Minggu, 16 September 2012

Malam Pertama di Rumah Allah (cerpen)

oleh : Nurfazlina
 
"Sepertinya sudah hampir 3 minggu ramadhan tahun ini ku jalani, tetapi semua masih seperti ramadhan tahun lalu yaitu berpuasa bersama keluarga atau sahur dan berbuka di kamar kos , menjalani aktivitas kuliah dengan jadwal yang tetap padat, tarawih ke mesjid bersama ibu, teman atau sendiri, berusaha mencukupkan shalat sunnah seperti dhuha, tahajud, witir, dll….”
 
Tiba-tiba ku terhenyak dari lamunan panjangku tentang hari-hari ramadhan yang telah ku jalani ini. Aku teringat pada ceramah ustazd di mesjid di kampung atau ulasan ustazd Yusuf Mansuf dalam acara “Chatting bersama YM”. Cukup satu kata untuk menggambarkan apa yang ada dipikiranku kali ini, yaitu “I’tikaf”. Awalnya pikiran dan hati yang masih begitu lugu tentang ilmu agama ini bertanya-tanya tentang satu kata tadi, apakah perempuan atau yang lazim disebut akhwat itu boleh melakukan I’tikaf, apakah I’tikaf bagi akhwat harus dilakukan di mesjid, apa saja yang dilakukan saat I’tikaf itu dan di mesjid mana saya dapat melakukan I’tikaf itu. Ketika pikiran ini bertanya-tanya, terkadang hati berusaha meyakinkan bahwa betapa indahnya I’tikaf yang digambarkan ustazd Yusuf Mansur Itu. Kurang lebih 30 menit, aku bertanya pada diri sendiri dan tak kunjung menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas. Namun, keingintahuan tentang hal yang satu ini cukup mengantarkanku untuk memejamkan mata karena telah begitu lelah dengan kuliah seharian dengan harus tetap mengisi ramadhan ini. Dalam sekejap, tubuhku pun bisa beristirahat walau hanya beberapa jam saja.
--| |--
Jum’at, 10 Agustus
Ku ambil langkah seribu karena sepertinya sudah terlambat menuju ruang tutorial gedung ABCD FK Unand. Untung, ketika kaki menginjak lantai dari ruangan yang dingin oleh AC yang over ini, sang tutor belum menduduki bangku yang khusus disediakan untuk memantau kami berdiskusi. Aku pun segera mengincar tempat yang tergolong strategis saat tutorial. Sekali lagi aku bersyukur karena dalam waktu lebih kurang satu setengah jam saja, tutorial berjalan lancar walaupun dengan sedikit komentar sang tutor. Ketika kaki melangkah keluar ruangan yang tergolong suram  ketika tutorial ini, hati merasa plong karena beban satu minggu ini sepertinya sudah terpenuhi dan pikiran pun beranjak memikirkan apa saja yang bisa dilakukan di akhir pekan . Kegiatan yang menyenangkan tentunya. Namun, Aku pun teringat pada agenda berikutnya.

“Kak, jadi kita mentoring siang ini?” kalimat ini meluncur dari bibir ketika sesosok wanita anggun ini duduk tepat disebelahku. Ia adalah mentor pengganti karena mentor sebelumnya sedang sibuk dengan agenda coast-nya. 

“InsyaAllah jadi, Ana” hanya jawaban singkat itu terlontar dari mulutnya karena harus bangkit untuk shalat sunat.

Aku pun duduk menunggu kak Nisa di teras mesjid sembari mengobrol dengan teman yang ternyata juga akan menjadi teman satu mentoring. 

“Apa kabar ukhti semua?” sapaan ini begitu indah didengar ketika senyuman pun mewarnai dan tangan saling berjabat serta tubuh saling berpelukan sembari sedikit cipika-cipiki. 

“Alhamdulillaah baik kak”, aku dan Sari menjawab pertanyaan dan membalas perlakuan kak Nisa yang begitu menyejukkan dan mengikat hati ini.

Tanpa terasa setiap detik dalam mentoring ini sungguh menginspirasi. Aku tak menduga ternyata rencana Allah begitu indah. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi malam melalui sesosok akhwat yang sedang duduk didepanku sembari dengan ikhlas berbagi ilmunya. Bahkan, diakhir mentoring, kak Nisa menawariku untuk berangkat bersama menuju mesjid Semen Padang nanti malam. Dengan girang, aku menyetujui walau kata InsyaAllah mengawali janji ini.

Ketika matahari mulai terbenam, burung kembali ke sarang, gelap mulai menyelimuti, Hamba-hambaNya yang berpuasa pun bergegas pulang, mempersiapkan diri untuk berbuka. Tak berbeda denganku, persiapan berbuka dikamar kos sendiri memang tidak tergolong sulit, yaitu hanya memanaskan lauk yang dibawa dari kampung dan membuat segelas teh hangat. Adzan pun berkumandang dan layaknya seperti menghentikan aktivitas manusia untuk menyegerakan berbuka. Seteguk teh hangat sepertinya sudah cukup melegakan dahaganya kerongkongan ini. Aku pun beranjak untuk menunaikan shalat maghrib dan makan. 

“Ana, lagi makan ya, Diana boleh ikutan makan di kamar Ana? Soalnya Diana tidak berselera kalau makan sendiri.”, suara ini mengagetkanku yang sedang asyik melahap nasi plus rendang yang ku buat bersama ibu satu minggu yang lalu.

“Boleh-boleh”, aku mempersilahkan Diana masuk ke kamar kos dan kami pun melahap makanan masing-masing sembari mengobrol dan sedikit canda tawa.

Tiba-tiba, bunyi handphone mengagetkanku. Ternyata, kak Nisa menelpon karena telah menungguku di pos satpam. Astaghfirullaah, aku lupa tentang janji siang tadi karena begitu asyiknya mengobrol dengan Diana. Dengan berat hati, kak Nisa berangkat sendiri ke mesjid Semen Padang karena tidak cukup waktu untuk menungguku untuk mandi dan merpersiapkan segala yang dibutuhkan dan aku pun merasa tidak enak jika kak Nisa menunggu lama.

Sabtu, 11 Agustus
Aku teringat bahwa agenda radius (Ramadhan di Kampus) hari ini adalah lomba Fahmil Qur’an. Aku pun segera bergerak menuju kampus karena tidak ingin melewatkan kegiatan ini. Walaupun hanya menjadi penonton karena merasa tidak percaya diri dengan ilmu agama yang masih dangkal, ku tetap merasa enjoy diruang yang memang telah dikondisikan oleh panitia sebelumnya. Suara Bel pun silih berganti berbunyi seakan saling bersahutan. Aku pun terpaku pada lantunan ayat suciNya yang silih berganti dibacakan. Bahkan, aku pun tak sadar bahwa asharpun telah datang dan lomba pun break untuk sementara.

Usai shalat ashar di mesjid, aku pun memutuskan untuk lansung pulang saja karena ingin mempersiapkan makanan untuk berbuka. 

“Ana, kamu gag ikut rapat ultah MRC?” suara ini menghentikan langkahku untuk segera menolehkan wajah menuju sumber suara.

“Gag va, Soalnya aku tidak dijarkom, kemungkinan aku tidak dipilih menjadi panitia”, jawabku kepada sumber suara.

“ooo, trus kamu mau kemana? Oia, aku mau cerita kalau kemaren aku ikut I’tikaf di mesjid Semen Padang bersama kakak-kakak di wisma, Sungguh menyenangkan loh, apalagi ketika tahajud bersama”…., temanku yang cerewet ini terus berbicara sampai semua yang ada dipikirannya tersampaikan.

“Aku mau ke kos Va. Wah, kamu bikin aku iri aja. Aku jadi kepengen ikut , tapi gag ada teman kesana.”, jawabku dengan sedikit sedih mengingat kelalaianku tadi malam.

“Kebetulan, nanti malam temanku, Mika, berencana ikut dan tadi katanya dia mau pergi sore ini biar bisa berbuka disana juga. Aku sms nomor  telponnya yak ke nomormu . Ntar kamu sms aja. Aku mau rapat nih kayaknya udah mulai. Bye Ana”.

Sembari melangkahkan kaki menuju kos tercinta, ku tekan setiap tombol handphone hingga sebuah pesan terkirim. Namun, Naas, balasan yang ku terima membuatku kecewa. Ternyata, Mika sudah naik angkot menuju Mesjid. Aku tak berani menyusul karena takut nyasar. Akhirnya, dengan pasrah, ku menyelesaikan perjalanan menuju kos.

Sambil menunggu waktu berbuka, ku tak kehabisan akal. Sebuah pesan kembali ku kirim ke nomor yang tadi malam menelponku. Namun, kali ini balasannya membuatku tersenyum dan bersemangat. Tak ingin mengecewakannya lagi, ku persiapkan mukena, gelas, obat yang ku butuhkan, dan peralatan lain yang ku perlukan disana sehingga ketika selesai makan nanti ku bisa lansung meluncur menuju pos satpam. 

Usai makan, sesuai rencanaku, dengan segera ku berjalan menuju pos satpam. Kali ini, aku lagi-lagi diuji atau mungkin balasan kelalaianku tadi malam. Kak Nisa tak kujung datang bersama motornya. Kurang lebih 30 menit, ku duduk menunggu bersama sebuah Al-Qur’an ditangan dan seorang wanita paruh baya yang juga menunggu anaknya. Sebuah pesan di HP melegakan perasaan gundah ini dan disusul dengan kedatangan sosok yang kutunggu bersama motornya. Sambil berbonceng dibelakang kak Nisa, ku menikmati udara malam kota Padang yang dingin, tetapi bahagia dihati sudah cukup menghangatkan tubuh ini. Akhirnnya, aku dan kak Nisa sampai juga ditempat tujuan dan kami segera menuju lantai dua mesjid untuk melaksanakan shalat isya agar tak ketinggalan untuk shalat tarawih berjama’ah.

Lantai dua mesjid Semen Padang memang disiapkan khusus bagi akhwat yang ingin beri’tikaf. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua, ku temukan disini, tetapi tentu dengan label “akhwat”. Mereka semua sungguh telah mempersiapkan diri. Si ibu dengan bayinya atau anaknya akan membawa persiapan seperti botol susu, susu, makanan, dan keperluan lain yang dirasa perlu di malam hari dan begitu juga dengan  ibu-ibu lanjut usia, mereka akan membawa perlengkapan yang mereka butuhkan untuk menginap. Aku, kak Nisa, serta mahasiswa lain juga membawa perlengakapan yang diperlukan seperti makanan, minuman, jaket, dll. Hal yang menyamakan dari semua golongan adalah Al-qur’an senantiasa ditangan, mukena senantiasa melingkupi tubuh dalam shalat dan tidur sebentar atau tidak tidur sama sekali. Lain halnya dengan pihak mesjid yang begitu baik menyediakan air gallon beserta dispenser yang bebas di ambil dan diminum kapan saja, makanan untuk berbuka, dan makanan untuk sahur.  

Usai shalat tarawih berjama’ah di lantai satu , aku dan muslimah lain yang akan i’tikaf segera menuju lantai dua. Seperti akhwat lain, ku ingin ditemani Al-qur’an malam ini sembari menunngu waktu tahajud berjama’ah. Terkadang kantuk menyapa, tetapi hati berusaha menguatkan. Namun, aku pun menyerah ketika malam telah begitu larut dan memutuskan untuk menghempaskan tubuh di sebidang karpet yang disediakan bersama akhwat lain yang sedari tadi sudah duluan tidur. Aku kagum pada sosok di depan sana, atau disudut sana yang kuat dan begitu menikmati malamnya dirumah Rabbnya hingga ia pun lupa untuk tidur.

Kurang lebih satu jam kemudian, ku terbangun oleh suara kak Nisa yang membangunkan untuk tahajud bersama. Subhanallaah, aku bersyukur bisa tahajud bersama dengan tangisan yang pecah dalam doa pada Rabb, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahkan, imampun menangis terisak-isak hingga suaranya hilang dalam lantunan do’a. Sang imam seperti mengajak kami merasakan betapa ni’mat bermunajat padaNya, berdoa padaNya dalam sepertiga malam di rumahNya.  Dalam do’a, yang terbayang di pikiran ini adalah sekelumit dosa dalam mengharap ampunanNya, sekelumit ni’mat yang tak terhitung, sekelumit wajah-wajah keluarga yang begitu dicintai, Ibu, Ayah, Adik, Abang, Nenek, dan saudara seiman yang senantiasa mewarnai hari-hari dalam perjuangan berharap syurgaNya serta saudara yang mungkin pernah ku buat sedih, kecewa, atau menderita. Dalam sejuta asa, ku berucap Alhamdulillaah  yang begitu luar biasa hingga air mata tak henti mengalir. Tak terbayang betapa hampa dan lemahnya diri ini tanpa pertolonganNya, betapa hinanya diri ini tanpa lindungan dan hidayah dariNya, dan betapa malang dan miskinnya diri ini tanpa ni’mat dariNya. Sekali lagi, air mata ini jatuh karena ingat sosok ibu yang begitu mulia dan kuat di tempat yang jauh disana, ayah, abang, dan adik. Ingin juga rasanya ku do’akan keselamatan dunia dan akhirat bagi mereka. Namun, tiba-tiba isakan yang senantiasa ku tahan malah semakin luar biasa ketika imam mengajak kami merasakan betapa hebatnya perjuangan saudara-saudara di Palestina dalam simbahan darah dan dalam kecaman maut untuk beribadah. Sementara kami disini dengan mudahnya dapat menikmati hari-hari dalam beribadah padaNya, menikmati makanan dan minuman tanpa ditakut-takuti suara tembakan dan menuntut ilmu tanpa kecaman mati didepan mata. Hanya seuntai do’a yang terucap pada Rabb agar Dia senantiasa melindungi dan menjaga mereka. Mungkin tetesan air mata ini atau untaian do’a ini tak sebanding dengan perjuangan muslim lain yang rela berjihad disana, Palestina. Namun, dengan turut merasakannya, setidaknya rasa syukur memotivasi untuk turut berjuang beribadah di jalanNya dan berharap bisa berjihad disana dalam profesi yang akan ku geluti kelak. Amiin Ya Rabbal’alamiin. Subhanallaah, sungguh pengalaman dan perjuangan yang mengnspirasi. Hingga tetesan demi tetesan air mataku  pun mulai menghilang disertai senyuman dan kelegaan hati yang tak bisa ku gambarkan. Ku pun merasa semua telah ku ceritakan, ku luapkan, dan  ku kuadukan padaNya, Allah Azza Wa Jalla.

Usai shalat dengan mata sedikit sembab, ku beranjak menuju tempat yang menyediakan makanan untuk sahur karena imsak sebentar lagi datang dan diikuti dengan shalat subuh berjama’ah. 

“Ana, sudah siap? Tunggu kakak di motor aja ya, Kakak mau packing dulu diatas”, kata Kak Nisa usai shalat.

“oke Kak” , aku pun beranjak meninggalkannya menuju tempat parkir motor.

Ketika diatas motor bersama kak Nisa, aku merasa lega dan bahagia. Semua pertanyaan yang kemarin terlintas dibenakku terjawab sudah. Kali ini, dalam cekaman udara subuh yang dingin, aku terharu dan berharap bisa kembali menginap dalam ibadah disana, rumah Allah. Walaupun ini adalah I’tikaf pertamaku, tetapi ku berharap ini bukan I’tikaf terakhirku.

Rabu, 22 Agustus 2012

Surat Cinta Untuk Ramadhanku

oleh : Nurfazlina

Kekasihku…
Sungguh aku rindu karena sudah setahun kita tak bertemu,
Sungguh aku masih ingat masa-masa satu tahun lalu,
Sungguh aku akan bersyukur jika aku masih bisa bertemu denganmu,
Sungguh aku akan bahagia jika masih bisa bersamamu ,
Sungguh aku tak ingin menyia-nyiakanmu
Sungguh aku akan menyambutmu, menemanimu, mengisi hari-hari bersamamu.

Kekasihku…
Alhamdulillaah,
Allah mengijinkanku untuk bertemu denganmu lagi tahun ini,
Allah memberiku kesehatan untuk menyambutmu,
Allah memberiku ni’mat untuk menemanimu, mentraktirmu sahur dan berbuka, mengulang bahkan berusaha lebih beribadah bersamamu.

Kekasihku…
Aku masih ingat satu tahun lalu bersamu,
Dipagi buta, ku bangun bersama keluarga atau terkadang sendiri untuk sahur,
Ku melahap rezeki dariNya walau terkadang nafsu makanku mulai hilang, mungkin karena kantuk,
Mata ini berusaha untuk terbuka dengan terkadang hati ini kesal karena ingin tidur,
Atau aku tertidur tak bisa sahur atau memilih tak bangun karena enaknya tidur,
Tak beberapa menit kemudian, imsakpun mulai menyapa,
Ku teguk air agar tak haus disiang hari dan agar pencernaan itu lancar,
Sebenarnya aku ingin mengaji seperti muslimah lain untuk menunggu azan atau bersegera wudhu’ untuk ke mesjid, namun terkadang mata memilih untuk menutup dan betapa enaknya tubuh ini ditutupi selimut.
Tapi aku bersyukur, kali ini tubuh bisa menghirup udara subuh yang bersih dengan bergegas menuju mesjid
Kemudian usai subuh bersiap kembali kerumah untuk tidur lagi atau untuk bersiap ke sekolah, kampus, atau kerja.
Dari terbit fajar hingga terbenam matahari, qiyam itu ku jalani,
Terkadang lapar, haus, emosi, nafsu, dan lelah mengganggu,
Namun, ibadah harus tetap ku jalani untuk membahagiakanmu,
Dalam Dhuhaku, Tadarusku, Zhuhurku, Zikirku, Asharku, Kerjaku, Sekolahku, Kuliahku ku abdikan hanya karena aku bahagia menyambutmu, bahagia atau berkah yang kali ini kau beri untukku, karena kau menjanjikan hadiah yang indah, cantik, dan berlipat yaitu pahala, syurga, dan ampunan dosa.
Tak Terasa, Sirine atau bedukpun berbunyi, aku bersyukur masih bisa melahap rezeki dari Allah dengan secukupnya tak lebih jadi nafsu karena maghrib telah menantiku,
Terkadang makan dulu atau menunda untuk makan karena ingin secepatnya ke mesjid, isya, taraweh, witir, mendengar ceramah, mengunjungi rumah Allah,
Pulang malam memang melelahkan dengan mata mulai mengantuk tapi bintang di langit sungguh memelekkan mata,
Sampai rumah, Tubuh lansung menuju kasur atau memilih membaca Al-qur’an atau memilih makan.
Aku selalu berdo’a agar terbangun di tengah malam untuk tahajud, bermunajat padaNya,
Aku ingin mencari lailatulqadarNya,
Hingga sahurpun lagi-lagi datang.
30 haripun berlalu,
Sungguh aku bahagia karena idul fitri akan datang
Tetapi aku sedih karena dirimu akan pergi dari hatiku, dari hariku, kerena mungkin saja tahun depan kita tak lagi bertemu.
Aku menyesal karena terkadang aku mengecawakanmu 30 hari lalu, tidak benar-benar memanfaatkan waktu bersamamu,
Aku selalu berusaha agar kepergianmu mengajarkanku untuk menunggumu dengan istiqamah beribadah, mempercantik iman ini,
Aku selalu berdo’a agar masih bisa bertemu denganmu lagi dan tak menyia-nyiakanmu lagi karena mungkin saja mati lebih dahulu menjemputku sebelum kamu datang lagi dan kita bersama lagi.

Kekasihku…
Allah mendengar do’aku,
Aku bisa bertemu denganmu lagi, memulai kebersamaan kita lagi 30 hari kedepan,
Aku berikhtiar agar kita bisa bersama dalam ibadah pada Allah, dalam haru karena pahala, ampunan dosa dan syurga telah menunggu, dalam indahnya ukhuwah dan cinta Allah,
Aku berikhtiar agar sahur dengan syukur dan lahap bersamamu Ramadhan,
Agar shalat wajib, shalat sunnah, dan shalat malam itu tak bolong lagi seperti donat,
Agar tadarus dan Al-qur’an itu menemaniku,
Agar zikir senantiasa menemani dalam bekerja, kesawah, ke pasar, ke kampus, ke sekolah,
Agar berbuka dengan sederhana dan dalam syukur,
Agar ceramah ustad di mesjid, ceramah ustad maulana, ceramah mamah dedeh, yusuf mansur, dll bisa ku dengar dan memperbaiki ibadahku,
Agar zakat, infak, dan sedekah bisa ku tunaikan karena harta ini milik Allah, karena saudaraku yang tak beribu, berayah, yang cacat, yang tak punya rumah, yang hari ini tak bisa makan, yang hari ini tak punya baju, yang hari ini ditimpa bencana dan musibah bisa tersenyum dan juga beribadah pada Allah
Agar lailatulqadar menjadi hadiah bertemu dengamu, Ramadhanku.

Kekasihku…
Ramadhanku…
Bersamamu aku beribadah padaNya, bermohon syurgaNya, takut nerakaNya.
Kekasihku…
Ramadhanku…
Ternyata, tak terasa 30 hari pun berlalu,
Dalam takbir berkumandang, kau beranjak meninggalkanku lagi dan lagi,
Ku hanya mencatat dan menyimpan kenangan bersamamu satu bulan lalu, Ramdhan 1433 H
Beberapa ikhtiar diatas mungkin telah terpenuhi,
Tapi, bersamamu tak kan terganti bahkan aku merasa merugi,
Aku masih ingat hari jum’at atau sabtu, ku memulai berpuasa,
Alhamdulillaah bisa sahur dan berbuka bersama keluarga untuk setengah ramadhan awal,
Menjahit, memasak, menjalani aktivitas bersama mama
Malamnya, pergi taraweh juga bersama mama,
6 Agustus 2012, ku memulai sahur sendiri di kamar kos. Tak ada lagi canda tawa mama, papa, zikri, dan abang,
Paginya, memulai aktivitas kuliah yang tetap saja padat walau sedang berpuasa,
Tapi, Ramdhan tahun ini sungguh berbeda, tak hanya menjadi Pencari Ta’jil Gratis dengan ikut ngabubutir bareng Al-Qur’an di mesjid kampus, namun juga menjadi Penyedia Ta’jil Gratis bersama kakak-kakak dan teman-teman akhwat lainnya, sungguh menyenangkan,
Malam minggu pun menjadi tak terlupakan, i’tikaf pertama  dan satu-satunya yang bisa ku jalani di mesjid Semen Padang karena begitu padatnya agenda. Subhanallaah, tangisan pecah saat tahajud bersama,
Minggu malam menyusul dengan cerita bersama saudara-saudari yang sudah tak berayah dan beribu. Hatiku pilu ketika mimpi-mimpi mereka diucap dengan yakin, hatiku pilu ketika tubuh-tubuh kecil itu patuh pada pembinanya, apakah mereka mengerti dan sadar bahwa mereka hanya sebatang kara? Namun, senyum mereka masih ada dan optimis, Semoga banyak donatur yang sadar bahwa mereka ada.
Hari-hari mendekati kepergian Ramadhan menjadi biasa-biasa saja, dengan rutinitas ibadah yang diusahakan tak bolong,
Aku ingin i’tikaf lagi, tapi tugas kuliah menggunung mendekati liburan, agenda if’thor jama’i pun ada setiap hari, bahkan nenekpun mengundang untuk bersilaturrahmi, semoga ramdhan depan bisa i’tikaf lagi. Amiin Ya Rabb.
Kini, ramadhan telah benar-benar pergi, ku berharap semoga amal ibadahku di ramadhan tahun ini diterima disisiNya walau tak sempurna dan tak luarbiasa, ku berharap bisa istiqamah beribadah padaNya dalam penantian menunggu Ramadhan depan, Kekasih yang begitu didamba.

Minggu, 19 Agustus 2012

Tuhan, Ku Mohon...


Tuhan, ku mohon bisa membuang rasa ini karena ku hanya ingin menjadi muslimah karenaMu, hanya ingin menjadi istri shalehah karenaMu, hanya ingin menjadi ibu yang baik karenaMu
Tuhan, ku mohon hilangkan rasa ini dari hatiku karena ku ingin ikhlas menerima jodoh dari lauhul mahfizhMu kelak, ku tak ingin ia cemburu, ku ingin rasa ini hanya untuknya kelak
Tuhan, ku mohon bisa menjaga hatiku, menjaga pandanganku, menjaga kehormatanku agar ku bisa mencintai dan dicintai dengan ikhlas oleh jodoh dari Lauhul MahfuzhMu kelak
Tuhan, ku mohon jangan ada suka dan cinta dihati ini pada ikhwan manapun agar ku bisa menerima dan mencintai jodoh dari Lauhul MahfuzhMu kelak dengan sepenuh hati, siapapun itu.
Tuhan, ku mohon beri kemudahan agar bisa istiqamah berikhtiar menjadi terbaik dimataMu, menjadi muslimah terbaik dimataMu, menjadi istri yang terbaik dimataMu dan menjadi ibu yang baik dimataMu agar jodohku dari Lauhul MahfuzhMu adalah sosok yang senantiasa menjadi terbaik dimataMu, sosok muslim terbaik dimataMu, sosok suami terbaik dimataMu dan sosok ayah terbaik dimataMu sehingga keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah itu menjadi dambaan.

Rabu, 04 Juli 2012

LANSIA : MENJADI VEGETARIAN, SEHATKAH?

(Essai Temilnas 2012)

By : Nurfazlina,

FK UNAND, 2011


Saat ini tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi vegetarian merupakan salah satu trend dunia kesehatan. Ternyata, dari segi pelaku, tidak hanya anak-anak, remaja, dan dewasa yang cenderung memilih menjadi vegetarian, lansia pun ada yang memilih menjadi vegetarian. Banyak penelitian menemukan bahwa menjadi vegetarian dapat mencegah dan mengobati penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi, kanker, stroke dan lain-lain. Berdalih dari anggapan bahwa menjadi vegetarian menimbulkan malnutrisi tubuh, misalnya kekurangan protein, zat besi, dan vitamin B12, badan menjadi cepat lemas dan lelah dan menyiapkan makanan vegetarian itu repot, rasanya hambar, dan tidak banyak variasi, lansia pun mulai bertanya-tanya, apakah sehat menjadi vegetarian.

Sebelum mengupas lebih dalam kontroversial diatas, sebaiknya kita tahu dulu apa sebenarnya defenisi lansia dan vegetarian. Secara umum, lansia adalah mereka yang telah berusia 65 tahun keatas. Menurut Durmin (1992), lansia dibagi atas young elderly (65-74 tahun) dan older elderly (75 tahun). Sementara menurut Munro dkk. (1987), older elderly dibagi lagi atas usia 75-84 tahun dan 85 tahun.  Di Indonesia, M.Alwi Dahlan menyatakan bahwa orang dikatakan lansia jika berumur diatas 60 tahun. Namun, jika mengacu pada usia pensiun, lansia adalah mereka yang telah berusia diatas 56 tahun.  Dari pengelompokan ini, terdapat istilah Lansia Risiko Tinggi ( High Risk Elderly ) dengan ciri-ciri yaitu, usia diatas 80 tahun, hidup sendiri, depresi, gangguan intelektual, jatuh beberapa kali, inkontinensia urine, dan di masa lalu tidak dapat menyesuaikan diri. Dilihat dari aspek kesehatan, ada lansia yang tergolong sehat dan ada pula yang mengidap penyakit kronis. Di samping itu, sebagian lansia masih mampu mengurusi diri sendiri, sementara sebagian lain sangat tergantung pada “belas kasihan” orang lain. Kebutuhan gizi bagi lansia yang sehat dan aktif tidak berbeda dengan orang dewasa sehat.

Sementara itu, vegetarian dikenal sebagai orang dengan pola makan yang unik karena hampir seluruh makanannya berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti sayur, buah, padi-padian, dan kacang-kacangan. Didefinisikan berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi dan dipantang dalam pola makan sehari-harinya, vegetarian dibedakan atas tiga tipe, yaitu vegan, lacto-vegetarian,dan lacto-ovo-vegetarian. Seorang vegan, atau vegetarian murni/ total hanya mengkonsumsi makanan dari tumbuhan dan sama sekali tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari binatang termasuk daging, ayam, ikan, susu, telur, dan seafood. Sementara itu, lacto-vegetarian didefinisikan tipe vegetarian yang juga mengkonsumsi susu dan produk olahan susu seperti keju dan yogurt dalam keseharian, tetapi tidak mengkonsumsi daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, telur, dan seafood. Terakhir, vegetarian lacto-ovo adalah vegetarian yang mengkonsumsi makanan nabati, susu, dan telur untuk makanan sehari-hari dan tetap tidak mengkonsumsi daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, dan seafood. Jadi, vegetarian bukan tidak memperoleh nutrisi seperti protein, lemak, kolesterol, dan nutrisi lain yang dibutuhkan (yang biasa terkandung pada makanan hewani), melainkan vegetarian memperoleh protein, lemak, kolesterol dan nutrisi lain dari makanan nabati yang dikonsumsi, susu, dan olahannya

Menariknya, jumlah penganut vegetarian  secara umum di dunia maupun di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Hasil survei tahun 1997 melaporkan 1% penduduk Amerika Serikat adalah vegetarian. Angka ini meningkat menjadi 2,5% pada tahun 2000 dan 2,8% pada tahun 2003. Penduduk Inggris dengan pola vegetarian sebanyak 3% pada tahun 1987 dan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 1997 menjadi 5,4%. Newspoll Survey pada tahun 2000 melaporkan terdapat 2% penduduk Australia vegetarian dan 18% penduduk lebih menyukai makanan vegetarian. Sementara itu di India, tahun 2003, terdapat lebih dari 50% penduduk adalah vegetarian. Di Indonesia sendiri, jumlah penganut vegetarian juga mengalami peningkatan. Jumlah vegetarian yang terdaftar di Indonesia Vegetarain Society (IVS) saat berdiri tahun 1998 adalah sekitar 5000 anggota dan meningkat menjadi 60.000 anggota pada tahun 2007. Angka ini merupakan sebagian kecil dari jumlah vegetarian yang sesungguhnya karena tidak semua vegetarian mendaftar menjadi anggota (Kusharisupeni, 2010).

Berdasarkan data diatas, peningkatan penganut vegetarian tentu diikuti oleh faktor-faktor pendukung berupa alasan-alasan memilih menjadi vegetarian. Khusus bagi lansia, alasan menjadi vegetarian dapat dilihat dari alasan fisiologis tubuh, alasan kesehatan, alasan lingkungan, alasan finansial dan alasan spiritual.

Pertama, alasan fisiologis tubuh. Lansia identik dengan penurunan fisiologis saluran cerna. Bagian rongga mulut yang lazim terpengaruh adalah gizi, gusi, dan ludah berupa tanggalnya gigi dan infeksi gusi yang menimbulkan kesulitan dalam mengunyah dan menghancur makanan utuh seperti daging, kacang, dll, dan sekresi ludah berkurang sampai kira-kira 75 %  yang menimbulkan ketidakoptimalan metabolisme makanan. Motilitas lambung menurun hingga pengosongan lambung menjadi lebih lambat dan kurangnya epitel lambung akan menyebabkan peningkatan pH lambung yang akan menurunkan absorbsi besi, kalsium, vitamin B-6, B-12, dan folat, serta menyebabkan pertumbuhan bakteri pada usus halus. Terdapat penurunan ukuran kemampuan fungsional lever seperti fungsi enzim sitokrom 450 dan sintesis albumin pada lansia yang akan menyebabkan metabolisme kolesterol dan vitamin kurang efesien. Beberapa fakta fisiologis diatas mengilhami lansia memilih menjadi vegetarian. Makanan vegetarian terutama sayur dan buah-buahan mudah untuk dilumat dan dihancurkan didalam mulut. Bahkan, dengan penyajian makanan nabati dalam bentuk mudah lumat dan cair pun dapat melewati mulut dengan mudah dan membantu mencegah konstipasi. Pola makan vegetarian yang identik dengan kecenderungan mengkonsumsi sayur, buah, dan makanan nabati juga meningkatkan frekuensi konsumsi besi, kalsium, vitamin B-6, B-12, dan folat. Penurunan konsumsi makanan yang mengandung kolesterol pada vegetarian juga bisa dikaitkan dengan fenomena kurang efisiennya metabolisme kolesterol di hati sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya diatas.

Kedua, alasan kesehatan. Alasan ini merupakan salah satu alasan lansia memilih vegetarian menjadi gaya hidup karena dengan menjadi vegetarian, dapat mengurangi risiko penyakit ringan seperti konstipasi. Konsumsi lemak nabati pada vegetarian dengan kandungan yang tidak berlebihan dibandingkan dengan mengkonsumsi lemak hewani dapat menghindari potensi obesitas, hipertensi, jantung koroner, kanker, stroke, osteoporosis yang identik dengan lemak dan kolesterol berlebih.

Ketiga, alasan lingkungan. Alasan lingkungan ini berhubungan dengan tujuan untuk konservasi energi, air, tanah, dan tanaman sehingga ekologi tetap terjaga. Peningkatan penyediaan sayuran, buah, dan makanan nabati juga berkaitan dengan penghijauan menuju pencegahan global warming. Keempat, alasan finansial. Biaya hidup vegetarian cenderung lebih murah dan hemat karena harga bahan pangan nabati relatif jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan daging. Di Inggris, premi asuransi untuk orang yang menjadi vegetarian lebih kecil dibanding orang non-vegetarian karena para vegetarian ini memiliki resiko terkena penyakit jantung yang lebih rendah daripada para pemakan daging. Bagi lansia yang tergolong hidup pas-pas, menjadi vegetarian dapat membantu memenuhi nutrisi sesuai kebutuhan. Terakhir, alasan spiritual. Ada beberapa agama di dunia yang menganjurkan umatnya untuk menjadi seorang vegetarian seperti Hindu dan Budha. Ajaran agama ini tidak memperbolehkan seseorang untuk membunuh makhluk yang bernyawa untuk alasan apapun, apalagi untuk kepentingan orang yang bersangkutan.

Memilih menjadi vegetarian memang tidak terlepas dari berbagai alasan diatas. Namun, memilih menjadi vegetarian pun memberikan keuntungan. Berbagai penelitian berusaha mengungkap tabir manfaat vegetarian terhadap kesehatan terutama bagi lansia. Data-data menunjukkan bahwa orang dengan pola makan vegetarian umumnya lebih sehat dan berumur panjang dibanding mereka yang non vegetarian. Sebagai contohnya, penelitian pada tahun 2009 di bulan Maret oleh The American Dietetic Association pada lebih dari 500.000 orang-orang yang berusia 50-71 tahun di Amerika dan didapati bahwa orang-orang dewasa yang mengonsumsi paling banyak daging merah lebih berkemungkinan untuk meninggal dalam waktu lebih dari 10 tahun lebih cepat daripada mereka yang paling sedikit mengonsumsi daging merah, kebanyakan karena penyakit kardiovaskular dan kanker (Ltaminsyah, 2009). Apalagi bagi mereka yang mengurangi konsumsi daging merah dan menggantinya dengan mengkonsumsi makanan nabati. Para peneliti  menunjukkan  bahwa vegetarian mungkin memiliki risiko terkena osteoporosis lebih rendah dibandingkan non-vegetarian. Hal ini dibuktikan pada wanita berusia lanjut yang memiliki rasio konsumsi protein hewani lebih tinggi dibandingkan protein nabati, mengalami kehilangan kalsium pada tulang leher lebih cepat dan memiliki risiko patah tulang lebih tinggi dibandingkan wanita lanjut usia yang konsumsi protein hewaninya lebih rendah. Bahkan, Para peneliti di Loma Linda University di Loma Linda, California melakukan studi yang  melibatkan 23 vegetarian dan 14 non-vegetarian perempuan yang berusia antara 65-80 tahun, dan merupakan Advent (aliran Protestan yang mendorong anggotanya untuk menjadi vegetarian). Kabar baiknya adalah bahwa ibu vegetarian umumnya makan makanan lebih sehat dari pada ibu-non vegetarian berupa karbohidrat, makanan berserat, dan sedikit lemak, kolesterol dan kafein. Diet mereka lebih sesuai dengan pedoman gizi yang ditetapkan oleh American Heart Association dan National Cancer Institute, dan mereka memiliki tingkat lebih rendah glukosa dan kolesterol dalam darah mereka.

Mengingat tak semua hal selalu positif, lansia yang menjadi vegetarian pun sering dituding dan ditemukan mengalami malnutrisimisalnyakekurangan protein, zatbesi, dan vitamin B12. Hal ini terutama disebabkan kurangnya pengetahuan lansia mengenai kebutuhan nutrisi lansia yang sehat dan kurang sesuainya konsumsi makanan dengan kebutuhan nutrisi lansia.  Pengetahuan yang besar terhadap pola makan vegetarian yang sehat dan penyanjian makanan yang sesuai kebutuhan dapat menghindari kondisi malnutrisi yang tidak diinginkan ini. Baik menjadi vegan, lacto-vegetarian, maupun lacto-ovo-vegetarian, seorang lansia dan keluarga lansia harus memperhatikan setiap kandungan makanan yang dikonsumsi, apakah telah memenuhi batas AKG (Angka Kecukupan Gizi) lansia. Lansia atau keluarga dapat membandingkan kandungan gizi masing-masing buah, sayuran, makanan nabati, dan makanan lain yang dikonsumsi lansia dengan tabel besaran kebutuhan zat gizi pada lansia dibawah ini :



Tabel Besaran Kebutuhan Zat Gizi pada Lansia

Sumber : “ Meeting the nutritional needs for older person”. WHO 2002

Jenis Gizi
Besaran
Energi
Protein
Lemak
Lemakjenuh
Air
Kalsium
Besi
Tambaga
Chromium
Magnesium
Selenium
Asamfolat
Seng
Vitamin A
Riboflavin
Vitamin B12
Vitamin C
Vitamin D
Vitamin E
Vitamin K
1,4-1,8 kali BMR
0,9-1,1 g/kg BB/hari
30%-35%
£ 8 %
30 cc/kgBB/hari
800-1200 mg/hari
10 mg/hari
1,3-1,5 mg/hari
50 µg /hari
225-180 mg/hari
50-70 µg/hari
400 µg/hari
4,2-14,0 mg/hari (pria), 3,0-9,8 mg/hari (wanita)
700 µg RE/hari (pria), 800 µg RE/hari (wanita)
1,3 mg/hari (pria), 1,1 mg/hari (wanita)
2,5 bg/hari
60-100 mg/hari
10-20 bg/hari
100-400 IU/hari
60 – 90 mg/hari



Berdasarkan uraian diatas, masihkah lansia beranggapan bahwa menjadi vegetarian itu tidak sehat. Belum tentu. Malnutrisi yang timbul akibat memilih menjadi vegetarian dapat terjadi akibat kurang cerdasnya lansia dalam mengoptimalkan pola makan sesuai kebutuhan gizi. Sebaliknya, Lansia yang cerdas dalam mengoptimalkan pola makan sesuai kebutuhan gizi akan merauk keuntungan-keuntungan  sesuai keinginan antara lain : menjadi sehat dan hemat.

Sekali lagi, Memilih menjadi vegetarian bagi lansia tentu memerlukan banyak dukungan selain keinginan nurani lansia itu sendiri. Dukungan keluarga menjadi hal yang sangat penting karena kebanyakan kondisi lansia yang kurang fit dalam menyiapkan makanan sehari-hari, menurunnya kekuatan tubuh, dan melemahnya daya tahan tubuh karena mengidap penyakit. Keluarga yang cerdas tentu tak ingin melihat nenek atau kakeknya hanya terbujur lemah di kamar karena penyakit kronis atau degeneratif merenggut hari tuanya. Bahkan dengan memperhatikan pola makan lansia, keluarga dapat meningkatkan rasa terimakasih dan kasih sayang terhadap lansia. Keluarga yang mungkin memiliki kesibukan pun tak perlu cemas harus meluangkan banyak waktu. Restoran-restoran vegetarian pun telah banyak menjamur dengan penawaran yang relatif murah. Namun, untuk keluarga yang memiliki cukup waktu luang, buku-buku tentang penyajian makanan vegetarian yang sehat, enak, dan bervariasi telah banyak beredar. Lebih-lebih, bagi keluarga dengan ekonomi pas-pasan, penyajian sayur, buah, dan makanan nabati yang lebih terjangkau dapat mendukung faktor ekonomi keluarga. Tak kalah penting, dukungan masyarakat dan pemerintah pun dapat mengambil andil. Optimalisasi mata pencarian masyarakat Indonesia yang cenderung mengolah lahan dengan menanam sayur, buah-buahan, dan berkebun dapat meningkatkan penyediaan makanan vegetarian dipasaran. Dukungan pemerintah terhadap optimalisasi mata pencarian ini pun perlu ditingkatkan seperti peningkatan pengetahuan teknologi pangan yang sehat dan cerdas, dan pemanfaatan lahan tidur. Bahkan, Pemerintah pun dapat mendukung pengusaha-pengusaha restoran vegetarian dalam mengoptimalkan fungsinya dan penyebarannya diseluruh penjuru.



DAFTAR PUSTAKA



Arisman. 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.

Darmojo, R. Boedhi dan Martono, H. Hadi. 2009. Geriatri (Ilmu Kesehatan Lanjut Usia). Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Maas, LT. 2011. Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Gambaran Masyarakat”.”http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22426/5/Chapter%20I.pdf” (diakses tanggal 31 Mei 2012).

Muhammad, H.F.L dan Oktaviani H, Prima. 2010. Bebas Kanker Tanpa Daging. Yogyakarta : Penerbit Jogja GREAT! Publisher.

Susianto. Widjaja, Hendry dan Mailoa, Helda. 2008. Diet Enak Ala Vegetarian. Jakarta : Penebar Plus.

__________ . 2012. “Seputar Vegetarian”.” http://kesehatanvegan.com/perihal-3/tenatang-vegetarian/” (diakses tanggal 30 Mei 2012).



Biografi Singkat Penulis


Essai LANSIA : MENJADI VEGETARIAN, SEHATKAH? adalah essai pertama Nurfazlina yang berbau kesehatan. Ia dilahirkan di Baso, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 10 Februari 1992. Kental dengan darah Minang, Perempuan yang biasa dipanggil “Alin” ini bersekolah di TK Tunas Harapan, SD N 10 Sei Cubadak, SMP N 1 Candung, dan SMA N 1 IV Angkek. Saat ini, Ia adalah mahasiswi prodi Pendidikan Dokter Angkatan 2011, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Berawal dari keinginan dan dorongan hati untuk belajar menulis karya ilmiah  dalam pengembangan bakat KIR (Karya Ilmiah Remaja) SMA N 1 IV Angkek, Ia pun mencoba dan menulis walaupun jarang yang terselesaikan. Ia pernah mencoba menulis KIR mengenai Global Warming. Namun, ia pun gagal menyelesaikannya dan tidak menemukan ide yang out of the box. Kali ini, dengan optimisme yang meluap, Ia mencoba mengungkap tabir pola makan lansia, yang menjadi kontroversial saat ini : menjadi vegetarian.

Awalnya, Ia mengetahui tentang rangkaian lomba Temilnas terutama essai saat BBMK yang dilaksanakan MRC (Medicalstudent Research Centre) BEM KM FK Unand. Kemudian, berkat bergabung dengan organisasi ini bulan mei 2012, ia pun mendapat info lomba Temilnas 2012 yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tidak hanya itu, sesama anggota MRC pun saling sharing  dalam hal penulisan essai yang baik, benar, dan kreatif. Hal ini meyakinkannya untuk membayar pendaftaran melalui Bank Syariah Mandiri dan akhirnya ia pun mengirimkan naskah essai yang berjudul LANSIA : MENJADI VEGETARIAN, SEHATKAH? tepat pada rentang waktu yang diberikan.
Sejak kecil Nurfazlina memang bercita-cita menjadi seorang dokter. Kesempatan untuk menuntut ilmu di kampus kedokteran tidak ia sia-siakan hanya dengan fokus pada prestasi akademik saja, tetapi ia ingin lebih dari itu, ia ingin menjadi mahasiswa yang kreatif, peka dalam dunia kesehatan yang sedang trend, dan berkarya dalam ilmiah. Menuliskan essai ini adalah langkah awal walaupun masih jauh dari kesempurnaan.

Entri Terbaru

Tokoh Indonesia dan Nilai Berakhlak