Selasa, 30 Juli 2013

How Important The Honesty In Our Life Is



Oleh Nurfazlina, 2nd class of SMP N 1 Candung
written and read in Muhadharah SMP N 1 Candung 
 

Islam teach us to do honest because with honesty our life will be welfare, happy, unafraid, and secured. Rasulullaah has given us many such about honesty in his life. Holy Qur’an and Hadits also have explained about honesty to moslem very much.

One of Rasulullaah’s character is Siddiq that means honest. One time, there was a person asked to Siti Aisyah: “Hai Aisyah, How is the character of Rasulullaah?” Aisyah answer : “The Rasulullaah’s character is Holy Qur’an and one of the content is about honest”.

One time, Rasulullaah SAW brought A widow’s goods. The widow named Siti Khadijah. Because of his honesty Rasulullaah can maste a half traffic trade between Mecca and Syam.
Muhammad prophet said “Shouldly you always do honest because the honesty will bring you to benevolince and the benevolince will bring to syurga”.

Based on what Rasulullaah says above, clearly Islam ask doing honest in our daily life. Honest is a good behaviour that become recources of all thing in life. Honest is very useful in altering the lucky and walfare. The honest people ‘ll be liked by many people because they are not worryed about his or her behaviour. The honesty are very advantages for ourselve and for other people.

Building A Prosperous Nation



oleh Nurfazlina, 2nd class of SMP N 1 Candung
written as preparation text in Speech Competition Of Agam Regency


We admit that Indonesia is rich nation because Indonesia has a lot of natural resources, a lot of people, large archipelego, and large seas. 

Indonesia can be a prosperous nation if we realize it, but whether Indonesia is a prosperous nation or not. Indonesia is not a prosperous nation. In reality, Indonesia has many troubles as far instance.

In Aceh, happened tsunami which made many people died. Aceh Province was not like before. Even, Aceh was badder than before. A province that is supposed as frontyard Mecca. Nao it is only a province which need to be repaired after tsunami. In Central Java and Yogyakarta, happened earthquake which gulpeddown many victims. There were children lost their parent. On the otherhand. There were many parent lost their children. Many house and building were damage and broken . They are only one of the example of the trouble. There are still many other example.

Besides, Indonesia is also facing crisis economics. All goods and needs are expensive. Even, the prises of oil are also expensive. Many functionaries do corruption, they have been taking people’s money but in someplace, people fell hunger and many children don’t go to school and get deserver education.

Of course, you can see and fell how situation in Indonesia today is. We as Indonesian must build Indonesia in order Indonesia can be a prosperous nation. To build a prosperous nation is not as easy as to turn our palm. We must do many swords ang changes, not only government do it, but all Indonesian, our selver, pamily, society. And nation.

If we all try changing Indonesia to be prosperous nation, it is not a dream anymore. As a student, we can alter it with studyng seriously and diligently. School is one of place which can creat a nation expected generation. If school are succed to creat quality and good attituded generation, there are no corruption anymore. 

Besides, if we, as a student, can closing our soul to Allah, it will make our life secured, peace, safe, ang avoided from bad attitude. As what Allah says in Ar-Rad : 11
Actually, Allah doesn’t change situation a gruop (people), so they change situation which be by themselve (Qs Ar-Rad :11). From the Chepter, we can know that is if we want to change Indonesia in to a prosperous nation, we had to change ourselve before.

Sabtu, 27 Juli 2013

Jejak-Jejak Dakwah (Cerpen)

Oleh Nurfazlina, Staf Departemen Peduli Umat


Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan
 Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna di telan masa
Segores luka dijalan Allah
Kan menjadi saksi pengorban
...........................................

Tiba-tiba, kami peserta Medika 1 diminta untuk berdiri, melafalkan dan memaknai setiap untaian kata yang terucap dan tertulis di layar infocus.  Dalam setiap lafal yang terucap, bulu kudukku pun berdiri, darah ditubuh ini seakan-akan mengalir deras menuju jantung untuk dipompa, air mata mendesak keluar dari kelenjar lacrima, dan saraf-saraf otak mencoba berkoneksi untuk merangkai memory beberapa tahun silam. Sungguh, lagu ini mengingatkanku, membuncahkan perasaanku, dan membangkitkan kembali semangatku.


Masa SMA

Semua berawal disini. Semua berawal dari sebuah perkumpulan yang ku kenal dengan nama Forum Study Islam. Awalnya, Aku mengikuti  kegiatan keputrian yang diadakan FSI setiap jum’at hanya untuk mengisi waktu luang disela-sela menunggu waktu belajar sore. Dengan sedikit iseng, ku pun masuk dalam lingkaran dakwah SMA ini. Namun, entah mengapa pada minggu-minggu berikutnya, aku jadi ketagihan ikut forum. Yang ku ingat, bahasannya tentang islam, muslimah, Rasulullaah, ibadah, dll. Bahkan, yang paling ku ingat sampai sekarang adalah sosok akhwat anggun yang senantiasa ikhlas berbagi ilmu dan entah mengapa mata dan hatiku sejuk ketika bertemu dengannya. Awalnya memang masih sangat dangkal, seperti sebuah sentuhan kecil kepermukaan hatiku. Namun, dibalik semua itu, kakak-kakak akhwat ini sepertinya juga menyusupkan ke lubuk hatiku bahwa berusaha menjadi shalehah adalah salah satu contoh dakwah. Akupun bertanya-tanya tentang apa itu “dakwah”

Seiring berjalannya waktu, Aku pun memutuskan menjadi pengurus lingkaran dakwah SMA ini dengan alasan simple yaitu mencari tau apa itu “dakwah”. Diawali dengan mengikuti beberapa pelatihan kepemimpinan islam yang diadakan FSI sekaligus menjadi panitia dalam beberapa pelatihan kepemimpinan tersebut, ku mulai melihat sisi lain dari dakwah, sisi yang lebih luas yang sebelumnya belum ku sentuh yaitu dakwah tidak hanya melalui usaha menjadi sosok shalehah yang bermanfaat dan contoh bagi lingkungan sekitar, namun juga melalui usaha, program, waktu, harta benda, jiwa raga, dan sebagainya untuk menyiarkan dan menegakkan nilai-nilai islam. Dakwah bisa dilakukan secara perorangan seperti menjadi penceramah, dll atau secara berkelompok (jama’i) yang salah satunya melalui FSI ini. Hal inilah yang menguatkanku untuk bertahan membagi waktu antara sekolah dan FSI. Ternyata, dibalik lelah yang menguasai saat ikut rapat forum dan saat menjadi panitia pelatihan dan kegiatan forum, ada rasa semangat yang kemudian melunturkan rasa lelah. Dibalik kesibukan yang mengorbankan sedikit waktu belajar untuk ikut rapat forum dan untuk menjadi panitia kegiatan forum, ada rasa lapang yang menjadikan waktu yang kosong tidak terbuang sia-sia dan waktu belajar yang tersisa mnjadi optimal digunakan. Terakhir, dibalik semua lelah, pengorbanan waktu, pengorbanan jiwa dan raga, dan pengorbanan materi, ada keindahan yang tak terlukiskan dalam nuansa lingkaran dakwah SMA ini.

Dakwah jama’i di FSI memang indah, tetapi dakwah secara perorangan melalui ceramah saat bulan Ramadhan di mesjid dekat rumah pun tak kalah memberi feel yang luar biasa pada diriku. Awalnya, memang malu-malu, takut, dan ada perasaam terpaksa karena diminta pihak pengurus mesjid untuk mengisi ceramah yang kosong karena pencermah tidak ada, tetapi ketika duduk didepan jama’ah mesjid, semua berubah, seperti ada perasaan supranatural yang memberanikan diri menyampaikan materi. Dalam hati, akupun bertanya-tanya inikah yang biasa disebut dengan pertolongan Allah dalam jalan dakwah.

Namun, dibalik semua keindahan yang terlukis ketika berusaha berubah dan merangkai kata dakwah dalam diri, tentu ada rintangan dan ujian yang senantiasa menyapa. Mulai dari orang tua yang heran dan mempertanyakan perubahan yang terjadi pada diriku dan kesibukanku, orang tua yang melarang untuk menginap saat kepanitian pelatihan akhir pekan, orang tua yang mempertanyakan apakah aku ikut aliran sesat, dsb. Sungguh, awalnya memang menguras tenaga untuk menjelaskan pada orang tua tentang kesibukanku dan perubahan pada diriku. Namun, dibalik semua itu, lagi-lagi pertolongan Allah yang menjadikan semua terasa mudah dan melunakkan hati orang tua untuk paham dan menerima. Bahkan orang tua pun akhirnya bisa tersenyum simpul saat melihatku berdiri di mimbar mesjid untuk memberi ceramah ramadhan. Tidak hanya itu, ibu yang awalnya curigaan, kemudian bangga melihatku berdiri menerima piala juara 1 lomba pidato Ramadhan di depan aula sekolah saat pertemuan wali murid penerima zakat Majlis Guru dan bangga melihatku berdiri ditengah lapangan sekolah untuk menerima hadiah karena setiap penerimaan rapor aku selalu masuk ranking 3 besar. Alhamdulillaah dan Subhanallaah, Pertolongan Allah memang luar biasa untuk yang senantiasa berubah dan istiqamah memperjuangkan agamaNya.


Masa Kuliah

Waktupun berjalan. Aku pun memasuki tempat penentuan masa depan dan disinilah ku mulai mengenal kata aktivis dan dakwah kampus. Kampus kedokteran yang terkenal dengan peraturan mahasiswinya wajib memakai rok ini senantiasa mewarnai pengalaman dan perjalananku dalam dunia dakwah kampus. Namun, Disini tak ada lagi FSI. Hanya dengan menambah satu huruf ‘K’ diantara huruf “S” dan “I”, FSI (Forum Study Islam) berubah menjadi FSKI (Forum Study Kedokteran Islam), suatu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bertujuan untuk menegakkan nilai-nilai islam dikampus FK, baik syiar islam, kajian kedokteran islam, kemakmuran mesjid, kajian kemuslimahan, maupun kepeduliaan pada umat atau masyarakat umum melalui aspek pengabdian dibidang kesehatan, sosial, dan ekonomi . Melalui FSKI, Aku pun mengenal dakwah jama’i yang sesungguhnya dengan strategi dakwah yang teratur dan terorganisir. Hal ini didasari pada sebuah ayat : “Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (Qs Ash-Shaff : 4).    Melalui FSKI, aku pun sadar bahwa menjadi seorang dokter adalah profesi yang mulia. Namun, alangkah lebih mulianya jika menjadi seorang dokter dan da’i atau dokter muslim/muslimah karena setiap detik dari waktu seorang dokter adalah nyawa dan setiap detik dari waktu seorang da’i adalah dakwah.

Departemen Syiar Islam (DSI) FSKI adalah departemen yang memperkenalkanku pada kata “syiar”. Dengan  kata-kata “Para Penyiar”, kami para anggota DSI biasa dipanggil. Sebuah ayat senantiasa teringat dibenakku saat malas untuk ikut rapat dan ego menguasai untuk tidak ikut rapat karena alasan tugas kuliah : “Dan hendaklah di antara kau ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Qs Ali Imran : 104). Menurutku, DSI adalah aktualisasi dakwah terhadap diri sendiri dan aktualisasi dakwah kampus karena DSI mengajari untuk menyiarkan islam dihatiku dan menyiarkan islam di kampus FK melalui proker menariknya seperti ceria warna warni islam (Ceriwis), Lembaran Hikmah (Lebah), Jomblo Club, Ramadhan di Kampus (Radius), Islamic 21, dll.

Menulis adalah dakwah. Menjadi pengurus BO Dawa’ FSKI pun turut mengajariku berdakwah melalui tulisan. Sebuah puisi dengan judul “Cinta Allah : La Tahzan” di Buletin Edisi Spesial BO Dawa’ FSKI mewakili suara hatiku untuk berdakwah. Tidak cukup melalui BO Dawa’ FSKI, Aku pun hobi blogging atau menulis di blog mengenai kedokteran islam dan nilai-nilai islam. Check it my blog in www.nurfazlina-alin.blogspot.com dan www.muslimah-doctor.trumblr.com.

Setelah masa jabatan di DSI FSKI dan BO Dawa’ FSKI usai, Aku pun memutuskan untuk berdakwah melalui Departemen Peduli Umat (DPU) FSKI karena kepedulian adalah salah satu bentuk dakwah dan senantiasa berdo’a padaNya agar istiqamah itu tetap ada untuk menjalani dakwah melalui DPU untuk lebih kurang 6 bulan kedepan. Bismillaah dan InsyaAllah, Hamasah Dan Allaahu Akbar !


------ | | |-----


Tiba-tiba, aku pun tersentak dalam lamunan panjang. Lamunan ini ternyata telah menjadi rangkaian kata dan kumpulan frasa yang indah untuk ku baca. Ku pun mulai memutar lagu lain yang sedari tadi ingin untuk didengarkan.

Halo kawan, sahabat muslim tercinta
Kita sambut kemenangan bahagia
Mari kawan, ikutlah bersama kami
Membela risalah Islam didunia

Remaja peduli pintar dan mandiri
Giat berprestasi kupersembahkan untuk Illahi
Bersatu berjihad dalam dakwah Islam
Diatas panji Al Qur?an dan as Sunnah

Selasa, 25 Juni 2013

Family Oriented Medical Education (FOME)



LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN FOME

Dosen Pembimbing:
dr. Afdal, Sp.A


oleh:
KELOMPOK 7 A
Nurfazlina 1110312157






Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
2013


Berkas Keluarga Binaan
Kelompok                               : 7A
Nama Mahasiswa                    : Nurfazlina
Pembimbing                            : dr. Afdal, Sp.A

Data Demografi Keluarga
Kepala Keluarga                     : Zirwan
Alamat                                    : Jl. Ganting, RT 003, RW 009,
Kelurahan Ganting ParakGadang, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat
No telp                                   : 085365339000


Tabel 1. Anggota keluarga yang tinggal serumah atau yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga
No
Nama
Kedudukan dalam keluarga
Gender
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Berpartisipasi dalam pembinaan
Ket tambahan
1
Zirwan
Ayah
Laki-laki
54 th
SMP
Wiraswasta


2
Mai Yusni
Ibu
Perempuan
50 th
STM
Ibu Rumah Tangga
Sebagai sumber informasi

3
Andri Novia
Anak kandung
Laki-laki
27 th
STM
Swasta

Sudah berkeluarga dan tidak tinggal dengan orang tua lagi
4
Roza Rahayu
Anak kandung
Perempuan
26 th
SMEA
Ibu                                 RT                                

Sudah berkeluarga dan tidak tinggal dengan orang tua lagi
5
Imelia
Anak kandung
Perempuan
24 th
SMA
Ibu                                 RT

Sudah berkeluarga dan tidak tinggal dengan orang tua lagi

Tabel 2. Fungsi-fungsi dalam keluarga
Fungsi Keluarga
Penilaian
Kesimpulan pembina untuk fungsi keluarga yang bersangkutan
Biologis
adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam menghadapi resiko masalah biologis, pencegahan, cara mengatasinya dan beradaptasi dengan masalah biologis (masalah fisik jasmaniah)
Sikap dan Prilaku dalam menghadapi risiko masalah fisiologis :
Keluarga ini kurang memperhatikan faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan masalah biologis, seperti memiliki kebiaasaan merokok dan memakan makanan yang menimbulkan risiko asam urat.

Pencegahan terhadap masalah biologi :
Keluarga ini mengetahui faktor risiko yang dapat menimbulkan masalah biologis, tetapi belum optimal dalam realisasi pencegahan.

Cara mengatasi penyakit :
keluarga ini memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, seperti kalau ada salah satu dari anggota keluarga yang sakit langsung di bawa berobat ke bidan.

Sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam menghadapi resiko masalah biologis, pencegahan, dan cara mengatasinya masih kurang.
Psikologis
adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam membangun hubungan psikologis internal antar anggota keluarga. Termasuk dalam hal memelihara kepuasan psikologis seluruh anggota keluarga dan manajemen keluarga dalam menghadapi masalah psikologis.

Komunikasi dalam rumah tangga baik karena adasikap saling menghormati dan saling menghargai antara anggota keluarga. Mereka juga menjalin komunikasi dengan tutur yang sopan santun.

Psikologis dalam keluarga : baik
Sosial
adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam mempersiapkan anggota keluarga untuk terjun ke tangah masyarakat. Termasuk di dalamnya pendidikan formal dan informal untuk dapat mandiri.
Ketiga anak bu Mai adalah lulusan SLTA/sederajat. Bu Mai juga memperhatikan dan mengajarkan anak perempuannya untuk menjadi ibu yang baik, seperti mengunjungi anaknya atau mengajak anaknya tinggal dirumah selama
Proses menuju melahirkan yang pertama sembari berbagi ilmu dan pengalaman.

Hubungan dengan masyarakat : sering berkumpul dengan tetangga untuk berbagi cerita, pengalaman dan sering menolong memasak tetangga yang mengadakan acara .
Pendidikan foramal dan nonformal bagi anak baik

Hubungan dengan masyarakat juga baik
Ekonomi &
Pemenuhan kebutuhan

adalah sikap dan perilaku keluarga selama ini dalam usaha pemenuhan kebutuhan primer, sekunder dan tertier.
Kebutuhan fisik dan uang cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari, pemilikan barang milik pribadi, dan gaya hidup keluarga termasuk sederhana, dan prioritas keuangan untuk kebutuhan nutrisi keluarga, fisik, dan berobat ke bidan.
Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan keluarga bu Mai cukup baik

Data Risiko Internal Keluarga
Tabel 3. Perilaku kesehatan keluarga

Perilaku
Sikap & perilaku keluarga yang menggambarkan perilaku tsb
Kesimpulan pembina untuk perilaku ybs
kebersihan pribadi & lingkungan
apakah tampilan individual dan lingkungan bersih dan terawat, bagaimana kebiasaan perawatan kebersihannya
Kebersihan pribadi : bagus
Kebersihan rumah : masih banyak pasir-pasir di lantai, dapur  yang agak basah karena posisinya dekat dengan kamar mandi. Lantainya meninggalkan noda yang sangat hitam pada kaki
Perlu penyuluhan tentang pola hidup bersih dan sehat agar keluarga tetap mempertahankan dan meningkatkan PHBS.
pencegahan spesifik
termasuk perilaku imunisasi anggota keluarga, ANC, gerakan pencegahan penyakit lain yang telah dianjurkan (baik penyakit menular maupunt tidak menular)
Ny.Lia tidak pernah ANC selama kehamilannya. Dan juga dindong tidak mendapatkan imunisasi yang lengkap.
Selama membesarkan anaknya bu Mai berhubungan denga bidan yang merupakan kerabatnya dan ketiga anaknya mendapat imunisasi.
Gerakan pencegahan tidak kurang dilakukan seperti kebiasaan merokok.
Untuk pencegahan penyakit msih kurang.
gizi keluarga
pengaturan makanan keluarga, mulai cara pengadaan, kuantitas dan kualitas makanan serta perilaku terhadap diet yang dianjurkan bagi penyakit tertentu pada anggota keluarga
Bu Mai selalu menyiapkan kebutuhan nutrisi yang bervatiasi bagi keluarga dan tidak ada pantangan makanan.
Diet yang dianjurkan bagi risiko asam urat ibu Mai kurang diperhatikan, seperti makanan kaya serat, rendah kolesterol, dan banyak air putih.
Asupan Gizi keluarga: baik
Diet yang dianjurkan bagi penyakit tertentu pada anggota keluarga kurang diperhatikan
latihan jasmani / aktifitas fisik          kegiatan keseharian untuk meggambarkan apakah sedentary life atau cukup atau teratur dalam latihan jasmani. Physical exercise tidak selalu harus berupa olahraga seperti sepak bola, badminton,dsb.
Keluarga ini tidak memiliki kebiasaan keluarga yang rutin, karena mereka menganggap kegiatan sehari-hari mereka sudah cukup untuk latihan jasmani
Aktivitas fisik yg tidak rutin kurang baik, karena untuk hidup sehat diperlukan aktivitas fisik yang rutin
penggunaan pelayanan kesehatan
perilaku keluarga apakah datang ke posyandu, puskesmas, dsb untuk preventif juga, atau hanya kuratif, atau kuratif ke pengobatan komplimenter dan alternatif, sebutkan jenisnya dan berapa keseringannya
Kalau ada anggota keluarga yang sakit dibawa lebih sering ke bidan karena masih ada hubungan keluarga dan belum merasa perlu ke puskesmas atau rumah sakit.
Keluarga punya jamkesmas
Penggunaan pelayanan kesehatan: kurang

kebiasaan / perilaku lainnya yang buruk untuk kesehatan
misalnya merokok, minum alkohol, bergadang,dsb sebutkan keseringannya dan banyaknya setiap kali dan jenis yang dikonsumsi
Bapak zirwan : merokok 1 bungkus sehari.
Bu Mai : sering duduk lama kalau bekerja, diet kurang diperhatikan.
kebiasaan / perilaku lainnya yang buruk untuk kesehatan : ada


Data Sarana Pelayanan Kesehatan dan Lingkungan Kehidupan Keluarga
Tabel 4. Faktor pelayanan kesehatan
Faktor
Keterangan
Kesimpulan pembina untuk faktor pelayanan kesehatan
Pusat pelayanan kesehatan yang digunakan oleh keluarga
-          Bidan



Pemanfaatan pelayanan kesehatan kurang optimal karena hanya ke bidan.
Cara mencapai pusat pelayanan kesehatan tersebut
-          berjalan kaki

Tarif pelayanan kesehatan tersebut dirasakan
*  sangat mahal 
*  mahal
*  terjangkau
*  murah
*  gratis  
Kualitas pelayanan kesehatan tersebut dirasakan
*  sangat baik
*  baik
*  biasa
*  tidak memuaskan
*  Buruk

Tabel 5. Lingkungan tempat tinggal
Kepemilikan rumah : milik sendiri
Daerah perumahan : padat bersih
Karakteristik Rumah dan Lingkungan
Kesimpulan pembina untuk lingkungan tempat tinggal
Luas rumah : ……9….x…7……m2
Faktor lingkungan keluarga baik, hanya saja perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Jumlah orang dalam satu rumah :   ………2…… org
Luas Halaman rumah : …1…x1,5….m2
Tidak Bertingkat
Lantai rumah dari : semen
Dinding rumah dari : tembok
Penerangan di dalam rumah
Jendela : ada
Listrik : ada
Bila tidak, malam hari menggunakan………………
Ventilasi
Kelembapan rumah :  tidak lembap
Bantuan ventilasi di dalam rumah : ada
Bila ada, yaitu : Kipas angin
Kebersihan di dalam rumah : bersih
Tata letak Barang dalam rumah : rapi


Gambar rumah keluarga binaan Fome
Gambar Depan Rumah

Gambar Ruang Tamu dan Ruang Tengah Rumah

Gambar Ruang Makan Rumah

Gambar Dapur Rumah


Gambar Kamar Mandi Rumah
 
Gambar Kamar Mandi Rumah
Health Promotion
 
Health Promotion

Skor kemampuan keluarga dalam penyelesaian masalah dan Rencana Penatalaksanaan
No
Kegiatan
Sasaran
Waktu
Hasil yang diharapkan
Coping score awal

masalah internal
-          Kebiasaan merokok
memberikan promosi kesehatan kepada keluarga tentang bahaya merokok melalui lisan dan tulisan (leaflet)
-          Ibu : risiko asam urat.
memberikan promosi kesehatan kepada keluarga tentang gambaran umum penyakit rematik (penyebab, faktor risiko, gejala, dan pencegaha) melalui lisan dan tulisan (leaflet)

masalah eksternal
-          Kebersihan tempat tinggal khusunya lantai kamar mandi dan pemanfaatan pelayanan kesehatan kurang optimal karena hanya ke bidan.
memberikan promosi kesehatan kepada keluarga tentang Prilaku Hidup Barsih dan Sehat (PHBS) melalui lisan dan tulisan (poster kesehatan)


Bapak Zirwan





Ibu Mai Yusni








Keluarga







Kedatangan ketiga





Kedatangan ketiga








Kedatangan ketiga


Bapak Zirwan mengurangi konsumsi rokok (frekuensi dan jumlah) atau menghentikannya.

Ibu Mai memiliki pengetahuan tentang penyakit rematik dan memiliki kesadaran untuk menghidari hal-hal yang menjadi faktor risiko.



Keluarga memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang PHBS dan berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


1






4









4








Total :
9
Keterangan Coping score:
1 = Tidak dilakukan, menolak, tidak ada partisipasi
2 = Mau melakukan tapi tidak  mampu, tak ada sumber (hanya keinginan) penyelesaian masalah dilakukan sepenuhnya oleh provider
3 = Mau melakukan, namun perlu penggalian sumber yang belum dimanfaatkan sehingga penyelesaian masalah dilakukan  sebagian besar oleh provider
4 = Mau melakukan namun tak sepenuhnya, masih tergantung pada upaya provider
5 = Dapat dilakukan  sepenuhnya oleh keluarga

Tindak lanjut dan hasil intervensi
Tanggal
INTERVENSI YANG DILAKUKAN, KEMAJUAN MASALAH KESEHATAN KELUARGA, KESESUAIAN DENGAN HASIL YANG DIHARAPKAN & RENCANA SELANJUTNYA

Kedatangan  pertama

Berkenalan dengan salah satu anggota keluarga (Ibu Mai), menjelaskan tujuan kedatang untuk berbagi ilmu, dan meminta nomor HP keluarga yang bisa dihubungi. Keluarga bersikap terbuka dan menerima maksud dan tujuan dari kegiatan fome, serta memberikan nomor HP salah bapak Zirwan.
Merencanakan untuk meminta data-data yang lebih dalam pada kedatangan berikutnya karena takut dikira sensus.

TINDAK LANJUT I

Meminta data-data masing keluarga, KK, dan mengidentifikasi masalah internal dan eksternal keluarga. Keluarga (Ibu Mai) bersedia memberikan data-data secara lugas dan bersahabat.
Merencanakan untuk memberikan promosi kesehatan pada kedatangan berikutnya.
TINDAK LANJUT II
Melakukan promosi kesehatan melalui lisan dan tulisan (leaflet dan poster kesehatan). Keluarga (Ibu Mai) paham dengan informasi yang diberikan dan mau melakuan, serta bersedia memberitahu dan mengajak suaminya yang sedang tidak berada dirumah.
Merencanakan follow up pada kedatangan berikutnya











Masalah kesehatan keluarga pada saat berakhirnya pembinaan pertama dan coping score akhir
-          Kebiasaan merokok bapak Zirwan sulit untuk dikurangi  coping score akhir : 3
-          Risiko asam urat    coping score akhir : 4
-          Peninghatan PHBS  coping score akhir : 5
-          Total  coping score akhir : 12
Faktor pendukung terselesaikannya masalah kesehatan keluarga :
-          Antusias, partisipasi, dan kerjasama salah satu anggota keluargan (Ibu Mai)
-          Teknik penyampaian promosi kesehatan yang santai, menarik, dan tidak menggurui (saling berbagi ilmu.dan pengalaman)
Faktor penghambat terselesaikannya masalah kesehatan keluarga :
-          Kesadaran pribadi masing-masing keluarga untuk mengaplikasikan promosi kesehatan yang diberikan masih kurang dan sulitnya untuk merubah kebiasaan ecara instan dan butuh proses dan keinginan kuat.
Rencana pembinaan keluarga selanjutnya
-          Follow up pembinaan pertama, mengevaluasi, dan memcari solusi baru jika dirasa perlu.
Kesimpulan Pembinaan Keluarga pada Pembinaan Keluarga Saat ini
 (keadaan kesehatan keluarga pada saat berakhirnya pembinaan pertama, faktor-faktor pendukung dan penghambat partisipasi keluarga, indikator keberhasilan, serta rencana pembinaan keluarga selanjutnya)



Demikianlah, laporan kegiatan FOME ini disampaikan , sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.
Padang, 25  Juni 2013
Pembimbing Lapangan                                                                                               Pembina

( dr. Afdal, Sp.A )                                                                                                   ( Nurfazlina  )
 

Entri Terbaru

Tokoh Indonesia dan Nilai Berakhlak