selayar, dan lain-lain.
Guru SD pun tak terlupakan dari hipokampusku. Mulai dari guru kelas 1 sampai kelas 6. Guru kelas 1 yang merupakan orang tua teman sekelasku, guru kelas dua yang kupikir sangat baik karena saat beliau menjadi wali kelasku, aku bisa mendapat juara 2 dan juara 1 dengan usahaku., guru kelas 3 yang kupikir cukup unik, karena saat beliau menjadi wali kelas, aku dan satu lagi temanku mendapat ranking 1,5, guru kelas 5 dan 6 yang merupakan guru yang pernah tinggal bersama nenek dulu yang sampai saat ini masih teringat olehku tentang tegurannya tentang sopan santun. Terimakasih guruku.
Guru SMP pun tak terlupakan. Guru b.inggris yang begitu baik dan menjadi idolaku, yang membawaku untuk ikut lomba pidato bahasa inggris tingkat kabupaten sampai tingkat provinsi. Guru matematika dan fisika yang membawaku ikut lomba, dan guru geografi yang begitu baik.
Guru SMA pun tak terlupakan. Guru kimia yang membimbingku ikut olimpiade kimia tingkat kabupaten hingga provinsi, guru biologi yang merupakan wali kelas yang begitu baik, guru kwn yang begitu baik, dan guru-guru lain yang tak bisa ku sebutkan satu persatu.
Namun, ada sedihnya, ketika semua guru ini kenal aku, atau mungkin masih ingat aku, apakah mereka bangga mempunyai murid sepertiku atau malah kecewa? Murid yang sampai saat ini belum berani menemui mereka karena sampai saat ini kata sukses itu belum mampu ia persembahkan bagi gurunya. Aku tak tau kapan kata “sukses” itu terlukis karena sampai saat ini aku masih tidak tau makna sukses itu. Apakah ketika sudah wisuda, sudah kerja, sudah dinas, sudah kaya? Entahlah...
Namun, bapak dan ibu guru tercintaku... dibalik sedihku karena belum berani menemuimu... saat ini aku tengah berjuang... kadang ada senyuman.. do’akan aku bisa yudisium dan wisuda pertama ya pak, bu.. januari 2015 ini.. Aamiin. Lalu lulus ujian masuk coass dan menjadi coass. Agar ketika lebaran depan, setidaknya dengan titel “dokter muda” keberanianku terkumpul untuk menemuimu.. bapak dan ibu guruku tercinta.
Episode haru ini mengingatkanku pada semua guru-guru tercintaku. Mulai dari guru TK yang mengenalkanku pada baca puisi, bermain, membaca, membawaku ikut lomba mewarnai tetapi tidak menang karena ketidakahlianku mewarnai dengan lincah, pawai baju adat takuluak tanduak, dan selayar, dan lain-lain.
Guru SD pun tak terlupakan dari hipokampusku. Mulai dari guru kelas 1 sampai kelas 6. Guru kelas 1 yang merupakan orang tua teman sekelasku, guru kelas dua yang kupikir sangat baik karena saat beliau menjadi wali kelasku, aku bisa mendapat juara 2 dan juara 1 dengan usahaku., guru kelas 3 yang kupikir cukup unik, karena saat beliau menjadi wali kelas, aku dan satu lagi temanku mendapat ranking 1,5, guru kelas 5 dan 6 yang merupakan guru yang pernah tinggal bersama nenek dulu yang sampai saat ini masih teringat olehku tentang tegurannya tentang sopan santun. Terimakasih guruku.
Guru SMP pun tak terlupakan. Guru b.inggris yang begitu baik dan menjadi idolaku, yang membawaku untuk ikut lomba pidato bahasa inggris tingkat kabupaten sampai tingkat provinsi. Guru matematika dan fisika yang membawaku ikut lomba, dan guru geografi yang begitu baik.
Guru SMA pun tak terlupakan. Guru kimia yang membimbingku ikut olimpiade kimia tingkat kabupaten hingga provinsi, guru biologi yang merupakan wali kelas yang begitu baik, guru kwn yang begitu baik, dan guru-guru lain yang tak bisa ku sebutkan satu persatu.
Namun, ada sedihnya, ketika semua guru ini kenal aku, atau mungkin masih ingat aku, apakah mereka bangga mempunyai murid sepertiku atau malah kecewa? Murid yang sampai saat ini belum berani menemui mereka karena sampai saat ini kata sukses itu belum mampu ia persembahkan bagi gurunya. Aku tak tau kapan kata “sukses” itu terlukis karena sampai saat ini aku masih tidak tau makna sukses itu. Apakah ketika sudah wisuda, sudah kerja, sudah dinas, sudah kaya? Entahlah...
Namun, bapak dan ibu guru tercintaku... dibalik sedihku karena belum berani menemuimu... saat ini aku tengah berjuang... kadang ada senyuman.. do’akan aku bisa yudisium dan wisuda pertama ya pak, bu.. januari 2015 ini.. Aamiin. Lalu lulus ujian masuk coass dan menjadi coass. Agar ketika lebaran depan, setidaknya dengan titel “dokter muda” keberanianku terkumpul untuk menemuimu.. bapak dan ibu guruku tercinta.
Sabtu, 19 Juli 2014
JANGAN GALAU WAHAI CALDOKKU....
(senyam-senyum baca tulisan ini. Tulisan yang lahir diantara tumpukan skripsi. Tulisan yang bikin...ngena banget nih...Semoga senatiasa menyemangati... Jika tulisan ini buruk, sungguh maaf, karena memang ia lahir saat iman ini turun, ia lahir saat fikiran ini tak jernih. Namun, ketika dibaca, walaupun buruk, ia bermakna, memberikan sensasi berbeda..semangat Alin...)
Denger temen bakalan lulus, wisuda,
kerja, atau malah nikah...
Eh, malah galau...
Berharap cepetan lulus juga,
Cepetan wisuda juga,
Cepetan kerja juga,
Atau malah ikutan kebelet kawin
juga..
Aduh, caldokku...
Dimana rasionalitasmu,
Dimana idealismemu untuk jadi dokter.
Bukan tak boleh berharap demikian.
Tapi liat situasi dong.
Kuliah masih lama, kerja juga perlu
UKDI dulu,
Boro-boro nikah, ngebahagian ortu aja
belum.
Aduh, caldokku...
Jangan galau dong...
Galau disiang bolong, ntar kesambet
loh..
Nikmatin aja semua...
Setiap rangkaian waktu yang
berjalan,..
Toh, ntar bakalan lulus juga, bakalan wisuda
juga, bakalan dinas juga, dan bakalan nikah juga.
Aamiin Allahumma Aamiin
Aduh, caldokku...
Masih banyak yang bisa dilakuin
selain galau...
Belajar kek...
Tugas-tugas...
Jalan2 kek..
Organisasi..
Trus dakwah dikemanain?
Jangan galau caldokku...
Galau klo ortu kadang nanya..
Kapan lulus...
Kapan wisuda...
Kapan dinas...
Kapan nikah...
Kapan dong ibu nimang cucu...
Dan masih banyak kapannya...
Tapi...cepetan buang tuh galau..
Sembari menyabarkan diri dan ortu..
Usaha dan doa juga dong..
Jangan berlarut-larut sama
galaunya...
Terakhir..
Jangan galau wahai caldokku...
Jangan galau...
Jumat, 13 Juni 2014
Ceritaku : Balada Skripsi, Pembimbing, dan Penguji Part 2
Sepertinya sekarang lagi musim2 skripsi, banyak teman2 ngepost status sidang, status galau bimbingan, status galau karena penguji, dan bla bla...
Pertama,... Alhamdulillah,, tepat 10 hari setelah ultah.. 20 Februari 2014.. ini terjadi,, seminar proposal skripsi.. cuma futu kue untuk pembimbing dan penguji ini yang menjadi saksi klo udah Seminar proposal.. oia, plus proposalnya yang disampul ijo..hehe.. Alhamdulillah..
Pusing antara fokus blok dengan skripsweet.. pusing bagi waktu antara "gangguan urogenital", "gangguan neuromuskuloskeletal", dan "indra khusus" dengan skripsweet.. akhirnya,, kelar juga nih revisi.. bolak-balik pembimbing, pas ke penguji,, acc- acc aja,, hmm.. Alhamdulillah... revisi kelar juga...
Lanjut.... melengkapi data MCUnya yang kurang dikiiiitttt lagi, olah data, bikin bab 5, 6, 7, daaannn,,, SIDANG,,,, Bismillaah... "Robbi Shrohli Sodri Wa Yassirli Amri Wahlul U’datan militsani Yafqohu qouli : Wahai Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lancarkanlah lidahku" ..
#Bersambung
Pertama,... Alhamdulillah,, tepat 10 hari setelah ultah.. 20 Februari 2014.. ini terjadi,, seminar proposal skripsi.. cuma futu kue untuk pembimbing dan penguji ini yang menjadi saksi klo udah Seminar proposal.. oia, plus proposalnya yang disampul ijo..hehe.. Alhamdulillah..
Pusing antara fokus blok dengan skripsweet.. pusing bagi waktu antara "gangguan urogenital", "gangguan neuromuskuloskeletal", dan "indra khusus" dengan skripsweet.. akhirnya,, kelar juga nih revisi.. bolak-balik pembimbing, pas ke penguji,, acc- acc aja,, hmm.. Alhamdulillah... revisi kelar juga...
Lanjut.... melengkapi data MCUnya yang kurang dikiiiitttt lagi, olah data, bikin bab 5, 6, 7, daaannn,,, SIDANG,,,, Bismillaah... "Robbi Shrohli Sodri Wa Yassirli Amri Wahlul U’datan militsani Yafqohu qouli : Wahai Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lancarkanlah lidahku" ..
#Bersambung
Minggu, 30 Maret 2014
Ceritaku : Balada Skripsi, Pembimbing, dan Penguji
Kurang kerjaan emang. Tiba-tiba nulis ini. Tapi entah napa. Pas blank buat lanjutin paragraf selanjutnya revesi ini. Tiba2 kepikiran buat nulis ini. Mungkin teman-teman ada ngerasain hal yang sama atau bahkan lebih luarbiasa. Jujur, ini bukan pengalaman seluarbiasa itu. bukan soal jalan2 keluar negeri. Hanya cerita biasa yang menurutku luar biasa. Yah.. sekali lagi.. hanya menurutku. Bagaimana denganmu?
Tepat saat diminta ngumpulin judul skripsi. Blank setengah mati. Gag tau mau nulis apa. Ada sih banyak yang pengen diteliti. Tapi, sekali lagi mikir-mikir, menimbang-nimbang. Judul apa yang yang simple, gag makan banyak biaya, gag ribet, cepat kelar, dan asyiklah, juga yang kemungkinan pengujinya gag dari klinik, pengujinya yang baik, gag galak, dan gag sibuk-sibuk amat. Pokoknya kompleks deh dipemikiran ini. Maunya sih cepat kelar, dapet penguji yang baik dan keren, dapet A. Biar bisa lulus ontime, yudisium pertama, dan wisuda pertama januari/ferbruari 2015 trus coass pertama. Komplit sudah yang diinginkan.
Lalu, setelah menimbang dan memutuskan. Akhirnya ketuk palu juga. Klo judulnya "ini". Gag sabar nih dapet pembimbing siapa? Setelah kertas pengajuan judul dikembaliiin, lansung melongo.. Antara senang, takut, ragu, dan... semuanya jadi nano-nano. Trus, capcuss nyari teman yang kemungkinan samaan pembimbingnya. Akhirnya, ketemu juga. Janjian deh buat bareng ketemu sama pembimbingnya. Tau gag apa yang terjadi.. Serius, Tuhan menguji. Jangan senang dulu. Ternyata sibapak ikutan naik haji. Jadi nunggu deh kepastiannya disetujui atau gag tuh judul mpe bapaknya kembali. Menunggu emang gag enak. Bikin galau aja nih bapak. Ya udah, gag usah diratapi juga kali. Lanjut... Pembimbing 2. Ibunya baik banget deh, lembut, keibuan, gag neko2, setuju2 aja klo pembimbing 1 setuju. Alhamdulillah, kali ini dimudahkan. Lansung sujud syukur deh.
Sabar itu tidak ada batasnya. Demikian kata Murabbi/kakag liqo' yang di kutip dari sebuah hadits atau Al-Qur'an gitu. lupa. Namun, manusia emang mudah digoda oleh Syeitan. Jadi mudah terjangkit virus galau dan stress. Abis mikir panjang. Gw jadi galau sama judul yang tak kunjung disetujui. Akhirnya gue mutusin ketemu tim skripsi. Rencananya sih buat minta ganti pembimbing 1 atau klo boleh ganti judul. Nah, gw lansung dinasehati. Gini bunyinya : Jangan ragu. yakinlah. Sabarlah. Minggu depan bapaknya juga pulang kog. Jadi dokter itu mesti yakin, gag rau-ragu". Gw lansung termangu. bener juga nih ibuk. Makasih bu. Setidaknya udah menenangkan.
Sekembalinya bapak pembimbing 1 dari Mekah. lansung deh temuin bapaknya. Alhamdulillah, ketemu juga dan lebih bersyukurnya lagi bapaknya lansung tanda tangan setuju, ngasih solusi untuk setiap keraguan gw pada nih judul. Perjuangan selanjutnya.. bikin proposal bab 1,2,3,4.. baru deh bapak dan ibunya ngekoreksi. Gimana kelanjutannya.....bikin revisi dulu ya... Ntar kapan2 bikin lanjutannya ya...
#BERSAMBUNG
Tepat saat diminta ngumpulin judul skripsi. Blank setengah mati. Gag tau mau nulis apa. Ada sih banyak yang pengen diteliti. Tapi, sekali lagi mikir-mikir, menimbang-nimbang. Judul apa yang yang simple, gag makan banyak biaya, gag ribet, cepat kelar, dan asyiklah, juga yang kemungkinan pengujinya gag dari klinik, pengujinya yang baik, gag galak, dan gag sibuk-sibuk amat. Pokoknya kompleks deh dipemikiran ini. Maunya sih cepat kelar, dapet penguji yang baik dan keren, dapet A. Biar bisa lulus ontime, yudisium pertama, dan wisuda pertama januari/ferbruari 2015 trus coass pertama. Komplit sudah yang diinginkan.
Lalu, setelah menimbang dan memutuskan. Akhirnya ketuk palu juga. Klo judulnya "ini". Gag sabar nih dapet pembimbing siapa? Setelah kertas pengajuan judul dikembaliiin, lansung melongo.. Antara senang, takut, ragu, dan... semuanya jadi nano-nano. Trus, capcuss nyari teman yang kemungkinan samaan pembimbingnya. Akhirnya, ketemu juga. Janjian deh buat bareng ketemu sama pembimbingnya. Tau gag apa yang terjadi.. Serius, Tuhan menguji. Jangan senang dulu. Ternyata sibapak ikutan naik haji. Jadi nunggu deh kepastiannya disetujui atau gag tuh judul mpe bapaknya kembali. Menunggu emang gag enak. Bikin galau aja nih bapak. Ya udah, gag usah diratapi juga kali. Lanjut... Pembimbing 2. Ibunya baik banget deh, lembut, keibuan, gag neko2, setuju2 aja klo pembimbing 1 setuju. Alhamdulillah, kali ini dimudahkan. Lansung sujud syukur deh.
Sabar itu tidak ada batasnya. Demikian kata Murabbi/kakag liqo' yang di kutip dari sebuah hadits atau Al-Qur'an gitu. lupa. Namun, manusia emang mudah digoda oleh Syeitan. Jadi mudah terjangkit virus galau dan stress. Abis mikir panjang. Gw jadi galau sama judul yang tak kunjung disetujui. Akhirnya gue mutusin ketemu tim skripsi. Rencananya sih buat minta ganti pembimbing 1 atau klo boleh ganti judul. Nah, gw lansung dinasehati. Gini bunyinya : Jangan ragu. yakinlah. Sabarlah. Minggu depan bapaknya juga pulang kog. Jadi dokter itu mesti yakin, gag rau-ragu". Gw lansung termangu. bener juga nih ibuk. Makasih bu. Setidaknya udah menenangkan.
Sekembalinya bapak pembimbing 1 dari Mekah. lansung deh temuin bapaknya. Alhamdulillah, ketemu juga dan lebih bersyukurnya lagi bapaknya lansung tanda tangan setuju, ngasih solusi untuk setiap keraguan gw pada nih judul. Perjuangan selanjutnya.. bikin proposal bab 1,2,3,4.. baru deh bapak dan ibunya ngekoreksi. Gimana kelanjutannya.....bikin revisi dulu ya... Ntar kapan2 bikin lanjutannya ya...
#BERSAMBUNG
Selasa, 25 Maret 2014
Tulisanku : Apakah akan sesederhana itu?
Menghabiskan seluruh hidupmu disebuah kota/daerah, disebuah rumah, disebuah ruangan.
Apakah itu tak membuatmu bosan?
Apakah itu tak membuatmu takut?
Sama sekali tidak.
Inilah pilihan hidupku.
Pilihan hidup seorang gadis yang sederhana.
Dengan kehidupan yang sederhana.
Mencoba menjalani hidup dengan sederhana.
Menggapai impian yang sederhana.
Dengan cinta yang sederhana.
#Apakah akan sesederhana itu?
Apakah itu tak membuatmu bosan?
Apakah itu tak membuatmu takut?
Sama sekali tidak.
Inilah pilihan hidupku.
Pilihan hidup seorang gadis yang sederhana.
Dengan kehidupan yang sederhana.
Mencoba menjalani hidup dengan sederhana.
Menggapai impian yang sederhana.
Dengan cinta yang sederhana.
#Apakah akan sesederhana itu?
Tulisanku : AyoMencobaUntukTidakGolput
Pernah
dengar atau baca pamflet mengenai donor darah? klo tidak salah begini
bunyinya : "Setetes darah anda akan menyelamatkan nyawa"
maksud dari tulisan itu adalah mengajak setiap orang untuk mendonorkan darahnya.
Namun, ku masih ingat. penjelasan salah seorang dokter patologi klinik. tak selamanya imbauan itu dapat lansung dicerna. kita juga harus hati-hati dalam mendonorkan darah. Jangan sampai karena darah kita yang imkompatimbel dengan penerima, darah kita yang mengandung infeksi, dll malah menimbulkan reaksi yang buruk atau penyakit pada tubuh orang lain.
Namun, Penjelasan tersebut bukan berarti kita boleh tidak donor darah karena takut hal demikian. tetapi inti dari penjelasan dosen tersebut adalah berhati-hatilah dan cerdaslah dalam mendonorkan darah.
Mari kita analogikan dengan tulisan yang marak saat ini. klo tidak salah begini bunyinya
"Satu suara anda akan menyelamatkan bangsa".
atau "gunakan hak pilih anda" dll.
saya menganalogikan dengan hal diatas. bukan berarti tulisan tersebut lansung kita cerna. Jangan sampai suara yang kita berikan justru tidak merubah bangsa ini. Namun, juga bukan berarti kita boleh golput. Intinya.. berhati-hatilah dan cerdaslah dalam memilih.
#AyoMencobaUntukTidakGolput
maksud dari tulisan itu adalah mengajak setiap orang untuk mendonorkan darahnya.
Namun, ku masih ingat. penjelasan salah seorang dokter patologi klinik. tak selamanya imbauan itu dapat lansung dicerna. kita juga harus hati-hati dalam mendonorkan darah. Jangan sampai karena darah kita yang imkompatimbel dengan penerima, darah kita yang mengandung infeksi, dll malah menimbulkan reaksi yang buruk atau penyakit pada tubuh orang lain.
Namun, Penjelasan tersebut bukan berarti kita boleh tidak donor darah karena takut hal demikian. tetapi inti dari penjelasan dosen tersebut adalah berhati-hatilah dan cerdaslah dalam mendonorkan darah.
Mari kita analogikan dengan tulisan yang marak saat ini. klo tidak salah begini bunyinya
"Satu suara anda akan menyelamatkan bangsa".
atau "gunakan hak pilih anda" dll.
saya menganalogikan dengan hal diatas. bukan berarti tulisan tersebut lansung kita cerna. Jangan sampai suara yang kita berikan justru tidak merubah bangsa ini. Namun, juga bukan berarti kita boleh golput. Intinya.. berhati-hatilah dan cerdaslah dalam memilih.
#AyoMencobaUntukTidakGolput
Selasa, 04 Maret 2014
Ceritaku : masyaAllah, luarbiasa nih calon ibu.
1) Kemaren, waktu DCU, dr.Finny Fitri, Sp.A (K) sharing : dulu waktu ikut PPDS atau jadi resident, saya hamil, tapi saya tetap visite, tetap jaga malam, tetap bikin tugas, tetap belajar, dll. *masyaAllah
2) Beberapa hari yang lalu, baca update-an status seseorang di Facebook, yang istrinya hamil tetapi tetap menjalani coass. *masyaAllah
3) Beberapa bulan yang lalu, dapet cerita dari senior klo temannya nikah dan hamil saat preklinik atau masa study S.Ked. tetapi tetap ikut KP (kuliah pengantar), tutorial, skill lab, pratikum, dll *masyaAllah
masyaAllah = ucapan untuk menyatakan kekaguman.
Speechless.
Luarbiasa niih calon ibu. tetap menuntut ilmu disaat hamil :)
Senin, 10 Februari 2014
Tulisanku : Hari Lahirku
Hari ini, hari dimana pada tanggal yang sama, pada bulan yang sama, beberapa tahun yang lalu aku dilahirkan. Hari dimana mama berjuang keras menahan rasa sakit untuk melahirkanku kedunia yang fana ini. Terimakasih mama, sebenarnya hari ini adalah harimu, hari dimana mama berhasil melahirkanku. Hari yang dinanti-nantikan oleh mama, papa, mak wo, atau orang lain yang tahu bahwa aku pernah ada dalam rahim mama. Hari dimana semua berbeda. Aku yang menangis sementara mama, papa, atau orang lain disana mungkin tersenyum menyambut tangisku.
Hari ini, tepat hari ini, umurku genap 22 tahun. Umur yang sudah bisa dibilang tua, atau mungkin matang bagi sebagian orang. Namun, bagiku umur ini belum matang, masih banyak yang kurang disana-sini, masih banyak yang compang camping disana-sini, masih banyak harapan dan impian disana-sini, masih banyak luka disana-sini, dan masih banyak lagi.
Hari ini, digenap 22 tahun ini, dihari dimana hanya mama yang mengucap selamat dan salah satu temanku di kos yang tahu, aku hanya bisa berucap Alhamdulillah. Tuhan masih beri aku kesempatan untuk hidup, kesempatan untuk beribadah, kesempatan untuk berusaha membahagiakan orang tua, keluarga, orang disekelilingku.
Digenap usiaku yang 22 tahun ini, aku hanya ingin minta maaf pada semua orang yang pernah hadir dihidupku, untuk semua salahku, khilafku, egoku, dll. Aku minta maaf pada ma, pa, abg, zikri, mak wo, pa wo, bang fandi, dll, jika aku pernah berbuat salah, berbuat hal yang penuh ego, sungguh egois. Ku akui ego ku. Hingga saat ini, aku berusaha menebus salahku dengan berusaha disini. Ku ingin minta maaf pada sekolahku, guru2 ku, temanku, sahabatku untuk semua egoku, semua sifat burukku, dll. Aku ingin minta maaf, sungguh ingin minta maaf. Ku hanya minta doakan ku sukses dijalan ini. Jalan yang telah ku pilih. Jalan yang memang berat, lama, dan butuh kesabaran.
Digenap usiaku yang 22 tahun ini, khusus untuk mama. Sosok yang begitu ku cinta, sosok yang begitu kuat. Terimakasih untuk kesabaranmu meladeni sikapku, kesabaranmu membesarkanku, kesabaranmu akan semua tingkahku. Bahkan, sekarang dirimu begitu sabar setiap hari bangun pagi, pulang petang, lelah, setiap hari melakukan hal yang sama. Mungkin, aku tak tau apakah mama bangga punya anak sepertiku. Maaf ma, untuk semua, maaf. Ku tak bisa berjanji banyak, berjanji untuk kehidupan yang mewah kelak, untuk kesuksesan kelak. Aku hanya bisa berbuat seperti ini. Ku tak tau apakah mama bangga denganku. Jika mungkin, aku akan berusaha membahagiakanmu didunia. Jika tak mungkin, ku hanya bisa mendoakanmu. Ku ingin menjadi anak shalehah yang senantiasa mendoakan bundanya. Aku mencintaimu karena Allah, ma.
Hari ini, tepat hari ini, umurku genap 22 tahun. Umur yang sudah bisa dibilang tua, atau mungkin matang bagi sebagian orang. Namun, bagiku umur ini belum matang, masih banyak yang kurang disana-sini, masih banyak yang compang camping disana-sini, masih banyak harapan dan impian disana-sini, masih banyak luka disana-sini, dan masih banyak lagi.
Hari ini, digenap 22 tahun ini, dihari dimana hanya mama yang mengucap selamat dan salah satu temanku di kos yang tahu, aku hanya bisa berucap Alhamdulillah. Tuhan masih beri aku kesempatan untuk hidup, kesempatan untuk beribadah, kesempatan untuk berusaha membahagiakan orang tua, keluarga, orang disekelilingku.
Digenap usiaku yang 22 tahun ini, aku hanya ingin minta maaf pada semua orang yang pernah hadir dihidupku, untuk semua salahku, khilafku, egoku, dll. Aku minta maaf pada ma, pa, abg, zikri, mak wo, pa wo, bang fandi, dll, jika aku pernah berbuat salah, berbuat hal yang penuh ego, sungguh egois. Ku akui ego ku. Hingga saat ini, aku berusaha menebus salahku dengan berusaha disini. Ku ingin minta maaf pada sekolahku, guru2 ku, temanku, sahabatku untuk semua egoku, semua sifat burukku, dll. Aku ingin minta maaf, sungguh ingin minta maaf. Ku hanya minta doakan ku sukses dijalan ini. Jalan yang telah ku pilih. Jalan yang memang berat, lama, dan butuh kesabaran.
Digenap usiaku yang 22 tahun ini, khusus untuk mama. Sosok yang begitu ku cinta, sosok yang begitu kuat. Terimakasih untuk kesabaranmu meladeni sikapku, kesabaranmu membesarkanku, kesabaranmu akan semua tingkahku. Bahkan, sekarang dirimu begitu sabar setiap hari bangun pagi, pulang petang, lelah, setiap hari melakukan hal yang sama. Mungkin, aku tak tau apakah mama bangga punya anak sepertiku. Maaf ma, untuk semua, maaf. Ku tak bisa berjanji banyak, berjanji untuk kehidupan yang mewah kelak, untuk kesuksesan kelak. Aku hanya bisa berbuat seperti ini. Ku tak tau apakah mama bangga denganku. Jika mungkin, aku akan berusaha membahagiakanmu didunia. Jika tak mungkin, ku hanya bisa mendoakanmu. Ku ingin menjadi anak shalehah yang senantiasa mendoakan bundanya. Aku mencintaimu karena Allah, ma.
Sabtu, 14 Desember 2013
Ceritaku : Masya Allah, ODOJ
Setelah beberapa hari ini berkenalan dengan ODOJ, kali
ini saya memutuskan untuk menuliskan dan menceritakannya. “Masya Allah” (ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang
indah dan hal yang indah itu memang dicinta dan dikehendaki Allah),
itulah yang terucap dibibir ini,
ketika dipertemukan dengan majelis ini. Kami menganggapnya majelis
Al-Qur’an plus majelis ilmu.
Kenapa majelis Al-Qur’an? Dalam majelis ini kita diajak untuk membaca
Al-Qur’an dengan targetan 1 juz per hari. Mungkin beberapa grup juga
menambahkan dengan target membaca plus mentadaburi atau plus targetan
hafalan. “Masya Allah” , lagi-lagi terucap. Bagaimana tidak, saya yang
sebelumnya hanya bisa baca Al-Qur’an 1 atau 2 juz waktu bulan Ramadhan,
dan sekarang Alhamdulillah … dan mohon do’anya semoga bisa istiqamah.
Kenapa majelis ilmu? Dalam grup ini saya berkenalan dengan akhwat2
seindonesia, ada dari jogja, bandung, Jakarta, dll. Mulai dari siswa
smp, sma, kuliah, dan ibu2. Lantas dimana ilmunya. Dari keanekaragaman
ini, kami belajar banyak, mulai dari ilmu parenting yang diceritakan
ibu-ibu yang tangguh, ilmu manajemen waktu dari akhwat2 dan ibu-ibu yg
luarbiasa sibuknya, ilmu bahasa arab dari akhwat yang luarbiasa jagonya,
dan banyak lagi ilmu lainnya. Yang pastinya, tidak hanya ilmu duniawi,
tetapi lebih utama, yaitu ilmu agama atau ilmu akhirat.
Jujur, saya yang terkadang merasa sepi, merasa gersang, merasa hilang
tujuan dalam hidup, merasa lemah, merasa iman yang naik turun, dsb,
sekarang mulai berucap syukur telah diperkenalkan dan berkenalan dengan
ODOJ. Bagaimana denganmu saudara dan saudariku? Semoga Allah senantiasa
menuntun kita dan membalas amal ibadah kita. Bismillah, Istiqamah… :-)
Jumat, 06 Desember 2013
Tulisanku : Film Kehidupan
Ketika
menonton sebuah film, kita akan penasaran bagaimana akhirnya. Terkadang
bisa ditebak. Terkadang sulit. Hanya ada dua pilihan : Happy Ending atau Sad Ending.
Ketika begitu menikmati setiap alur cerita, kita pun harus
mengakhirinya dengan sebuah akhir cerita. Ketika tidak menyukai alur
cerita, kita harus tetap mengikutinya hingga sampai di akhir cerita.
Seberapa penasarankah dirimu dengan akhir ceritanya? Tetap saja harus
mengikuti alur ceritanya. Mungkin kita bisa mempercepat ceritanya dengan
lansung menuju ke episode akhir, tetapi itu tidak seseru ketika
mengikuti alurnya.
Kehidupan layaknya sebuah film. Film tentang hidup dan kehidupan. Menariknya, kita tak bisa menebak akhirnya. Hanya bisa mengikuti setiap alur kehidupan, menikmatinya, mengisinya dengan ibadah padaNya. Hanya keyakinan bahwa akan ada akhir yang baik untuk yang berusaha baik, akan ada syurga untuk yang senantiasa beriman dan bertaqwa padaNya,dan akan ada cintaNya untuk yang mencintaiNya. Selebihnya, sebesar apapun penasaran kita akan akhir hidup ini, kita tak bisa lansung menuju episode akhir atau sekedar mengintip bagaimana akhirnya. Nikmati alurnya, itu akan jadi lebih seru dibandingkan ketika ingin cepat sampai diakhir karena ketika sampai diakhir, kita mungkin akan rindu pada alurnya. So, Ikuti alurnya, jangan sampai menyesal ketika sampai diakhir cerita. :) :) :) :)
Kehidupan layaknya sebuah film. Film tentang hidup dan kehidupan. Menariknya, kita tak bisa menebak akhirnya. Hanya bisa mengikuti setiap alur kehidupan, menikmatinya, mengisinya dengan ibadah padaNya. Hanya keyakinan bahwa akan ada akhir yang baik untuk yang berusaha baik, akan ada syurga untuk yang senantiasa beriman dan bertaqwa padaNya,dan akan ada cintaNya untuk yang mencintaiNya. Selebihnya, sebesar apapun penasaran kita akan akhir hidup ini, kita tak bisa lansung menuju episode akhir atau sekedar mengintip bagaimana akhirnya. Nikmati alurnya, itu akan jadi lebih seru dibandingkan ketika ingin cepat sampai diakhir karena ketika sampai diakhir, kita mungkin akan rindu pada alurnya. So, Ikuti alurnya, jangan sampai menyesal ketika sampai diakhir cerita. :) :) :) :)
Kamis, 05 Desember 2013
Ceritaku : Tombol Sakti itu :)
"Robbi
Shrohli Sodri Wa Yassirli Amri Wahlul U’datan militsani Yafqohu qouli :
Wahai Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan
lancarkanlah lidahku"
Ketika bang Tere mengingatkanku tentang bacaan itu tadi pagi, aku pun
tersenyum simpul dan mulai melafalkannya dengan sepenuh hati. Berharap
Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mendengarnya dan mengabulkannya.
Akupun memulai hari dengan sekelumit agenda yang telah kurencanakan. Walau sedikit takut, ku yakinkan hati ini dengan doa tadi. Usai Kuliah pengantar, kira-kira jam 11, ku putuskan berangkat ke suatu tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Syukurlah, ada teman yang mau menemani. Dengan modal rute yang diberitahukan teman tadi malam, kami putuskan untuk ikut saja dengan saran tersebut. Lagi-lagi Alhamdulillaah sampai ditempat tujuan dengan selamat (lebay ya..hehe).
Bangunan yang tergolong elite itu berdiri kokoh dan penuh dengan manusia yang sibuk bertugas. Ku hampiri salah satu petugas untuk menanyakan ruangan yang ingin ku kunjungi. Ternyata cukup berjalan lurus, belok kiri, trus kanan, dan lurus. Ketika memasuki ruangan, petugas disana cukup ramah menyambutku dan menjawab setiap pertanyaanku. Walaupun terkadang ada jawaban yang tak sesuai yang berarti belum bisa dijawab, setidaknya aku mendapat cluenya.
Kemudian, berdasarkan saran petugas ruangan tadi, aku dan temanku memutuskan menuju lantai 6 gedung ini. Disana, aku juga menemukan jawaban pertanyaanku selama ini dari seorang petugas. Hingga usailah pencarianku kali ini.
Memutuskan untuk pulang itu memang ide yang bagus. Namun, hati nurani berkata jangan dan menyarankan untuk menemui beliau, bapak yang sejak beberapa bulan yang lalu sudah ku temui 4 kali. Ini adalah kelima kalinya. Dengan modal bahan dari tempat tadi dan beberapa bahan yang barusan ku googling, dengan PD-nya menemui beliau. Ternyata aku pun surprise dengan tanggapan beliau, sepertinya apa yang beliau minta tak serumit yang ada difikiranku. Sejenak berkonsultasi, aku pun kehabisan bahan untuk ditanyakan. Hingga pertanyaan terakhir terucap : “Setelah ini apalagi ya pak?. Aku syok dengan jawaban bapaknya : “Kamu maju saja lagi, dari pada lama2, nanti diskusi waktu ujian, kasian ortu klo gara2 skripsi kamu telat tamat”. Dalam hati aku bertanya : “serius pak,.semudah itukah? Bapaknya kayaknya gag tau klo aku baru tahun 3, baru megang skripsi, bukan 2010 atw 2009, atw apa karena mukaku ketuaan kali ya?. Ku tenangkan fikiran dan mencoba menjelaskan pada bapaknya bahwa aku belum bertemu pembimbing 2. Bapak itu pun menjawab : “Ya, berarti temui dulu pembimbing 2”
Itulah sekelumit kisah hari ini. Bangunan itu yang masih tersimpan dihipokampusku. Ya dia adalah Rumah Sakit Semen Padang. Pembicaraan dengan bapak tadi pun masih terbayang dibenakku. Selapang itukah? Semudah itukah? Selancar itukah? Kita tak pernah tahu. Dia yang Maha Kuasa, Maha segala. Kita, hambaNya hanya bisa berencana, berusaha, beribadah, dan berdoa padaNya :
“Robbi Shrohli Sodri Wa Yassirli Amri Wahlul U’datan militsani Yafqohu qouli : Wahai Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lancarkanlah lidahku”
Akupun memulai hari dengan sekelumit agenda yang telah kurencanakan. Walau sedikit takut, ku yakinkan hati ini dengan doa tadi. Usai Kuliah pengantar, kira-kira jam 11, ku putuskan berangkat ke suatu tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Syukurlah, ada teman yang mau menemani. Dengan modal rute yang diberitahukan teman tadi malam, kami putuskan untuk ikut saja dengan saran tersebut. Lagi-lagi Alhamdulillaah sampai ditempat tujuan dengan selamat (lebay ya..hehe).
Bangunan yang tergolong elite itu berdiri kokoh dan penuh dengan manusia yang sibuk bertugas. Ku hampiri salah satu petugas untuk menanyakan ruangan yang ingin ku kunjungi. Ternyata cukup berjalan lurus, belok kiri, trus kanan, dan lurus. Ketika memasuki ruangan, petugas disana cukup ramah menyambutku dan menjawab setiap pertanyaanku. Walaupun terkadang ada jawaban yang tak sesuai yang berarti belum bisa dijawab, setidaknya aku mendapat cluenya.
Kemudian, berdasarkan saran petugas ruangan tadi, aku dan temanku memutuskan menuju lantai 6 gedung ini. Disana, aku juga menemukan jawaban pertanyaanku selama ini dari seorang petugas. Hingga usailah pencarianku kali ini.
Memutuskan untuk pulang itu memang ide yang bagus. Namun, hati nurani berkata jangan dan menyarankan untuk menemui beliau, bapak yang sejak beberapa bulan yang lalu sudah ku temui 4 kali. Ini adalah kelima kalinya. Dengan modal bahan dari tempat tadi dan beberapa bahan yang barusan ku googling, dengan PD-nya menemui beliau. Ternyata aku pun surprise dengan tanggapan beliau, sepertinya apa yang beliau minta tak serumit yang ada difikiranku. Sejenak berkonsultasi, aku pun kehabisan bahan untuk ditanyakan. Hingga pertanyaan terakhir terucap : “Setelah ini apalagi ya pak?. Aku syok dengan jawaban bapaknya : “Kamu maju saja lagi, dari pada lama2, nanti diskusi waktu ujian, kasian ortu klo gara2 skripsi kamu telat tamat”. Dalam hati aku bertanya : “serius pak,.semudah itukah? Bapaknya kayaknya gag tau klo aku baru tahun 3, baru megang skripsi, bukan 2010 atw 2009, atw apa karena mukaku ketuaan kali ya?. Ku tenangkan fikiran dan mencoba menjelaskan pada bapaknya bahwa aku belum bertemu pembimbing 2. Bapak itu pun menjawab : “Ya, berarti temui dulu pembimbing 2”
Itulah sekelumit kisah hari ini. Bangunan itu yang masih tersimpan dihipokampusku. Ya dia adalah Rumah Sakit Semen Padang. Pembicaraan dengan bapak tadi pun masih terbayang dibenakku. Selapang itukah? Semudah itukah? Selancar itukah? Kita tak pernah tahu. Dia yang Maha Kuasa, Maha segala. Kita, hambaNya hanya bisa berencana, berusaha, beribadah, dan berdoa padaNya :
“Robbi Shrohli Sodri Wa Yassirli Amri Wahlul U’datan militsani Yafqohu qouli : Wahai Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lancarkanlah lidahku”
Rabu, 04 Desember 2013
Tulisanku : Bagaimanakah Rasanya Kecewa?
Tahukah
bagaimana rasanya kecewa? Kecewa ketika planning tak terlaksana. Kecewa
ketika keinginan tak tercapai. Kecewa ketika impian tak tergapai.
Rasanya memang pahit dan memilukan. Sungguh tak diharapkan.
Namun, tahukah kamu bagaimana cara menenangkannya dan menyejukkan hati yang kecewa? Semua adalah takdir Tuhan. Dia, yang maha kuasa, punya takdir terbaikNya. Kita, hambaNya hanya bisa berencana, berusaha, dan berdo’a. Cukup beristighfar, tarik nafas yang dalam, hembuskan, tenangkan fikiran, bersabar, dan mulailah lagi melangkah, biarkan kekecewaan itu hanya sebagai ujian, dan lagi-lagi mulailah melangkah dan dan mencoba.
Sepertinya saran diatas terlihat mudah. Namun, sekuat tenaga mencoba mengaplikasikan. Apakah akan berhasil dengan mudah. Ayo kita coba. Setidaknya lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.
Setidaknya kali ini aku merasa mulai tenang. Setiap hembusan nafas berusaha mensuplai oksigen ke otak hingga ia berusaha bekerja dengan baik. Tenanglah, bersabarlah, berusahalah, bergeraklah, bersyukurlah, yakinlah, dan berdoalah.
Namun, tahukah kamu bagaimana cara menenangkannya dan menyejukkan hati yang kecewa? Semua adalah takdir Tuhan. Dia, yang maha kuasa, punya takdir terbaikNya. Kita, hambaNya hanya bisa berencana, berusaha, dan berdo’a. Cukup beristighfar, tarik nafas yang dalam, hembuskan, tenangkan fikiran, bersabar, dan mulailah lagi melangkah, biarkan kekecewaan itu hanya sebagai ujian, dan lagi-lagi mulailah melangkah dan dan mencoba.
Sepertinya saran diatas terlihat mudah. Namun, sekuat tenaga mencoba mengaplikasikan. Apakah akan berhasil dengan mudah. Ayo kita coba. Setidaknya lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.
Setidaknya kali ini aku merasa mulai tenang. Setiap hembusan nafas berusaha mensuplai oksigen ke otak hingga ia berusaha bekerja dengan baik. Tenanglah, bersabarlah, berusahalah, bergeraklah, bersyukurlah, yakinlah, dan berdoalah.
Sabtu, 30 November 2013
Kedokteran : Hidup kelapa!!! :D
Berdasarkan penelitian Keys dkk, Seven Countries Study, 1970, ditemukan bahwa ada hubungan makanan dengan penyakit jantung. Asupan tinggi lemak jenuh, tinggi kelesterol, rendah lemak tak jenuh berisiko menderita penyakit jantung, seperti infark miokard dimana asupan ini akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah sehingga terjadi aterosklerosis. JIka aterosklerosis terjadi pada pembuluh darah di jantung, seperti arteri koroner, maka akan berujung pada infark miokard dan juga dapat berujung pada gagal jantung.
Pada Masyarakat tropis, terutama asia tenggara, sejak nenek moyang hingga sekarang, kelapa merupakan salah satu sumber lemak terbesar dalam asupan makanan sehari-hari dan bagian dari food culture. Sedangkan pada negara barat, lemak hewani merupakan sumber lemak terbesar. Dari ilmu gizi, kelapa dan lemak hewani mengandung asam lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan akan berisiko aterogenik dibandingkan asam lemak tak jenuh. Terhadap profil darah, asam lemak jenuh yang memiliki C12 sampai C 16 dapat meningkatkan LDL dan HDL. Peningkatan LDL (biasa disebut kolesterol jahat) inilah yang berhubungan dengan hiperlipidemia.
Berdalih pada hal diatas, masyarakat tropis mulai mengurangi konsumsi kelapa, seperti mengganti konsumsi santan dengan susu, dll. Padahal, pada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat minang, kelapa merupakan makanan yang penting. Sejak nenek moyang, masyarakat minang telah mengkonsumsi kelapa untuk bertahan hidup, menghabiskan bahkan berpuluh-puluh kelapa untuk membuat santan pada rendang atau gulai untuk dikonsumsi sehari-hari atau pada acara besar. Bahkan jika tidak ada lauk, memakan nasi dengan santan atau kuah gulai saja sudah terasa nikmat. Hingga, para penelitipun tertarik untuk meneliti lebih lanjut apakah mengkonsumsi kelapa atau santan merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskuler.
Menariknya, beberapa penelitian menyimpulkan bahwa dalam mengkonsumsi lemak jenuh, walaupun memiiki struktur yang sama dengan lemak hewani, ternyata minyak kelapa, virgin coconut oil, mempunyai efek protektif, anti mikroba dan anti virus. Minyak kelapa yang mengandung 90% asam lemak jenuh, 50% nya mengandung asam lemak dengan C<12. Asam lemak dengan C< 12 inilah yang disebut asam lemak laurat yang memilki efek efek protektif, anti mikroba dan anti virus. Selain itu, ternyata, dalam mengkonsumsi santan, kadar asam lemak yang diterkandung lebih sedikit karena dalam santan lebih banyak mengandung air dari pada lemak itu sendiri. Berdasarkan penelitian Prof. Dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MSc, PhD, ahli gizi Fakultas Kedokteran Unand, ditemukan bahwa pada masyarakat minang, tidak terdapat perbedaan konsumsi kelapa pada penderita PJK dan orang sehat. Oleh karena itu, bagi penderita penyakit jantung, lebih aman mengkonsumsi kelapa atau santan sebagai sumber lemak tubuh dibandingkan mengkonsumsi lemak hewani, minyak goreng, atau makanan yang mengandung kolesterol lainnya, tetapi tentu dengan jumlah yang tidak berlebihan.
Jadi tak ada alasan lagi bagi kita, masyarakat minang untuk menjauhi, meninggalkan atau bahkan membenci kelapa atau santan. Kalau boleh dikatakan, kelapa yang merupakan sumber kehidupan nenek moyang masyarakat minang yang membuat mereka survive sehingga melahirkan kita sebagai generasi penerus, ternyata aman dikonsumsi sebagai sumber lemak tubuh dbanding lemak hewani atau makanan berkolestorel tinggi. Hidup kelapa!!! (KP Nutrisi pada Penyakit Kardiovaskuler , Gizi Klinik)
Puisi : Untukmu Calon Dokter ku
reblogged from ineztiani
Wahai calon dokterku,
Tahukah engkau…?
Menjadi dokter adalah pilihan yang hebat…
Karena ia begitu mulia dan sangat berharga dimataku…
Segala talenta terpatri dalam jiwanya
Mulai dari komunikasinya yang menghangatkan jiwa,
Keahlian seorang detektif dalam diagnosanya,
Jiwa seorang guru yang memberikan pengertian kepada pasiennya,
Kemampuan persuasifnya…
Kesabaran, kegigihan, keuletan, dan tanggung jawab yang diembannya…
Sifat rela berkorbannya, keikhlasannya… dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan…
Terimakasih calon dokterku, karena saat ini, engkau belajar, memahami, mencerna, dan mencari segala sesuatu di kedokteran hanya untukku… calon pasienmu
Tenagamu engkau sumbangkan, lelahmu dalam belajar selalu berusaha engkau tekan, kantukmu engkau lawan…
Dan semua engkau lakukan hanya untuk memberikan yang terbaik bagiku… pasienmu kelak…
Sungguh caldokku, aku tidak tahu harus membalas apa… sungguh mulianya dirimu…
Dan ku yakin engkau akan berkata “tidak, tidak usah dibalas, dan saya hanya manusia biasa, hanya Sang Pencipta yang berkuasa”.
Aku disini selalu berharap engkaulah yang dipilih sang pencipta untuk merawatku kelak… layaknya seperti manusia, ketika aku sakit, ketika aku membutuhkan semangat untuk hidup, dan ketika aku butuh akan perhatian…
Maka dari itu, tersenyumlah…
Aku senang melihatmu tersenyum…
Karena dengan senyummu saja, sakit yang kurasa terasa sirna…
…
Calon dokterku,
Sudah banyak dokter yang tidak mengerti tugasnya, melupakan hatinya, dan tidak mengakui bahwa betapa mulianya ia…
Dan karena itulah aku selalu menunggumu karena aku percaya kelak engkau tidak seperti mereka
Dan karena aku percaya engkau adalah seorang dokter yang berbeda…
Seorang dokter yang akan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati
Seorang dokter yang selalu berusaha sekuat tenaga demi keceriaan pasiennya meski Yang Maha Kuasa menggariskan sesuatu yang bernama takdir padanya.
Aku ingin segera memanggilmu dokter. Dan bukan calon dokter lagi. Bukankah engkau juga ingin segera mendengarnya?
Namun, aku mengerti…. Pelajaran itu tidaklah semudah yang mereka bayangkan…
Maka, berjuanglah caldokku…
Aku, calon pasien pertamamu… akan selalu menantimu…
Aku akan terus memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dapat bertemu denganmu dan mewujudkan impianku untuk menyapamu dengan sebutan ‘dokter’ di ruang praktekmu pagi itu….
Tertanda..
Calon Pasien Pertamamu – Ibu yang selalu merindukanmu
Tulisanku : Ketika Sosok Itu Menjadi Sorotan Tajam
oleh : Nurfazlina
Ketika sosok itu menjadi sorotan tajam, apa kabar dengan impian yang kau anggap mulia itu dan akan menjadi jatidirimu kelak? apa kabar dengan persiapanmu menggambarkan sosok itu didalam dirimu? apakah ia masih terlihat sebagai tantangan?
Sungguh, tulisan ini bukan ingin membela diri atau menyanjung diri dengan profesi yang mungkin akan kugeluti kelak. Sekali lagi bukan. Menurutku, kemuliaan itu bukan dari profesi, bukan dari status, tapi dari bagaimana kamu menjadi profesikan status itu menjadi sosok yang mulia dan “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat[49]:13)
Ketika beberappa mengusut masalah malpraktek, ketidakprofesionalitasan, materialistik, hati nurani, dll, disisi lain, beberapa mempertanyakan bagaimana pengorbanan mereka yang ditempatkan ditempat terpencil. Ya, selalu ada negatif diantara positif dan begitu pula sebalik.
Mulia? Sempurna? apakah didunia ini ada yang bisa dikatakan sempurna dan apakah ada yang tidak pernah berbuat salah.Sosok ini bukanlah kaki tangan Tuhan atau yang sedari dulu dikatakan dewa bagi bangsa sebelum masehi, ia juga hamba-Nya yang berusaha beribadah padaNya, belajar, mengamalkannya, dan senantiasa berharap pertolonganNya.
Aku, kamu, atau kita mungkin akan mempertanyakan lagi tentang apakah atau bagaimana sosok ini. Namun, yang terpenting untukku atau untukmu yang mungkin akan menjadi sosok ini, apakah itu adalah apakah aku pantas menjadi sosok ini dan bagaimana itu adalah bagaimanakah persiapanku yang mungkin kelak akan menjadi sosok ini.
Awalnya, memang senang, atau mungkin ada yang bangga diberi kesempatan untuk berasa dibarisan yang dipersiapkan menjadi sosoknya kelak. Namun, disisi lain, ada yang sedih, menangis, meraung betapa beratnya perjuangan mejadi sosok ini dan betapa kompleksnya tuntutan menjadi sosok ini.
Kemudian, seiring waktu, rasa senang dan bangga itu hilang oleh beban yang dipikulkan dipundak. Namun, rasa sedih dan takut itu hilang oleh kekaguman dan kenikmatan menimba ilmu yang menjadikanku berdecak kagum pada Sang Pencipta. Selalu ada positif diantara negatif dan sebaliknya. Itulah yang membuat aku, kamu, kami, atau kita mencoba untuk bertahan sembari memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik.
Akhirnya, kita tak pernah tau apakah sosok itu akan berhasil digapai atau apakah sosok mungkin yang kau raih kelak adalah sosok yang memang diharapkan. Semua kembali pada niat yang tulus dan suci, dibarengi usaha yang lurus dan serius,dan tujuan yang baik.
Cayoo, Hamasah, introspeksi diri dan memperbaiki diri.
Ketika sosok itu menjadi sorotan tajam, apa kabar dengan impian yang kau anggap mulia itu dan akan menjadi jatidirimu kelak? apa kabar dengan persiapanmu menggambarkan sosok itu didalam dirimu? apakah ia masih terlihat sebagai tantangan?
Sungguh, tulisan ini bukan ingin membela diri atau menyanjung diri dengan profesi yang mungkin akan kugeluti kelak. Sekali lagi bukan. Menurutku, kemuliaan itu bukan dari profesi, bukan dari status, tapi dari bagaimana kamu menjadi profesikan status itu menjadi sosok yang mulia dan “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat[49]:13)
Ketika beberappa mengusut masalah malpraktek, ketidakprofesionalitasan, materialistik, hati nurani, dll, disisi lain, beberapa mempertanyakan bagaimana pengorbanan mereka yang ditempatkan ditempat terpencil. Ya, selalu ada negatif diantara positif dan begitu pula sebalik.
Mulia? Sempurna? apakah didunia ini ada yang bisa dikatakan sempurna dan apakah ada yang tidak pernah berbuat salah.Sosok ini bukanlah kaki tangan Tuhan atau yang sedari dulu dikatakan dewa bagi bangsa sebelum masehi, ia juga hamba-Nya yang berusaha beribadah padaNya, belajar, mengamalkannya, dan senantiasa berharap pertolonganNya.
Aku, kamu, atau kita mungkin akan mempertanyakan lagi tentang apakah atau bagaimana sosok ini. Namun, yang terpenting untukku atau untukmu yang mungkin akan menjadi sosok ini, apakah itu adalah apakah aku pantas menjadi sosok ini dan bagaimana itu adalah bagaimanakah persiapanku yang mungkin kelak akan menjadi sosok ini.
Awalnya, memang senang, atau mungkin ada yang bangga diberi kesempatan untuk berasa dibarisan yang dipersiapkan menjadi sosoknya kelak. Namun, disisi lain, ada yang sedih, menangis, meraung betapa beratnya perjuangan mejadi sosok ini dan betapa kompleksnya tuntutan menjadi sosok ini.
Kemudian, seiring waktu, rasa senang dan bangga itu hilang oleh beban yang dipikulkan dipundak. Namun, rasa sedih dan takut itu hilang oleh kekaguman dan kenikmatan menimba ilmu yang menjadikanku berdecak kagum pada Sang Pencipta. Selalu ada positif diantara negatif dan sebaliknya. Itulah yang membuat aku, kamu, kami, atau kita mencoba untuk bertahan sembari memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik.
Akhirnya, kita tak pernah tau apakah sosok itu akan berhasil digapai atau apakah sosok mungkin yang kau raih kelak adalah sosok yang memang diharapkan. Semua kembali pada niat yang tulus dan suci, dibarengi usaha yang lurus dan serius,dan tujuan yang baik.
Cayoo, Hamasah, introspeksi diri dan memperbaiki diri.
Ceritaku : Barusan...
oleh : Nurfazlina
Barusan ketika membesuk kakek di RS, sepertinya tak ada aksi mogok. Ketika melewati setiap gang RS pun semua sepertinya sama seperti kemaren dan kemarennya lagi. Aku pun berfikir di perjalanan pulang. Mencoba mengingat kembali cerita dengan tante barusan. Bagaimana aksi mogok yang sedang tayang di TV, bagaimana kehidupan Coass yang dia lihat saat menemani kakek dioperasi, dan masih banyak lagi bagaimananya. Aku hanya tersenyum simpul. Aku terkadang kasihan dan sedih pada masalah yang miris saat ini. Aku terkadang kagum pada sosok disana, namun terkadang juga bertanya, masihkah pantas dikagumi. Aku terkadang bingung apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun beralih pada tumpukan buku yang harus dibaca dan skripsi yang sedari tadi menunggu. Setidaknya ini sedikit menjawab keraguanku. Bahwa berusahalah untuk fokus pada impianmu. Kelak, mari kita lihat apa yang akan terjadi pada sosok ini dan bangsa ini.
Barusan ketika membesuk kakek di RS, sepertinya tak ada aksi mogok. Ketika melewati setiap gang RS pun semua sepertinya sama seperti kemaren dan kemarennya lagi. Aku pun berfikir di perjalanan pulang. Mencoba mengingat kembali cerita dengan tante barusan. Bagaimana aksi mogok yang sedang tayang di TV, bagaimana kehidupan Coass yang dia lihat saat menemani kakek dioperasi, dan masih banyak lagi bagaimananya. Aku hanya tersenyum simpul. Aku terkadang kasihan dan sedih pada masalah yang miris saat ini. Aku terkadang kagum pada sosok disana, namun terkadang juga bertanya, masihkah pantas dikagumi. Aku terkadang bingung apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun beralih pada tumpukan buku yang harus dibaca dan skripsi yang sedari tadi menunggu. Setidaknya ini sedikit menjawab keraguanku. Bahwa berusahalah untuk fokus pada impianmu. Kelak, mari kita lihat apa yang akan terjadi pada sosok ini dan bangsa ini.
Sabtu, 14 September 2013
Tulisanku : Lantas, Apa Yang Bisa Kita Lakukan?
14 September 2013 pukul 3:46
Sekali lagi, sebenarnya tidak ada penghalalan untuk profesimu yang mengharuskan untuk berhubungan dengan lawan jenis, bahkan walaupun itu hal yang terpaksa karena memang belum ada aturan/kebijakan yang menjadikan praktekmu dilakukan pada sesama jenis. Maka, jika memang itu tidak halal, lantas apa yang bisa kita lakukan, wahai calon dokter muslim/muslimah? Ya, yang bisa kita lakukan adalah senantiasa meminimalkan bercontact dengan pasien lawan jenis. Jika memang tidak bisa dihindari, senantiasa beristighfar, memohon ampun padaNya dan meningkatkan amal ibadah untuk mengganti dosa-dosa itu. :) Sebagai contoh, ketika Skill Lab, Yang menjadi OP (Orang Percobaan) kebanyakan adalah laki-laki karena aurat laki-laki biasanya masih bisa terjaga. Jika OP-nya yang ditentukan dosen adalah lawan jenis, sebisa mungkin coba hindari dan minimalkan bercontact dengannya, kemudian beristighfarlah, mohon ampun padaNya, dan tingkatkan amal ibadah sebagai penebus dosa-dosa. Jika situasi memungkinkan (seperti materi yang tidak mengharuskan membuka aurat dan hanya memegang atau meraba saja) dan boleh memilih atau mengajukan OP pada dosen, sebaiknya dilakukan dengan sesama jenis. :)
Hal ini juga terjadi pada jurusan/ profesi lain. Contoh saja jurusan ekonomi atau akuntansi yang tak bisa mengelak profesi pada bank-bank konvensional. Padahal, secara ekonomi islami, kita tau bahwa sistem bunga yang digunakan adalah riba. Ya, lantas apa yang bisa kamu lakukan, wahai calon ahli ekonomi atau akuntan? Yang bisa lakukan adalah jika yakin, berusahalah mencari pekerjaan pada bank-bank yang memang syar’i seperti saat ini telah menjamur bank-bank syariah. Nah, bagaimana jika sulit, jika telah diterima dan bekerja di bank konvensional, atau jika tawaran bekerja dibank konvensional ada didepan mata. Sebenarnya ketika bekerja di bank konvensional, gaji yang diperoleh adalah upah atas kerja. Fair bukan? Ya, tetapi sekali lagi tidak ada penghalalan untuk hal ini. Senantiasalah beristighfar, memohon ampun padaNya, dan meningkatkan amal ibadah untuk mengganti dosa-dosa itu. Dan untuk hal simple dulu adalah jangan gunakan bunga bank konvensional untuk kebutuhan, untuk biaya hidup, atau untuk hal-hal yang akan menjadi darah daging. Tetapi gunakan bunga itu untuk kemaslahatan umat, untuk hal-hal yang tidak akan mengalir pada darah ditubuhmu dan keluargamu karena sekali lagi bunga adalah riba, bukan?
Bagaimana dengan jurusan/profesi lain?
Salam semangat :) salam perjuangan :) untuk yang berusaha memperbaiki diri dan berusaha meniti hidup dijalanNya :)
dikutip dari catatan Liqo’ dan Tasqif Minggu ini :)
NB : Jika ada yang salah dan kurang tepat dalam ditulisan diatas, mohon dikoreksi ya. Ini adalah apa yang bisa saya tangkap dan simpulkan. Sungguh kelalaian dan kesalahan adalah karena datangnya dari diri saya pribadi :)
Rabu, 11 September 2013
Tulisanku : Egoku, menyakitimu?
11 September 2013 pukul 6:52
Sebenarnya, Tulisan ini terinspirasi dari bahasan LO dalam kuliah Psikiatri minggu ini. Bagian ini pun dibahas layaknya kuliah Psikologi. Mungkin teman-teman dari Psikologi lebih memahami dan mendalami hal ini. Ini hanya sebagian kecil ilmu yang dibahas sebagai pengantar untuk lebih memahami gangguan kepribadian :)
Secara teoritis, Ego dibawa sejak lahir, tetapi berkembang seiring dengan hubungan individu dengan lingkungan. Prinsipnya realitas atau kenyataan. Untuk bisa bertahan hidup, individu tidak bisa semata-mata bertindak sekedar mengikuti impuls-impuls atau dorongan-dorongan, individu harus belajar menghadapi realitas. Sebagai ilustrasi dari pernyataan ini, ”seorang anak harus belajar bahwa dia tidak bisa mengambil makanan karena terdorong secara impulsif ketika dia melihat makanan”. Jika ia mengambil makanan itu dari orang yang lebih besar,maka ia akan kena pukul. Ia harus memahami realita sebelum bertindak. Bagian dari jiwa atau struktur kepribadian yang menunda impuls secara langsung dan memahami realita seperti ini disebut ego. Menurut Freud, ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realita, berisi penalaran dan pemahaman yang tepat. Ego berusaha menahan tindakan sampai dia memiliki kesempatan untuk memahami realitas secara akurat, memahami apa yang sudah terjadi didalam situasi dimasa lalu, dan membuat rencana yang realistik dimasa depan.
Ego mempunyai beberapa fungsi diantaranya:
a) Menahan menyalurkan dorongan
b) Mengatur desakan dorongan-dorongan yang sampai pada kesadaran
c) Mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai tujuan yang diterima
d) Berfikir logis
e) Mempergunakan pengalaman emosi-emosi kecewa sebagai tanda adanya suatu yang salah,yang tidak benar,agar kelak dapat dikategorikan dengan hal lain untuk memusatkan apa yang akan dilakukan sebaik-baiknya.
Sepertinya bahasan diatas terlalu rumit dan memusingkan bukan. Mari kita mulai dari pemahaman simple.
Ego adalah mekanisme psikologis manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya SENDIRI. Ego tersebut berupa dorongan yang secara emosional membuat manusia untuk selalu mencari dan mengusahakan apa apa yang dibutuhkannya. Ego yang sangat simpel adalah ego untuk makan, minum, bernapas, tidur, ke kamar mandi, menikah, dan lain sebagainya. Ego yang sedikit belibet adalah ego untuk mempertahankan diri, mempunyai tempat tinggal, dan perasaan aman secara umum atau bisa disebut safe zone. Ego yang rumit adalah ego untuk merasa DIAKUI, DICINTAI, DIHARGAI, DIPAHAMI, DIHORMATI, MERASA MEMILIKI, dan lain sebagainya.
Ego rumit inilah yang seringkali membuat masalah dalam hubungan antar manusia.
Setiap orang mempunyai ego rahasia yang tidak ingin diketahui oleh orang lain, tetapi ingin orang lain memenuhi ego tersebut. Terdengar sangat EGOIS bukan? Ego tersebut biasanya berasal dari kejadian buruk di masa lalu. Hal tersebut adalah wajar, karena manusia adalah makhluk yang berakal, dan tentu saja menggunakan segala cara untuk menghindari rasa SAKIT di masa lalu terulang kembali. Memberitahukan ego (baca : keinginan terpendam) tersebut kepada orang disekitar, dengan jujur, terbuka, dan apa adanya, adalah hal yang sangat dihindari. Alasannya antara lain malu, harga diri, dan dalih “menjaga perasaan orang disekitar kita”.
Contohnya, ada seseorang yang di masa kecilnya dikucilkan oleh lingkungannya. Lambat laun ia tumbuh menjadi seseorang yang rendah diri. Ketika dewasa kelak, ia akan merindukan seseorang yang bisa menerima dia apa adanya, menjadi tempat berlabuh terakhir bagi hatinya yang terombang ambing oleh ganasnya realita kehidupan.
Menariknya, ego memang merupakan respon alami jiwa terhadap yang terjadi dalam kehidupan, tetapi
seseorang dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Apa yang bisa kita lakukan?
Yang jelas, jangan berharap dapat menghilangkan ego seseorang, setidaknya dalam waktu yang singkat. Ego adalah mekanisme setiap orang untuk mempertahankan kedamaian hidupnya. Bukankah itu yang memang dikejar oleh semua orang, kedamaian dalam hidup, perasaan tenang, dan kedamaian spiritual?
Kita hanya bisa MENYADARI bahwa setiap orang punya ego masing masing, punya keinginan masing masing, yang sering kali kita tidak bisa saling mengungkapkan secara terbuka hal hal tersebut (dan tidak bisa saling menebak).
Maka, kita jangan menghakimi seseorang yang kelihatannya punya ego BESAR. Kita tentunya juga memiliki ego masing-masing bukan?, Cukup dengan MENYADARI dan saling MENGINGATKAN dengan cara yang anggun, maka hubungan antar manusia akan berjalan dengan baik.
Salam Semangat :) untuk yang berusaha memperbaiki diri dan berusaha mengajak orang disekitarnya menuju kebaikan :-)
Keep smiling menjalani hari-hari dalam hidup :)
Langganan:
Postingan (Atom)


