Senin, 17 September 2012

Lembaran Hikmah : Apakah saat ini tidak ada lagi pemuda islam???

Oleh, Nurfazlina, staf DSI FSKI BEM KM FK Unand

 
Pada Zaman Khalifah Umar Bin Khattab RA, ada seorang pemuda yang berencana untuk melakukan perjalanan jauh. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya.

Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu kemudian duduk di bawah pohon. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur lelap. Saat ia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Unta itu juga merusak segala yang dilewatinya.

Penjaga kebun adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu, namun ia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, sang kakek pun membunuhnya. Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, ia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun.

Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu bertanya, “Siapa yang membunuh unta miliku ini?” sang Kakek lalu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, maka sang kakek terpaksa membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda tak kuasa menahan amarahnya. Saking emosinya, Serta-merta ia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu amat menyesal atas apa yang diperbuatnya. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua orang pemuda yang merupakan anak dari sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya. Kemudian, keduanya membawa sang pemuda menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar bin Khattab RA.

Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukum bunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka. Lalu, Umar bertanya kepada sang pemuda. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Ia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya.

Umar lalu berkata, “Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah terhadapmu,” sang pemuda dengan lapang dada menerima keputusan tersebut. Ia kemudian meminta kepada Khalifah Umar, agar diberi waktu dua hari untuk pulang ke kampungnya, sehingga dia bisa berpamitan kepada keluarga serta bisa membayar hutang-hutangnya. Umar kemudian berkata, “Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu.” Pemuda itupun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, Aku orang asing di negeri ini, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin.”

Salah seorang sahabat mulia, ABU DZAR AL-GHIFARI RA (yang ketika itu usianya terkatagori masih muda) secara kebetulan hadir di majlis tersebut. Beliau kemudian berkata, “Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ni tidak datang lagi setelah dua hari.” Dengan terkejut, Umar berkata, “Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar, sahabat Rasulullah?,” “Benar, ya Amirul Mukminin,” jawab Abu Dzar lantang.

Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishah, orang-orang penasaran menantikan datangnya pemuda itu. SANGAT MENGEJUTKAN! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia tiba di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandangnya dengan takjub. Umar bertanya kepada pemuda itu, “Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?” Pemuda itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, ‘tidak ada lagi pemuda yang menepati janji di kalangan umat Ini’. Dan agar orang-orang tidak mengatakan, ‘tidak ada lagi Pemuda sejati nan kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat ini”

Lalu, Umar melangkah ke arah Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata, “Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?” Abu Dzar menjawab, “Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi Pemuda jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat ini.”

Mendengar itu semua, dua orang pemuda anak kakek yang terbunuh pun ikut berkata, “Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apa pun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi pemuda yang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat ini.”

Merujuk pada kisah diatas, tentu akan muncul pertanyaan : apakah saat ini tidak ada lagi pemuda islam seperti yang dikisahkan di zaman Khalifah Umar bin Khattab RA diatas. Melihat kondisi umat islam saat ini, terutama pemuda islam, kita akan merasa miris. Sadarkah kita bahwa ideologi liberal (seperti pemisahan agama dari kehidupan atau dikenal dengan ide sekulerisasi, output dari system pendidikan adalah manusia yang pandai dalam ilmu pengetahuan tetapi dangkal dalam pengetahuan agama, materialistik, oportunistik, dan individualistik, gaya hidup yang “wah” dan hak kebebasan beekspresi diagung-agungkan) telah menyusup relung-relung pikiran dan kehidupan kita, umat islam, terutama kaum muda. Jadi, pemuda islam yang bagaimana yang kita temukan saat ini?

Kisah diatas hanya sebagian kecil gambaran pemuda islam dambaan Allah, Rasulullaah, dan umat islam itu sendiri. Pemuda islam yang sesungguhnya adalah pemuda yang sukses dalam dua indikator  : Pertama, Dimilikinya kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah), Kedua, Dikuasainya ilmu pengetahuan yang menjadi bidang studinya. Salah satu karakter pemuda yang berkepribadian Islam dan menguasai ilmu pengetahuan, untuk konteks sekarang, adalah mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat. Kondisi umat Islam di seluruh dunia yang kini dikuasai oleh ideologi liberal yang kafir, harus membuatnya terhentak dan tersadar dengan keadaran yang penuh dan menyeluruh untuk turut serta dalam proses perubahan menuju kondisi yang Islami” dalam nuansa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sumber : http://ivanacmblog.blogspot.com/?view=magazine

Minggu, 16 September 2012

Malam Pertama di Rumah Allah (cerpen)

oleh : Nurfazlina
 
"Sepertinya sudah hampir 3 minggu ramadhan tahun ini ku jalani, tetapi semua masih seperti ramadhan tahun lalu yaitu berpuasa bersama keluarga atau sahur dan berbuka di kamar kos , menjalani aktivitas kuliah dengan jadwal yang tetap padat, tarawih ke mesjid bersama ibu, teman atau sendiri, berusaha mencukupkan shalat sunnah seperti dhuha, tahajud, witir, dll….”
 
Tiba-tiba ku terhenyak dari lamunan panjangku tentang hari-hari ramadhan yang telah ku jalani ini. Aku teringat pada ceramah ustazd di mesjid di kampung atau ulasan ustazd Yusuf Mansuf dalam acara “Chatting bersama YM”. Cukup satu kata untuk menggambarkan apa yang ada dipikiranku kali ini, yaitu “I’tikaf”. Awalnya pikiran dan hati yang masih begitu lugu tentang ilmu agama ini bertanya-tanya tentang satu kata tadi, apakah perempuan atau yang lazim disebut akhwat itu boleh melakukan I’tikaf, apakah I’tikaf bagi akhwat harus dilakukan di mesjid, apa saja yang dilakukan saat I’tikaf itu dan di mesjid mana saya dapat melakukan I’tikaf itu. Ketika pikiran ini bertanya-tanya, terkadang hati berusaha meyakinkan bahwa betapa indahnya I’tikaf yang digambarkan ustazd Yusuf Mansur Itu. Kurang lebih 30 menit, aku bertanya pada diri sendiri dan tak kunjung menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas. Namun, keingintahuan tentang hal yang satu ini cukup mengantarkanku untuk memejamkan mata karena telah begitu lelah dengan kuliah seharian dengan harus tetap mengisi ramadhan ini. Dalam sekejap, tubuhku pun bisa beristirahat walau hanya beberapa jam saja.
--| |--
Jum’at, 10 Agustus
Ku ambil langkah seribu karena sepertinya sudah terlambat menuju ruang tutorial gedung ABCD FK Unand. Untung, ketika kaki menginjak lantai dari ruangan yang dingin oleh AC yang over ini, sang tutor belum menduduki bangku yang khusus disediakan untuk memantau kami berdiskusi. Aku pun segera mengincar tempat yang tergolong strategis saat tutorial. Sekali lagi aku bersyukur karena dalam waktu lebih kurang satu setengah jam saja, tutorial berjalan lancar walaupun dengan sedikit komentar sang tutor. Ketika kaki melangkah keluar ruangan yang tergolong suram  ketika tutorial ini, hati merasa plong karena beban satu minggu ini sepertinya sudah terpenuhi dan pikiran pun beranjak memikirkan apa saja yang bisa dilakukan di akhir pekan . Kegiatan yang menyenangkan tentunya. Namun, Aku pun teringat pada agenda berikutnya.

“Kak, jadi kita mentoring siang ini?” kalimat ini meluncur dari bibir ketika sesosok wanita anggun ini duduk tepat disebelahku. Ia adalah mentor pengganti karena mentor sebelumnya sedang sibuk dengan agenda coast-nya. 

“InsyaAllah jadi, Ana” hanya jawaban singkat itu terlontar dari mulutnya karena harus bangkit untuk shalat sunat.

Aku pun duduk menunggu kak Nisa di teras mesjid sembari mengobrol dengan teman yang ternyata juga akan menjadi teman satu mentoring. 

“Apa kabar ukhti semua?” sapaan ini begitu indah didengar ketika senyuman pun mewarnai dan tangan saling berjabat serta tubuh saling berpelukan sembari sedikit cipika-cipiki. 

“Alhamdulillaah baik kak”, aku dan Sari menjawab pertanyaan dan membalas perlakuan kak Nisa yang begitu menyejukkan dan mengikat hati ini.

Tanpa terasa setiap detik dalam mentoring ini sungguh menginspirasi. Aku tak menduga ternyata rencana Allah begitu indah. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi malam melalui sesosok akhwat yang sedang duduk didepanku sembari dengan ikhlas berbagi ilmunya. Bahkan, diakhir mentoring, kak Nisa menawariku untuk berangkat bersama menuju mesjid Semen Padang nanti malam. Dengan girang, aku menyetujui walau kata InsyaAllah mengawali janji ini.

Ketika matahari mulai terbenam, burung kembali ke sarang, gelap mulai menyelimuti, Hamba-hambaNya yang berpuasa pun bergegas pulang, mempersiapkan diri untuk berbuka. Tak berbeda denganku, persiapan berbuka dikamar kos sendiri memang tidak tergolong sulit, yaitu hanya memanaskan lauk yang dibawa dari kampung dan membuat segelas teh hangat. Adzan pun berkumandang dan layaknya seperti menghentikan aktivitas manusia untuk menyegerakan berbuka. Seteguk teh hangat sepertinya sudah cukup melegakan dahaganya kerongkongan ini. Aku pun beranjak untuk menunaikan shalat maghrib dan makan. 

“Ana, lagi makan ya, Diana boleh ikutan makan di kamar Ana? Soalnya Diana tidak berselera kalau makan sendiri.”, suara ini mengagetkanku yang sedang asyik melahap nasi plus rendang yang ku buat bersama ibu satu minggu yang lalu.

“Boleh-boleh”, aku mempersilahkan Diana masuk ke kamar kos dan kami pun melahap makanan masing-masing sembari mengobrol dan sedikit canda tawa.

Tiba-tiba, bunyi handphone mengagetkanku. Ternyata, kak Nisa menelpon karena telah menungguku di pos satpam. Astaghfirullaah, aku lupa tentang janji siang tadi karena begitu asyiknya mengobrol dengan Diana. Dengan berat hati, kak Nisa berangkat sendiri ke mesjid Semen Padang karena tidak cukup waktu untuk menungguku untuk mandi dan merpersiapkan segala yang dibutuhkan dan aku pun merasa tidak enak jika kak Nisa menunggu lama.

Sabtu, 11 Agustus
Aku teringat bahwa agenda radius (Ramadhan di Kampus) hari ini adalah lomba Fahmil Qur’an. Aku pun segera bergerak menuju kampus karena tidak ingin melewatkan kegiatan ini. Walaupun hanya menjadi penonton karena merasa tidak percaya diri dengan ilmu agama yang masih dangkal, ku tetap merasa enjoy diruang yang memang telah dikondisikan oleh panitia sebelumnya. Suara Bel pun silih berganti berbunyi seakan saling bersahutan. Aku pun terpaku pada lantunan ayat suciNya yang silih berganti dibacakan. Bahkan, aku pun tak sadar bahwa asharpun telah datang dan lomba pun break untuk sementara.

Usai shalat ashar di mesjid, aku pun memutuskan untuk lansung pulang saja karena ingin mempersiapkan makanan untuk berbuka. 

“Ana, kamu gag ikut rapat ultah MRC?” suara ini menghentikan langkahku untuk segera menolehkan wajah menuju sumber suara.

“Gag va, Soalnya aku tidak dijarkom, kemungkinan aku tidak dipilih menjadi panitia”, jawabku kepada sumber suara.

“ooo, trus kamu mau kemana? Oia, aku mau cerita kalau kemaren aku ikut I’tikaf di mesjid Semen Padang bersama kakak-kakak di wisma, Sungguh menyenangkan loh, apalagi ketika tahajud bersama”…., temanku yang cerewet ini terus berbicara sampai semua yang ada dipikirannya tersampaikan.

“Aku mau ke kos Va. Wah, kamu bikin aku iri aja. Aku jadi kepengen ikut , tapi gag ada teman kesana.”, jawabku dengan sedikit sedih mengingat kelalaianku tadi malam.

“Kebetulan, nanti malam temanku, Mika, berencana ikut dan tadi katanya dia mau pergi sore ini biar bisa berbuka disana juga. Aku sms nomor  telponnya yak ke nomormu . Ntar kamu sms aja. Aku mau rapat nih kayaknya udah mulai. Bye Ana”.

Sembari melangkahkan kaki menuju kos tercinta, ku tekan setiap tombol handphone hingga sebuah pesan terkirim. Namun, Naas, balasan yang ku terima membuatku kecewa. Ternyata, Mika sudah naik angkot menuju Mesjid. Aku tak berani menyusul karena takut nyasar. Akhirnya, dengan pasrah, ku menyelesaikan perjalanan menuju kos.

Sambil menunggu waktu berbuka, ku tak kehabisan akal. Sebuah pesan kembali ku kirim ke nomor yang tadi malam menelponku. Namun, kali ini balasannya membuatku tersenyum dan bersemangat. Tak ingin mengecewakannya lagi, ku persiapkan mukena, gelas, obat yang ku butuhkan, dan peralatan lain yang ku perlukan disana sehingga ketika selesai makan nanti ku bisa lansung meluncur menuju pos satpam. 

Usai makan, sesuai rencanaku, dengan segera ku berjalan menuju pos satpam. Kali ini, aku lagi-lagi diuji atau mungkin balasan kelalaianku tadi malam. Kak Nisa tak kujung datang bersama motornya. Kurang lebih 30 menit, ku duduk menunggu bersama sebuah Al-Qur’an ditangan dan seorang wanita paruh baya yang juga menunggu anaknya. Sebuah pesan di HP melegakan perasaan gundah ini dan disusul dengan kedatangan sosok yang kutunggu bersama motornya. Sambil berbonceng dibelakang kak Nisa, ku menikmati udara malam kota Padang yang dingin, tetapi bahagia dihati sudah cukup menghangatkan tubuh ini. Akhirnnya, aku dan kak Nisa sampai juga ditempat tujuan dan kami segera menuju lantai dua mesjid untuk melaksanakan shalat isya agar tak ketinggalan untuk shalat tarawih berjama’ah.

Lantai dua mesjid Semen Padang memang disiapkan khusus bagi akhwat yang ingin beri’tikaf. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua, ku temukan disini, tetapi tentu dengan label “akhwat”. Mereka semua sungguh telah mempersiapkan diri. Si ibu dengan bayinya atau anaknya akan membawa persiapan seperti botol susu, susu, makanan, dan keperluan lain yang dirasa perlu di malam hari dan begitu juga dengan  ibu-ibu lanjut usia, mereka akan membawa perlengkapan yang mereka butuhkan untuk menginap. Aku, kak Nisa, serta mahasiswa lain juga membawa perlengakapan yang diperlukan seperti makanan, minuman, jaket, dll. Hal yang menyamakan dari semua golongan adalah Al-qur’an senantiasa ditangan, mukena senantiasa melingkupi tubuh dalam shalat dan tidur sebentar atau tidak tidur sama sekali. Lain halnya dengan pihak mesjid yang begitu baik menyediakan air gallon beserta dispenser yang bebas di ambil dan diminum kapan saja, makanan untuk berbuka, dan makanan untuk sahur.  

Usai shalat tarawih berjama’ah di lantai satu , aku dan muslimah lain yang akan i’tikaf segera menuju lantai dua. Seperti akhwat lain, ku ingin ditemani Al-qur’an malam ini sembari menunngu waktu tahajud berjama’ah. Terkadang kantuk menyapa, tetapi hati berusaha menguatkan. Namun, aku pun menyerah ketika malam telah begitu larut dan memutuskan untuk menghempaskan tubuh di sebidang karpet yang disediakan bersama akhwat lain yang sedari tadi sudah duluan tidur. Aku kagum pada sosok di depan sana, atau disudut sana yang kuat dan begitu menikmati malamnya dirumah Rabbnya hingga ia pun lupa untuk tidur.

Kurang lebih satu jam kemudian, ku terbangun oleh suara kak Nisa yang membangunkan untuk tahajud bersama. Subhanallaah, aku bersyukur bisa tahajud bersama dengan tangisan yang pecah dalam doa pada Rabb, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahkan, imampun menangis terisak-isak hingga suaranya hilang dalam lantunan do’a. Sang imam seperti mengajak kami merasakan betapa ni’mat bermunajat padaNya, berdoa padaNya dalam sepertiga malam di rumahNya.  Dalam do’a, yang terbayang di pikiran ini adalah sekelumit dosa dalam mengharap ampunanNya, sekelumit ni’mat yang tak terhitung, sekelumit wajah-wajah keluarga yang begitu dicintai, Ibu, Ayah, Adik, Abang, Nenek, dan saudara seiman yang senantiasa mewarnai hari-hari dalam perjuangan berharap syurgaNya serta saudara yang mungkin pernah ku buat sedih, kecewa, atau menderita. Dalam sejuta asa, ku berucap Alhamdulillaah  yang begitu luar biasa hingga air mata tak henti mengalir. Tak terbayang betapa hampa dan lemahnya diri ini tanpa pertolonganNya, betapa hinanya diri ini tanpa lindungan dan hidayah dariNya, dan betapa malang dan miskinnya diri ini tanpa ni’mat dariNya. Sekali lagi, air mata ini jatuh karena ingat sosok ibu yang begitu mulia dan kuat di tempat yang jauh disana, ayah, abang, dan adik. Ingin juga rasanya ku do’akan keselamatan dunia dan akhirat bagi mereka. Namun, tiba-tiba isakan yang senantiasa ku tahan malah semakin luar biasa ketika imam mengajak kami merasakan betapa hebatnya perjuangan saudara-saudara di Palestina dalam simbahan darah dan dalam kecaman maut untuk beribadah. Sementara kami disini dengan mudahnya dapat menikmati hari-hari dalam beribadah padaNya, menikmati makanan dan minuman tanpa ditakut-takuti suara tembakan dan menuntut ilmu tanpa kecaman mati didepan mata. Hanya seuntai do’a yang terucap pada Rabb agar Dia senantiasa melindungi dan menjaga mereka. Mungkin tetesan air mata ini atau untaian do’a ini tak sebanding dengan perjuangan muslim lain yang rela berjihad disana, Palestina. Namun, dengan turut merasakannya, setidaknya rasa syukur memotivasi untuk turut berjuang beribadah di jalanNya dan berharap bisa berjihad disana dalam profesi yang akan ku geluti kelak. Amiin Ya Rabbal’alamiin. Subhanallaah, sungguh pengalaman dan perjuangan yang mengnspirasi. Hingga tetesan demi tetesan air mataku  pun mulai menghilang disertai senyuman dan kelegaan hati yang tak bisa ku gambarkan. Ku pun merasa semua telah ku ceritakan, ku luapkan, dan  ku kuadukan padaNya, Allah Azza Wa Jalla.

Usai shalat dengan mata sedikit sembab, ku beranjak menuju tempat yang menyediakan makanan untuk sahur karena imsak sebentar lagi datang dan diikuti dengan shalat subuh berjama’ah. 

“Ana, sudah siap? Tunggu kakak di motor aja ya, Kakak mau packing dulu diatas”, kata Kak Nisa usai shalat.

“oke Kak” , aku pun beranjak meninggalkannya menuju tempat parkir motor.

Ketika diatas motor bersama kak Nisa, aku merasa lega dan bahagia. Semua pertanyaan yang kemarin terlintas dibenakku terjawab sudah. Kali ini, dalam cekaman udara subuh yang dingin, aku terharu dan berharap bisa kembali menginap dalam ibadah disana, rumah Allah. Walaupun ini adalah I’tikaf pertamaku, tetapi ku berharap ini bukan I’tikaf terakhirku.

Rabu, 22 Agustus 2012

Surat Cinta Untuk Ramadhanku

oleh : Nurfazlina

Kekasihku…
Sungguh aku rindu karena sudah setahun kita tak bertemu,
Sungguh aku masih ingat masa-masa satu tahun lalu,
Sungguh aku akan bersyukur jika aku masih bisa bertemu denganmu,
Sungguh aku akan bahagia jika masih bisa bersamamu ,
Sungguh aku tak ingin menyia-nyiakanmu
Sungguh aku akan menyambutmu, menemanimu, mengisi hari-hari bersamamu.

Kekasihku…
Alhamdulillaah,
Allah mengijinkanku untuk bertemu denganmu lagi tahun ini,
Allah memberiku kesehatan untuk menyambutmu,
Allah memberiku ni’mat untuk menemanimu, mentraktirmu sahur dan berbuka, mengulang bahkan berusaha lebih beribadah bersamamu.

Kekasihku…
Aku masih ingat satu tahun lalu bersamu,
Dipagi buta, ku bangun bersama keluarga atau terkadang sendiri untuk sahur,
Ku melahap rezeki dariNya walau terkadang nafsu makanku mulai hilang, mungkin karena kantuk,
Mata ini berusaha untuk terbuka dengan terkadang hati ini kesal karena ingin tidur,
Atau aku tertidur tak bisa sahur atau memilih tak bangun karena enaknya tidur,
Tak beberapa menit kemudian, imsakpun mulai menyapa,
Ku teguk air agar tak haus disiang hari dan agar pencernaan itu lancar,
Sebenarnya aku ingin mengaji seperti muslimah lain untuk menunggu azan atau bersegera wudhu’ untuk ke mesjid, namun terkadang mata memilih untuk menutup dan betapa enaknya tubuh ini ditutupi selimut.
Tapi aku bersyukur, kali ini tubuh bisa menghirup udara subuh yang bersih dengan bergegas menuju mesjid
Kemudian usai subuh bersiap kembali kerumah untuk tidur lagi atau untuk bersiap ke sekolah, kampus, atau kerja.
Dari terbit fajar hingga terbenam matahari, qiyam itu ku jalani,
Terkadang lapar, haus, emosi, nafsu, dan lelah mengganggu,
Namun, ibadah harus tetap ku jalani untuk membahagiakanmu,
Dalam Dhuhaku, Tadarusku, Zhuhurku, Zikirku, Asharku, Kerjaku, Sekolahku, Kuliahku ku abdikan hanya karena aku bahagia menyambutmu, bahagia atau berkah yang kali ini kau beri untukku, karena kau menjanjikan hadiah yang indah, cantik, dan berlipat yaitu pahala, syurga, dan ampunan dosa.
Tak Terasa, Sirine atau bedukpun berbunyi, aku bersyukur masih bisa melahap rezeki dari Allah dengan secukupnya tak lebih jadi nafsu karena maghrib telah menantiku,
Terkadang makan dulu atau menunda untuk makan karena ingin secepatnya ke mesjid, isya, taraweh, witir, mendengar ceramah, mengunjungi rumah Allah,
Pulang malam memang melelahkan dengan mata mulai mengantuk tapi bintang di langit sungguh memelekkan mata,
Sampai rumah, Tubuh lansung menuju kasur atau memilih membaca Al-qur’an atau memilih makan.
Aku selalu berdo’a agar terbangun di tengah malam untuk tahajud, bermunajat padaNya,
Aku ingin mencari lailatulqadarNya,
Hingga sahurpun lagi-lagi datang.
30 haripun berlalu,
Sungguh aku bahagia karena idul fitri akan datang
Tetapi aku sedih karena dirimu akan pergi dari hatiku, dari hariku, kerena mungkin saja tahun depan kita tak lagi bertemu.
Aku menyesal karena terkadang aku mengecawakanmu 30 hari lalu, tidak benar-benar memanfaatkan waktu bersamamu,
Aku selalu berusaha agar kepergianmu mengajarkanku untuk menunggumu dengan istiqamah beribadah, mempercantik iman ini,
Aku selalu berdo’a agar masih bisa bertemu denganmu lagi dan tak menyia-nyiakanmu lagi karena mungkin saja mati lebih dahulu menjemputku sebelum kamu datang lagi dan kita bersama lagi.

Kekasihku…
Allah mendengar do’aku,
Aku bisa bertemu denganmu lagi, memulai kebersamaan kita lagi 30 hari kedepan,
Aku berikhtiar agar kita bisa bersama dalam ibadah pada Allah, dalam haru karena pahala, ampunan dosa dan syurga telah menunggu, dalam indahnya ukhuwah dan cinta Allah,
Aku berikhtiar agar sahur dengan syukur dan lahap bersamamu Ramadhan,
Agar shalat wajib, shalat sunnah, dan shalat malam itu tak bolong lagi seperti donat,
Agar tadarus dan Al-qur’an itu menemaniku,
Agar zikir senantiasa menemani dalam bekerja, kesawah, ke pasar, ke kampus, ke sekolah,
Agar berbuka dengan sederhana dan dalam syukur,
Agar ceramah ustad di mesjid, ceramah ustad maulana, ceramah mamah dedeh, yusuf mansur, dll bisa ku dengar dan memperbaiki ibadahku,
Agar zakat, infak, dan sedekah bisa ku tunaikan karena harta ini milik Allah, karena saudaraku yang tak beribu, berayah, yang cacat, yang tak punya rumah, yang hari ini tak bisa makan, yang hari ini tak punya baju, yang hari ini ditimpa bencana dan musibah bisa tersenyum dan juga beribadah pada Allah
Agar lailatulqadar menjadi hadiah bertemu dengamu, Ramadhanku.

Kekasihku…
Ramadhanku…
Bersamamu aku beribadah padaNya, bermohon syurgaNya, takut nerakaNya.
Kekasihku…
Ramadhanku…
Ternyata, tak terasa 30 hari pun berlalu,
Dalam takbir berkumandang, kau beranjak meninggalkanku lagi dan lagi,
Ku hanya mencatat dan menyimpan kenangan bersamamu satu bulan lalu, Ramdhan 1433 H
Beberapa ikhtiar diatas mungkin telah terpenuhi,
Tapi, bersamamu tak kan terganti bahkan aku merasa merugi,
Aku masih ingat hari jum’at atau sabtu, ku memulai berpuasa,
Alhamdulillaah bisa sahur dan berbuka bersama keluarga untuk setengah ramadhan awal,
Menjahit, memasak, menjalani aktivitas bersama mama
Malamnya, pergi taraweh juga bersama mama,
6 Agustus 2012, ku memulai sahur sendiri di kamar kos. Tak ada lagi canda tawa mama, papa, zikri, dan abang,
Paginya, memulai aktivitas kuliah yang tetap saja padat walau sedang berpuasa,
Tapi, Ramdhan tahun ini sungguh berbeda, tak hanya menjadi Pencari Ta’jil Gratis dengan ikut ngabubutir bareng Al-Qur’an di mesjid kampus, namun juga menjadi Penyedia Ta’jil Gratis bersama kakak-kakak dan teman-teman akhwat lainnya, sungguh menyenangkan,
Malam minggu pun menjadi tak terlupakan, i’tikaf pertama  dan satu-satunya yang bisa ku jalani di mesjid Semen Padang karena begitu padatnya agenda. Subhanallaah, tangisan pecah saat tahajud bersama,
Minggu malam menyusul dengan cerita bersama saudara-saudari yang sudah tak berayah dan beribu. Hatiku pilu ketika mimpi-mimpi mereka diucap dengan yakin, hatiku pilu ketika tubuh-tubuh kecil itu patuh pada pembinanya, apakah mereka mengerti dan sadar bahwa mereka hanya sebatang kara? Namun, senyum mereka masih ada dan optimis, Semoga banyak donatur yang sadar bahwa mereka ada.
Hari-hari mendekati kepergian Ramadhan menjadi biasa-biasa saja, dengan rutinitas ibadah yang diusahakan tak bolong,
Aku ingin i’tikaf lagi, tapi tugas kuliah menggunung mendekati liburan, agenda if’thor jama’i pun ada setiap hari, bahkan nenekpun mengundang untuk bersilaturrahmi, semoga ramdhan depan bisa i’tikaf lagi. Amiin Ya Rabb.
Kini, ramadhan telah benar-benar pergi, ku berharap semoga amal ibadahku di ramadhan tahun ini diterima disisiNya walau tak sempurna dan tak luarbiasa, ku berharap bisa istiqamah beribadah padaNya dalam penantian menunggu Ramadhan depan, Kekasih yang begitu didamba.

Minggu, 19 Agustus 2012

Tuhan, Ku Mohon...


Tuhan, ku mohon bisa membuang rasa ini karena ku hanya ingin menjadi muslimah karenaMu, hanya ingin menjadi istri shalehah karenaMu, hanya ingin menjadi ibu yang baik karenaMu
Tuhan, ku mohon hilangkan rasa ini dari hatiku karena ku ingin ikhlas menerima jodoh dari lauhul mahfizhMu kelak, ku tak ingin ia cemburu, ku ingin rasa ini hanya untuknya kelak
Tuhan, ku mohon bisa menjaga hatiku, menjaga pandanganku, menjaga kehormatanku agar ku bisa mencintai dan dicintai dengan ikhlas oleh jodoh dari Lauhul MahfuzhMu kelak
Tuhan, ku mohon jangan ada suka dan cinta dihati ini pada ikhwan manapun agar ku bisa menerima dan mencintai jodoh dari Lauhul MahfuzhMu kelak dengan sepenuh hati, siapapun itu.
Tuhan, ku mohon beri kemudahan agar bisa istiqamah berikhtiar menjadi terbaik dimataMu, menjadi muslimah terbaik dimataMu, menjadi istri yang terbaik dimataMu dan menjadi ibu yang baik dimataMu agar jodohku dari Lauhul MahfuzhMu adalah sosok yang senantiasa menjadi terbaik dimataMu, sosok muslim terbaik dimataMu, sosok suami terbaik dimataMu dan sosok ayah terbaik dimataMu sehingga keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah itu menjadi dambaan.

Entri Terbaru

Tokoh Indonesia dan Nilai Berakhlak