Rabu, 04 Juli 2012

LANSIA : MENJADI VEGETARIAN, SEHATKAH?

(Essai Temilnas 2012)

By : Nurfazlina,

FK UNAND, 2011


Saat ini tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi vegetarian merupakan salah satu trend dunia kesehatan. Ternyata, dari segi pelaku, tidak hanya anak-anak, remaja, dan dewasa yang cenderung memilih menjadi vegetarian, lansia pun ada yang memilih menjadi vegetarian. Banyak penelitian menemukan bahwa menjadi vegetarian dapat mencegah dan mengobati penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi, kanker, stroke dan lain-lain. Berdalih dari anggapan bahwa menjadi vegetarian menimbulkan malnutrisi tubuh, misalnya kekurangan protein, zat besi, dan vitamin B12, badan menjadi cepat lemas dan lelah dan menyiapkan makanan vegetarian itu repot, rasanya hambar, dan tidak banyak variasi, lansia pun mulai bertanya-tanya, apakah sehat menjadi vegetarian.

Sebelum mengupas lebih dalam kontroversial diatas, sebaiknya kita tahu dulu apa sebenarnya defenisi lansia dan vegetarian. Secara umum, lansia adalah mereka yang telah berusia 65 tahun keatas. Menurut Durmin (1992), lansia dibagi atas young elderly (65-74 tahun) dan older elderly (75 tahun). Sementara menurut Munro dkk. (1987), older elderly dibagi lagi atas usia 75-84 tahun dan 85 tahun.  Di Indonesia, M.Alwi Dahlan menyatakan bahwa orang dikatakan lansia jika berumur diatas 60 tahun. Namun, jika mengacu pada usia pensiun, lansia adalah mereka yang telah berusia diatas 56 tahun.  Dari pengelompokan ini, terdapat istilah Lansia Risiko Tinggi ( High Risk Elderly ) dengan ciri-ciri yaitu, usia diatas 80 tahun, hidup sendiri, depresi, gangguan intelektual, jatuh beberapa kali, inkontinensia urine, dan di masa lalu tidak dapat menyesuaikan diri. Dilihat dari aspek kesehatan, ada lansia yang tergolong sehat dan ada pula yang mengidap penyakit kronis. Di samping itu, sebagian lansia masih mampu mengurusi diri sendiri, sementara sebagian lain sangat tergantung pada “belas kasihan” orang lain. Kebutuhan gizi bagi lansia yang sehat dan aktif tidak berbeda dengan orang dewasa sehat.

Sementara itu, vegetarian dikenal sebagai orang dengan pola makan yang unik karena hampir seluruh makanannya berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti sayur, buah, padi-padian, dan kacang-kacangan. Didefinisikan berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi dan dipantang dalam pola makan sehari-harinya, vegetarian dibedakan atas tiga tipe, yaitu vegan, lacto-vegetarian,dan lacto-ovo-vegetarian. Seorang vegan, atau vegetarian murni/ total hanya mengkonsumsi makanan dari tumbuhan dan sama sekali tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari binatang termasuk daging, ayam, ikan, susu, telur, dan seafood. Sementara itu, lacto-vegetarian didefinisikan tipe vegetarian yang juga mengkonsumsi susu dan produk olahan susu seperti keju dan yogurt dalam keseharian, tetapi tidak mengkonsumsi daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, telur, dan seafood. Terakhir, vegetarian lacto-ovo adalah vegetarian yang mengkonsumsi makanan nabati, susu, dan telur untuk makanan sehari-hari dan tetap tidak mengkonsumsi daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, dan seafood. Jadi, vegetarian bukan tidak memperoleh nutrisi seperti protein, lemak, kolesterol, dan nutrisi lain yang dibutuhkan (yang biasa terkandung pada makanan hewani), melainkan vegetarian memperoleh protein, lemak, kolesterol dan nutrisi lain dari makanan nabati yang dikonsumsi, susu, dan olahannya

Menariknya, jumlah penganut vegetarian  secara umum di dunia maupun di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Hasil survei tahun 1997 melaporkan 1% penduduk Amerika Serikat adalah vegetarian. Angka ini meningkat menjadi 2,5% pada tahun 2000 dan 2,8% pada tahun 2003. Penduduk Inggris dengan pola vegetarian sebanyak 3% pada tahun 1987 dan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 1997 menjadi 5,4%. Newspoll Survey pada tahun 2000 melaporkan terdapat 2% penduduk Australia vegetarian dan 18% penduduk lebih menyukai makanan vegetarian. Sementara itu di India, tahun 2003, terdapat lebih dari 50% penduduk adalah vegetarian. Di Indonesia sendiri, jumlah penganut vegetarian juga mengalami peningkatan. Jumlah vegetarian yang terdaftar di Indonesia Vegetarain Society (IVS) saat berdiri tahun 1998 adalah sekitar 5000 anggota dan meningkat menjadi 60.000 anggota pada tahun 2007. Angka ini merupakan sebagian kecil dari jumlah vegetarian yang sesungguhnya karena tidak semua vegetarian mendaftar menjadi anggota (Kusharisupeni, 2010).

Berdasarkan data diatas, peningkatan penganut vegetarian tentu diikuti oleh faktor-faktor pendukung berupa alasan-alasan memilih menjadi vegetarian. Khusus bagi lansia, alasan menjadi vegetarian dapat dilihat dari alasan fisiologis tubuh, alasan kesehatan, alasan lingkungan, alasan finansial dan alasan spiritual.

Pertama, alasan fisiologis tubuh. Lansia identik dengan penurunan fisiologis saluran cerna. Bagian rongga mulut yang lazim terpengaruh adalah gizi, gusi, dan ludah berupa tanggalnya gigi dan infeksi gusi yang menimbulkan kesulitan dalam mengunyah dan menghancur makanan utuh seperti daging, kacang, dll, dan sekresi ludah berkurang sampai kira-kira 75 %  yang menimbulkan ketidakoptimalan metabolisme makanan. Motilitas lambung menurun hingga pengosongan lambung menjadi lebih lambat dan kurangnya epitel lambung akan menyebabkan peningkatan pH lambung yang akan menurunkan absorbsi besi, kalsium, vitamin B-6, B-12, dan folat, serta menyebabkan pertumbuhan bakteri pada usus halus. Terdapat penurunan ukuran kemampuan fungsional lever seperti fungsi enzim sitokrom 450 dan sintesis albumin pada lansia yang akan menyebabkan metabolisme kolesterol dan vitamin kurang efesien. Beberapa fakta fisiologis diatas mengilhami lansia memilih menjadi vegetarian. Makanan vegetarian terutama sayur dan buah-buahan mudah untuk dilumat dan dihancurkan didalam mulut. Bahkan, dengan penyajian makanan nabati dalam bentuk mudah lumat dan cair pun dapat melewati mulut dengan mudah dan membantu mencegah konstipasi. Pola makan vegetarian yang identik dengan kecenderungan mengkonsumsi sayur, buah, dan makanan nabati juga meningkatkan frekuensi konsumsi besi, kalsium, vitamin B-6, B-12, dan folat. Penurunan konsumsi makanan yang mengandung kolesterol pada vegetarian juga bisa dikaitkan dengan fenomena kurang efisiennya metabolisme kolesterol di hati sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya diatas.

Kedua, alasan kesehatan. Alasan ini merupakan salah satu alasan lansia memilih vegetarian menjadi gaya hidup karena dengan menjadi vegetarian, dapat mengurangi risiko penyakit ringan seperti konstipasi. Konsumsi lemak nabati pada vegetarian dengan kandungan yang tidak berlebihan dibandingkan dengan mengkonsumsi lemak hewani dapat menghindari potensi obesitas, hipertensi, jantung koroner, kanker, stroke, osteoporosis yang identik dengan lemak dan kolesterol berlebih.

Ketiga, alasan lingkungan. Alasan lingkungan ini berhubungan dengan tujuan untuk konservasi energi, air, tanah, dan tanaman sehingga ekologi tetap terjaga. Peningkatan penyediaan sayuran, buah, dan makanan nabati juga berkaitan dengan penghijauan menuju pencegahan global warming. Keempat, alasan finansial. Biaya hidup vegetarian cenderung lebih murah dan hemat karena harga bahan pangan nabati relatif jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan daging. Di Inggris, premi asuransi untuk orang yang menjadi vegetarian lebih kecil dibanding orang non-vegetarian karena para vegetarian ini memiliki resiko terkena penyakit jantung yang lebih rendah daripada para pemakan daging. Bagi lansia yang tergolong hidup pas-pas, menjadi vegetarian dapat membantu memenuhi nutrisi sesuai kebutuhan. Terakhir, alasan spiritual. Ada beberapa agama di dunia yang menganjurkan umatnya untuk menjadi seorang vegetarian seperti Hindu dan Budha. Ajaran agama ini tidak memperbolehkan seseorang untuk membunuh makhluk yang bernyawa untuk alasan apapun, apalagi untuk kepentingan orang yang bersangkutan.

Memilih menjadi vegetarian memang tidak terlepas dari berbagai alasan diatas. Namun, memilih menjadi vegetarian pun memberikan keuntungan. Berbagai penelitian berusaha mengungkap tabir manfaat vegetarian terhadap kesehatan terutama bagi lansia. Data-data menunjukkan bahwa orang dengan pola makan vegetarian umumnya lebih sehat dan berumur panjang dibanding mereka yang non vegetarian. Sebagai contohnya, penelitian pada tahun 2009 di bulan Maret oleh The American Dietetic Association pada lebih dari 500.000 orang-orang yang berusia 50-71 tahun di Amerika dan didapati bahwa orang-orang dewasa yang mengonsumsi paling banyak daging merah lebih berkemungkinan untuk meninggal dalam waktu lebih dari 10 tahun lebih cepat daripada mereka yang paling sedikit mengonsumsi daging merah, kebanyakan karena penyakit kardiovaskular dan kanker (Ltaminsyah, 2009). Apalagi bagi mereka yang mengurangi konsumsi daging merah dan menggantinya dengan mengkonsumsi makanan nabati. Para peneliti  menunjukkan  bahwa vegetarian mungkin memiliki risiko terkena osteoporosis lebih rendah dibandingkan non-vegetarian. Hal ini dibuktikan pada wanita berusia lanjut yang memiliki rasio konsumsi protein hewani lebih tinggi dibandingkan protein nabati, mengalami kehilangan kalsium pada tulang leher lebih cepat dan memiliki risiko patah tulang lebih tinggi dibandingkan wanita lanjut usia yang konsumsi protein hewaninya lebih rendah. Bahkan, Para peneliti di Loma Linda University di Loma Linda, California melakukan studi yang  melibatkan 23 vegetarian dan 14 non-vegetarian perempuan yang berusia antara 65-80 tahun, dan merupakan Advent (aliran Protestan yang mendorong anggotanya untuk menjadi vegetarian). Kabar baiknya adalah bahwa ibu vegetarian umumnya makan makanan lebih sehat dari pada ibu-non vegetarian berupa karbohidrat, makanan berserat, dan sedikit lemak, kolesterol dan kafein. Diet mereka lebih sesuai dengan pedoman gizi yang ditetapkan oleh American Heart Association dan National Cancer Institute, dan mereka memiliki tingkat lebih rendah glukosa dan kolesterol dalam darah mereka.

Mengingat tak semua hal selalu positif, lansia yang menjadi vegetarian pun sering dituding dan ditemukan mengalami malnutrisimisalnyakekurangan protein, zatbesi, dan vitamin B12. Hal ini terutama disebabkan kurangnya pengetahuan lansia mengenai kebutuhan nutrisi lansia yang sehat dan kurang sesuainya konsumsi makanan dengan kebutuhan nutrisi lansia.  Pengetahuan yang besar terhadap pola makan vegetarian yang sehat dan penyanjian makanan yang sesuai kebutuhan dapat menghindari kondisi malnutrisi yang tidak diinginkan ini. Baik menjadi vegan, lacto-vegetarian, maupun lacto-ovo-vegetarian, seorang lansia dan keluarga lansia harus memperhatikan setiap kandungan makanan yang dikonsumsi, apakah telah memenuhi batas AKG (Angka Kecukupan Gizi) lansia. Lansia atau keluarga dapat membandingkan kandungan gizi masing-masing buah, sayuran, makanan nabati, dan makanan lain yang dikonsumsi lansia dengan tabel besaran kebutuhan zat gizi pada lansia dibawah ini :



Tabel Besaran Kebutuhan Zat Gizi pada Lansia

Sumber : “ Meeting the nutritional needs for older person”. WHO 2002

Jenis Gizi
Besaran
Energi
Protein
Lemak
Lemakjenuh
Air
Kalsium
Besi
Tambaga
Chromium
Magnesium
Selenium
Asamfolat
Seng
Vitamin A
Riboflavin
Vitamin B12
Vitamin C
Vitamin D
Vitamin E
Vitamin K
1,4-1,8 kali BMR
0,9-1,1 g/kg BB/hari
30%-35%
£ 8 %
30 cc/kgBB/hari
800-1200 mg/hari
10 mg/hari
1,3-1,5 mg/hari
50 µg /hari
225-180 mg/hari
50-70 µg/hari
400 µg/hari
4,2-14,0 mg/hari (pria), 3,0-9,8 mg/hari (wanita)
700 µg RE/hari (pria), 800 µg RE/hari (wanita)
1,3 mg/hari (pria), 1,1 mg/hari (wanita)
2,5 bg/hari
60-100 mg/hari
10-20 bg/hari
100-400 IU/hari
60 – 90 mg/hari



Berdasarkan uraian diatas, masihkah lansia beranggapan bahwa menjadi vegetarian itu tidak sehat. Belum tentu. Malnutrisi yang timbul akibat memilih menjadi vegetarian dapat terjadi akibat kurang cerdasnya lansia dalam mengoptimalkan pola makan sesuai kebutuhan gizi. Sebaliknya, Lansia yang cerdas dalam mengoptimalkan pola makan sesuai kebutuhan gizi akan merauk keuntungan-keuntungan  sesuai keinginan antara lain : menjadi sehat dan hemat.

Sekali lagi, Memilih menjadi vegetarian bagi lansia tentu memerlukan banyak dukungan selain keinginan nurani lansia itu sendiri. Dukungan keluarga menjadi hal yang sangat penting karena kebanyakan kondisi lansia yang kurang fit dalam menyiapkan makanan sehari-hari, menurunnya kekuatan tubuh, dan melemahnya daya tahan tubuh karena mengidap penyakit. Keluarga yang cerdas tentu tak ingin melihat nenek atau kakeknya hanya terbujur lemah di kamar karena penyakit kronis atau degeneratif merenggut hari tuanya. Bahkan dengan memperhatikan pola makan lansia, keluarga dapat meningkatkan rasa terimakasih dan kasih sayang terhadap lansia. Keluarga yang mungkin memiliki kesibukan pun tak perlu cemas harus meluangkan banyak waktu. Restoran-restoran vegetarian pun telah banyak menjamur dengan penawaran yang relatif murah. Namun, untuk keluarga yang memiliki cukup waktu luang, buku-buku tentang penyajian makanan vegetarian yang sehat, enak, dan bervariasi telah banyak beredar. Lebih-lebih, bagi keluarga dengan ekonomi pas-pasan, penyajian sayur, buah, dan makanan nabati yang lebih terjangkau dapat mendukung faktor ekonomi keluarga. Tak kalah penting, dukungan masyarakat dan pemerintah pun dapat mengambil andil. Optimalisasi mata pencarian masyarakat Indonesia yang cenderung mengolah lahan dengan menanam sayur, buah-buahan, dan berkebun dapat meningkatkan penyediaan makanan vegetarian dipasaran. Dukungan pemerintah terhadap optimalisasi mata pencarian ini pun perlu ditingkatkan seperti peningkatan pengetahuan teknologi pangan yang sehat dan cerdas, dan pemanfaatan lahan tidur. Bahkan, Pemerintah pun dapat mendukung pengusaha-pengusaha restoran vegetarian dalam mengoptimalkan fungsinya dan penyebarannya diseluruh penjuru.



DAFTAR PUSTAKA



Arisman. 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.

Darmojo, R. Boedhi dan Martono, H. Hadi. 2009. Geriatri (Ilmu Kesehatan Lanjut Usia). Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Maas, LT. 2011. Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Gambaran Masyarakat”.”http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22426/5/Chapter%20I.pdf” (diakses tanggal 31 Mei 2012).

Muhammad, H.F.L dan Oktaviani H, Prima. 2010. Bebas Kanker Tanpa Daging. Yogyakarta : Penerbit Jogja GREAT! Publisher.

Susianto. Widjaja, Hendry dan Mailoa, Helda. 2008. Diet Enak Ala Vegetarian. Jakarta : Penebar Plus.

__________ . 2012. “Seputar Vegetarian”.” http://kesehatanvegan.com/perihal-3/tenatang-vegetarian/” (diakses tanggal 30 Mei 2012).



Biografi Singkat Penulis


Essai LANSIA : MENJADI VEGETARIAN, SEHATKAH? adalah essai pertama Nurfazlina yang berbau kesehatan. Ia dilahirkan di Baso, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 10 Februari 1992. Kental dengan darah Minang, Perempuan yang biasa dipanggil “Alin” ini bersekolah di TK Tunas Harapan, SD N 10 Sei Cubadak, SMP N 1 Candung, dan SMA N 1 IV Angkek. Saat ini, Ia adalah mahasiswi prodi Pendidikan Dokter Angkatan 2011, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Berawal dari keinginan dan dorongan hati untuk belajar menulis karya ilmiah  dalam pengembangan bakat KIR (Karya Ilmiah Remaja) SMA N 1 IV Angkek, Ia pun mencoba dan menulis walaupun jarang yang terselesaikan. Ia pernah mencoba menulis KIR mengenai Global Warming. Namun, ia pun gagal menyelesaikannya dan tidak menemukan ide yang out of the box. Kali ini, dengan optimisme yang meluap, Ia mencoba mengungkap tabir pola makan lansia, yang menjadi kontroversial saat ini : menjadi vegetarian.

Awalnya, Ia mengetahui tentang rangkaian lomba Temilnas terutama essai saat BBMK yang dilaksanakan MRC (Medicalstudent Research Centre) BEM KM FK Unand. Kemudian, berkat bergabung dengan organisasi ini bulan mei 2012, ia pun mendapat info lomba Temilnas 2012 yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tidak hanya itu, sesama anggota MRC pun saling sharing  dalam hal penulisan essai yang baik, benar, dan kreatif. Hal ini meyakinkannya untuk membayar pendaftaran melalui Bank Syariah Mandiri dan akhirnya ia pun mengirimkan naskah essai yang berjudul LANSIA : MENJADI VEGETARIAN, SEHATKAH? tepat pada rentang waktu yang diberikan.
Sejak kecil Nurfazlina memang bercita-cita menjadi seorang dokter. Kesempatan untuk menuntut ilmu di kampus kedokteran tidak ia sia-siakan hanya dengan fokus pada prestasi akademik saja, tetapi ia ingin lebih dari itu, ia ingin menjadi mahasiswa yang kreatif, peka dalam dunia kesehatan yang sedang trend, dan berkarya dalam ilmiah. Menuliskan essai ini adalah langkah awal walaupun masih jauh dari kesempurnaan.

Selasa, 03 Juli 2012

7A is Still In My Memory, Always...

         oleh Nur Fazlina pada 3 Juli 2012 pukul 8:21


Sebelumnya, teman-teman, Alin minta ma’af kalau tulisan ini mengganggu, tidak berarti, dan tidak menarik untuk dikupas. Namun, hati ini berontak untuk menuliskannya hingga otot-otot hypothenar dan thenar pun terstimulus untuk berkontraksi, bergerak dan menari diatas keyboard.

Teman-teman, masih adakah memory tersimpan di hipokampusmu, Memori tentang 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, 1.5, dan 1.6?. Masih ingatkah pengumuman satu tahun lalu tentang daftar nama yang tertulis dibawah rangkaian kata “Kelompok 7A” yang mungkin satu pun tak kita dikenal?. Masih adakah dalam memorimu tentang wajah-wajah lugu berkenalan di depan akademik gedung putih FK Unand?. Akhirnya, kita pun saling bertukar nomor hp.

BLOK 1.1 Pengantar Pendidikan Dokter
Inilah awal kita berkenalan dalam semangat awal kuliah yang membara. Pagi ini, sesosok tubuh manusia telah tercatat sebagai mahasiswa yang paling awal memasuki ruangan tutorial. Ia adalah Bang Izzat, Senior yang ikut blok kali ini yang dikemudian hari senantiasa berusaha sabar untuk meladeni tingkah laku 8 pejuang lain yang masih lugu dan belum terkontaminasi bau kadaver, dan yang di kemudian hari menggoreskan kesedihan dalam hati kita atas keputusan dan kepergiannya. Sebenarnya, Tutorial hari pertama bukan hanya hal yang baru, tetapi juga sedikit menegangkan. Untung, Echa dan Risa sepertinya telah mempersiapkan bahan untuk menarik hati Bu Encim untuk pertama kalinya. Blok 1.1 memang masih belum begitu berat, bahkan terkesan menarik karena saat inilah kita akan melihat bagaimana seorang dokter sesungguhnya, bagaimana berjanji dan bersumpah, bagaimana ia berinteraksi dengan sesama, bagaimana ia beretika, dll. Kita pun mengakhiri blok ini dengan secara perdana mengaplikasikan jurus jitu untuk ujian blok : belajar kelompok. Lantas bagaimana hasilnya?

BLOK 1.2 Kardiorespirasi
Kali ini, kita mulai merasakan bagaimana jantung itu berdetak, bagaimana darah itu mengalir, bagaimana nafas itu dihirup dan dihembuskan. Kita mulai merasakan mualnya membau kadaver, tetapi perlahan-lahan, saraf olfaktori pun terbiasa mengenalinya dan merespon dengan baik. Namun, kali ini kita berusaha untuk mandiri karena tak ada lagi bang izzat yang menemani. Kita mulai membuka lembaran Sobotta, menjelaskannya dalam bentuk gambar dalam tutorial, dan inilah awal materi kedokteran yang sesungguhnya. Diakhir blok, jurus jitu : “belajar bareng” tetap ada. Lantas bagaimana hasilnya?

BLOK 1.3 Neuromuskuloskeletal
Blok ini adalah blok yang tak terlupakan, menegangkan, menakutkan, dan menguras tenaga dan emosi kita. Bukan hanya materinya yang menggunung, tetapi tutor pun membebani dengan slide OHP dan dibumbui dengan kemarahan setiap tutorial seakan-akan menstimulus saraf, otot, dan tulang untuk senantiasa bekerja keras. Tutor kali ini memang berbeda bahkan luar biasa dengan titel yang begitu panjang mengikuti deretan namanya. Ia seakan-akan ingin kita seperti dirinya, menguasai anatomi dengan fasih. Namun, kita bersyukur bisa melaluinya. Lantas bagaimana hasilnya? Terimakasih terdalam untuk tutor yang begitu luar biasa ini.

BLOK 1.4 Pencernaan, Metabolisme, Dan Hormon
Blok baru di awal semester baru. Kita tak hanya berdelapan lagi kawan. 3 senior sudah cukup meramaikan blok ini. Anatomi, Biokimia, Histologi, dan Fisiologi pun mengeroyok kita. Laporan biokimia sepertinya telah menanti setiap minggunya karena mereka adalah bagian terbesar dari pencernaan, metabolisme, dan hormon tubuh. Namun, kita beruntung mendapat tutor yang baik terutama pada hari kedua setiap minggunya sehingga DC tetap bisa diikuti. Dosen skill lab pun mewarnai pemberian materi dan ujian yang lugas, mulus, tidak ribet, dan ontime. Rasa jijik pada feses pun harus dihilangkan karena ia adalah barang berharga untuk membantu pasien yang butuh pertolongan. Lantas bagaimana hasilnya? Jurus jitu “belajar bareng” pun menjadi saksi.

BLOK 1.5 Urogenital
Sejauh ini, blok ini terkenal dengan “blok dengan tersedikit KP”, tetapi ternyata tidak bagi kita. Dibantu dengan 2 orang senior sebagai tambahan, kita harus menyelesaikan laporan dengan sebaik dan sebagus mungkin agar sang tutor tidak mengomentari dan meminta untuk dibuat ulang. Kak Fika pun senantiasa menyemangati hari-hari skill lab yang lumayan berat, bagaimana memasang kateter, memeriksa genitalia, dan membuat quisioner. Rasa jijik pada urin pun harus dihilangkan karena ia adalah barang berharga untuk membantu pasien yang butuh pertolongan. Namun, masih ingatkah kita rencana jalan-jalan yang tak kunjung terealisasi? Blok pun terlewati. Lantas bagaimana hasilnya? Jurus jitu “belajar bareng” pun menjadi saksi.

BLOK 1.6 Siklus Kehidupan
Partemuan dan kebersamaan kita seakan-akan seperti sebuah siklus kehidupan. Awalnya, kita masih sesosok embrio yang berusaha untuk tumbuh dikampus tercinta ini dan butuh nutrisi awal yang eksklusif. Secara perlahan-lahan kita mulai tersenyum akan suasana kampus ini, merangkak, berjalan, bahkan berlari untuk menguasai ilmu kodokteran dan mengejar nilai blok yang bagus. Ketika remaja, kita berusaha menemukan cara belajar efektif dan organisasi apa yang akan menemani masa-masa kuliah kita. Akhirnya, ketika tua, kita berusaha menjadi lansia yang sehat dalam nilai, sehat dalam ilmu, sehat dalam profesionalitas. Walaupun tanda-tanda perpisahan (bukan tanda-tanda kematian/ tanatologi) telah muncul, tetapi lansia masih butuh perhatian, masih ingin kebersamaan, masih menyimpan memori satu tahun ini (tidak menderita MCI atau Demensia).Bahkan, si lansia ini masih ingin karaoke dan berfoto-foto di taplau. Lantas bagaimana hasilnya, bagaimana akhirnya? Tetap semangat teman, karena ternyata, umur si lansia masih panjang, kira-kira 4/5 tahun ke depan.

Jumat, 04 Mei 2012

Satu Tubuh, Aku bertahmid padaNya

oleh Nur Fazlina pada 4 Mei 2012 pukul 13:10 ·
 
 
Awalnya, paru-parumu masih bertugas seperti biasa,
menyaring setiap udara yang masuk lewat hidung, tenggorokan, bronkus, dan bronkiolus,
menyalurkan oksigen ke paru-paru,
kemudian menerima karbon dioksida untuk dibuang kembali

Awalnya, jantungmu masih berdetak dan memompa darah,
dan dengan bantuan pembuluh darah, darah dari jantungmu pun dialirkan ke seluruh tubuh,
hingga oksigen yang dibawa darahpun sampai ke jaringan untuk membantu metabolisme,
agar nutrisi itu ada dan tubuhmu tak lemah,

Awalnya, tulang dan ototmu berkontraksi secara ritmis karena oksigen tadi,
dan saraf menstimulus ototmu berkontraksi,
tubuhmu pun bisa bergerak secara aktif, makan, munim, belajar, bekerja, dan beribadah padaNya

Awalnya, matamu masih menangkap cahaya sinar siang ini dan gelap gulitanya malam,
hidungmu masih membau lezatnya aroma masakan sang bunda,
kulitmu masih merasakan dingin kala malam tiba dan keringatpun mengucur di tengah terik,
bibirmu pun masih membantu sang hidung membedakan rasa masakan,
dan berucap setiap huruf menjadi rangkaian kata, setiap hijaiyah menjadi FirmanNya,
telingamu pun masih mendengar panggilanNya

Awalnya, mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus mu bekerja sama untuk mencerna makanan, mengabsorbsi nutrisi dan obat, serta meekskresi zat buangan

Awalnya, hormon-hormon dari kelenjar endokrinmu masih bekerja untuk mengatur fisiologis tubuhmu,
mengatur kadar cairan tubuhmu, mengatur kadar glukosa tubuhmu,
bahkan mengatur pertumbuhan sel-sel tubuhmu,

Awalnya, ginjal, ureter, kantung kemih, dan uretra dari tubuhmu bekerja sama untuk, mengatur keseimbangan cairan dan asam-basa dalam tubuhmu,
hingga urin itu keluar sebagai zat buangan,

Awalnya, tubuhmu begitu menarik karena ciri-ciri seksual sekundermu,
apakah rohmu ditempatkan pada tubuh seorang pria,
apakah rohmu ditempatkan pada tubuh seorang wanita,

Awalnya....
Sungguh, ilmu ku masih belum mampu mengungkap segala
ingatanku masih belum mampu menyebut semua
Satu tubuh untuk ibadah padaNya
Satu tubuh, Aku bertahmid padaNya

Tapi, bayangkan...
Bila paru-parumu tak mampu lagi menampung udara dan ventilasi udara pun tak berjalan,
Bila jantungmu tak berdetak secara ritmis, darah tak mengalir deras, oksigen tak membantu metabolisme, dan tubuhmu lemah
Bila tulangmu mulai keropos, ototmu mulai aus
Bila matamu mulai kabur, hidungmu mulai tak berfungsi, kulitmu mulai keriput, bibirmu terbata, dan telingamu mulai tuli
Bila mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anusmu tak berfungsi sempurna
Bila hormon-hormonmu tak ada atau tak ada reseptornya
Bila ginjal, ureter, kantung kemih, dan uretramu tak berfungsi sempurna
Bila tubuhmu tak menarik dan rohmu ditempatkan pada tubuh meragukan

Bila......
Bila satu tubuh senantiasa bersyukur sebisanya,
beribadah sekuatnya
Satu tubuh untuk ibadah padaNya
Satu tubuh, Aku bertahmid padaNya

Hingga...
Satu tubuh menemui ajalnya,
Roh pun mulai meninggalkannya,
Satu tubuh, Aku bertahmid padaNya
Untuk terakhir kalinya

Sabtu, 14 April 2012

Mencintai, Dosakah?

oleh Nur Fazlina pada 14 April 2012 pukul 13:14

Pernahkah kau merasakan bahwa ada nafas lain di hatimu
Ketika hatimu gundah mengingatnya
Ketika hatimu berontak untuk melupakannya
Ketika saraf otakmu terus menyimpan memory tentangnya
Hanya saja kau takut, Tuhan marah padamu dan cemburu padanya
Hingga kau ingin melupakannya dengan sekuat tenaga
Membenci ia sebisa akal logika
Karena bisa saja rasa ini hanya nafsu syetan belaka
Antara mencintai dan dosa

Pernahkah kau merasa bahwa kau ingin ia menjadi belahan jiwamu
Memimpikan ia bukan menjadi teman semata tetapi lebih berharga dari itu
Mendambakan ia menjadi imam untuk sebuah keluarga kecil bahagia
Senantiasa berdoa pada Yang Maha Kuasa, ia adalah jodohmu
Hanya saja, hatimu mulai takut
Apakah ia adalah yang terbaik untukmu,
Berdosa untuk membuat takdir yang belum tentu terbaik menurut Tuhan
Takut ia mempunyai dambaan lain yang lebih berharga
Hingga kau lagi-lagi memikirkan ini adalah dosa

Pernahkah kau berusaha untuk bertemu dengannya
Berusaha untuk berkomunikasi dengannya
Berusaha untuk menjalin pertemanan dengannya
Berusaha untuk menjadi teman dekatnya
Bahkan setidaknya berdoa dalam setiap asa ia akan menjadi teman hidupmu kelak
Hanya saja, lagi-lagi kau takut , tak punya nyali untuk memulai
Hanya saja, lagi-lagi kau takut , bukan soal nyali, tetapi lebih takut terjerumus dosa

Pernahkah kau merasa mencintainya adalah anugrah Tuhan
Tetapi dalam batasan untuk menyemangati dirimu yang mulai lemah
Dalam batasan hanya sebuah rasa yang tumbuh seiring perjalanan hidupmu
Dalam batasan bahwa cita-cita ini lebih ingin diperhatikan
Dalam batasan usaha menjadi terbaik dimata Rabbmu
Dalam batasan untuk senantiasa "menjaga" dan mengingatNya
Hingga Rabbmu memutuskan siapakah yang terbaik untukmu

*untuk pecinta Rabbnya yang Maha Sempurna dan ciptaannya yang begitu memesona

Sabtu, 17 Maret 2012

Ku mencari bidadari dambaan SyurgaMu

 

oleh Nur Fazlina pada 17 Maret 2012 pukul 0:02 ·
Pernah suatu kali ku terkagum melihatnya
Mata ini teduh melihat matanya yang indah lagi jeli dan lebar
Terpaku pada rambutnya yang berkilau bak sayap burung Nasar
Kebeningan kulitnya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan
Kelembutan kulitnya seperti kelembutan sutera,halus dan seputih susu
Keelokan tubuh dan raganya mendesirkan hati pemandangnya
Suaranya merdu dan mangalun indah
Senyumnya indah, merona bak delima merekah
Aku pun tertegun, gundah,
berucap Subhanallaah, Maha Sempurna Allah, Sang Penciptanya

Pernah suatu kali aku pun terkagum melihatnya
Mata ini binar melihat mata yang berbinar penuh semangat jihad,
Terpaku pada potongan kain yang indah melingkupi kepalanya hingga dada,
sungguh anggun warnanya
Aku tak melihat kebeningan dan kelembutan kulitnya
Yang ku tangkap hanya kebeningan hatinya untuk senantiasa beristighfar dari khilaf
Yang ku lihat hanya kelembutan hatinya untuk membantu saudaranya
Keelokan tubuhnya memang mulai sirna oleh balutan pakaian taqwa,
tetapi tak apa,
karena raganya hanya untuk shalat, puasa, dan ibadah kepada Rabbnya,
karena ia takut raganya kelak dibakar bara neraka
Suaranya tegas, halus, dan serak sembari berdoa padaNya
Senyumnya penuh semangat, namun terkadang gundah karena takut pada azabNya
Aku pun malu, sedih, berucap Astaghfirullaah,
Ya Allah, ampuni aku,
Ia kah bidadari dambaan syurgaMu?


Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah bahwa Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Rasulullah Menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama dari pada bidadari seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tidak terlihat”. Ummu Salamah bertanya, Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?” Rasulullah Menjawab, “Karena shalat mereka, puasa mereka, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas”.

Selasa, 10 Januari 2012

Who Am I : Sebuah Pertanyaan yang Harus Ku Jawab


Oleh : Nurfazlina


Who am i, sebuah pertanyaan yang membuatku tersentak dan  tersadar untuk kembali melihat siapa diri ini. Awalnya aku pikir pertanyaan ini mudah untuk dijawab. Tapi saat tangan ini mulai menari diatas keyboard, bibir terhenti dan otak berputar dengan kekuatan lebih untuk merangkai kata demi kata.

Aku Nurfazlina, biasa dipanggil alin, siswa SD 10 Sei Cubadak. Jawaban ini mungkin yang akan terlontar ketika ku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, untuk menyatakan hal yang sama dengan parameter berbeda saat ini mungkin ada sedikit keanehan. Pertanyaan ini bukan sekedar pertanyaan yang bersifat informatif, namun lebih bersifat deskriptif.

Aku terlahir dari keluarga biasa bahkan mungkin sangat biasa. Aku dibesarkan oleh kedua orang tua yang begitu ku kasihi di sebuah desa yang jauh disana, Ujung Guguk, Provinsi Sumatra Barat. Kehidupan desa yang masih permai dan kuat dengan adat istiadat ini mengajarkanku banyak hal tentang hidup dan kehidupan.
Aku jadi ingat masa-masa  kecil di Taman Kanak-kanak yang berdiri didekat bukit dan ditengah sawah nan hijau permai. Setiap pagi ku harus berjalan menuju sekolah tersebut bersama nenek. Terkadang berlari-lari kecil karena bahagianya untuk bertemu teman-teman, ayunan yang agak mulai patah, dan seluncuran yang berebutan. Alin kecil yang pendiam, pemalu dan rajin kulihat pada diri ku kala itu. Namun, pernah suatu kali ku terjatuh dibawah seluncuran karena kecerobohanku. Pernah suatu kali ku terjatuh dijalan menuju sekolah bersama ibu karena begitu semangatku untuk mengambil rapor. Tapi, disinilah kau mulai mengenal pertemanan, guru, dan ilmu. Satu hal yang paling berharga yaitu disinilah aku mengenal perlombaan, kegagalan, dan keberanian. Kala itu aku harus tampil membacakan puisi dihadapan bapak Camat, menari dan berpakaian adat bersama teman-teman dan kalah dalam lomba mewarnai karena begitu lambat dalam mengkombinasikan warna. Sosok si kecil alin yang masih diwarnai dengan sedikit tinta.

Masa-masa di Sekolah Dasar tidak bisa dilupakan begitu saja karena disini aku mengenal kata persaingan, juara, dan sopan-santun. Masa yang kulalui selama 6 tahun di SD 10 Sei Cubadak ini memberi kesan berharga bagiku. Kata juara mulai kukenal sejak awal SD. Mungkin juara 5 sudah cukup memberiku pemahaman tentang juara. Namun, setelah mendapat juara 1 dikelas 2 aku mulai mengenal kata persaingan. Masa dimarahi karena berbuat yang tidak sopan santun pada guru membuatku sadar bahwa sopan santun itu suatu yang dipelajari dan diterapkan.

Ketika memasuki gerbang itu, ku ragu apakah sekolah ini cocok untukku. Masa penyesuaian diri yang awalnya masih kecil dan kemudian harus mengalami pubertas adalah masa-masa di Sekolah Menengah Pertama ini. Aku memang sering bertanya pada diri ini mengapa diawal masuk sekolah prestasiku biasa-biasa saja tapi ketika telah masuk kelas 2 SMP aku mulai bisa berprestasi lebih. Dalam lomba tingkat provinsi yang ku ikuti, aku sadar bahwa kalimat “Diatas langit masih ada langit” itu benar adanya. Sebuah rasa sadar dan motivasi tumbuh disini.

Aku terkadang berfikir masa SMA itu tak indah seperti teman-teman biasa katakan. SMA menurutku adalah masa yang berat. Sebuah keputusan masa depan harus sudah sedikit tergambar disini. Aku tetap dengan rajin, usaha keras, dan semangat saing menuntut ilmu di SMA 1 Ampek Angkek. Satu hal yang tak terlupakan yaitu rasa syukurku karena masih bisa menuntut ilmu disana dengan beasiswa. Tak terbayang jika ibu harus berjuang keras untuk membiayai sekolahku di Sekolah unggulan tapi mahal.

Aku bingung ketika masuk pada gambaran berikutnya. Aku adalah seorang mahasiswa jurusan pendidikan dokter. Hari-hari pertama masuk FK memang terasa asing tapi tak dipungkiri kampus ini adalah rumahku, rumah pembangun impianku selama enam tahun kedepan. Disinilah aku harus mengurai kembali dan merangkai kembali si Alin kecil agar menjadi sosok yang berwarna sesuai dirinya.

“Aku hanyalah manusia biasa” pernyataan yang dipetik dari sebuah lagu terkenal ini muncul dibenakku. Pernyataan ini mengingatkanku pada semua sifat-sifat buruk yang ku miliki sejak terlahir dari rahim ibu hingga nafas ini masih berhembus saat ini.

Aku adalah seorang yang pemalu dan pendiam. Sejak kecil ketika aku harus disuruh tampil didepan orang banyak, rasa takut itu muncul dan meniadakan keberaniaaku untuk maju. Pipi tiba-tiba merah dan tubuh sedikit menggigil. JIka bergaul dengan orang-orang yang baru atau jarang bertemu, kecenderungan untuk diam itu muncul. Aku takut setiap perkataan yang muncul itu tidak penting dan menyakiti hati orang tersebut.
Aku adalah orang yang tidak sabar. Rasa muak itu muncul ketika semua yang kuharapkan tak sesuai dengan kenyataan.

Mungkin pertanyaan ini tidak terjawab dengan tepat dan deskriptif. Tapi inilah aku adanya dengan segala kekuranganku dan segala kelebihan yang diberikan Allah padaku. Aku adalah seorang pemimpin untuk diriku sendiri dan kelak ingin menjadi seorang pemimpin bukan seorang pemimpi. Aku adalah mahasiswi jurusan pendidikan dokter yang nantinya akan menjadi seorang sosok berjas putih yang akan menolong pasien yang membutuhkan pengobatan dan akan memajukan pelayanan kesehatan bangsa ini.

“Aku adalah seorang muslimah yang senantiasa mewujudkan impianku menjadi seorang muslimah sejati dan pembelajar” dalam pernyataan terakhir yang mampu kutulis dan merupakan gambaran diriku yang benar adanya ditambah gambaran impianku kelak yang harus kuwujudkan. Saat ini, apa yang kulakukan, yang ku perbuat, yang memotivasiku belajar dan berjuang untuk hidup dan yang akan menjawab pertanyaan siapa aku adalah status dan kodratku sebagai seorang muslimah yang senantiasa berusaha menjadi seorang muslimah sejati yang pembelajar.

Sabtu, 17 Desember 2011

Ibu, Jasamu tak kan terganti

oleh Nur Fazlina pada 17 Desember 2011 pukul 17:45
Ku menangis keluar dari tubuhnya
ia tersenyum menahan sakit
Ku berteriak ia tak dekat aku
Ia segera beranjak dari kantuknya
Ku memekik ketika haus dan lapar
Ia rela menyerahkan nutrisi tubuhnya
Ku kencing atau buang air di celana
Ia tak jijik dan tak memarahiku
Ku menjalani hari-hari disela pertumbuhanku
Ia rela menjagaku, membimbing bagai peri penyelamat, malaikatku
Ku terluka, sakit, demam, influenza
Ia cemas, takut, segera memburu obat di manapun itu, ia tak pikir lagi dirinya
Ku nakal, pukul dirinya, beronta padanya
Ia sabar, tabah, sedikit memarahiku namun diselingi nasehat dan kata mutiara
Ku ingin ini, ingin itu, apapun itu
ia berusaha sekuat tenaga menenuhinya, mengorban jiwa, raga, tenaga bahkan menjadi wanita perkasa, ibu perkasa

When I’m teen...
Ia tetap kuat, sekuat dulu, bahkan lebih kuat
Ia tetap baik, lembut seperti dulu
Ia tetap cinta, sayang aku
Ia tetap berusaha memenuhi asaku
Ia tetap mengajariku bagaimana semua
Ia tetap tabah dan sabar melihat sikapku
Ia tetap menasehati bukan memaki
...........

Suatu hari....
Ku mendekati
tubuh yang mulai renta,
kulit yang mulai keriput,
ia duduk termenung
Di dekat jendela itu, Air membasahi bumi
Aku mendekat, lebih mendekat
Mukanya sembab, matanya merah

Ibu, kenapakah ibu?, salahkah aku?
Ia hanya bilang, air hujan membasahi pipinya
Ku segera memeluk tubuhnya erat-erat
Aku hanya ingin ibu katakan saja, aku tahu
Ku tak ingin ibu lemah karena beban itu
Berikan padaku, aku tak ingin ibu mengembannya sendiri lagi
Ku berbisik, Maafkan aku ibu, Terimakasih untuk semua, Aku sayang ibu
Ya Allah, cintailah ibu melebihi cintanya padaku

Ibu, Jasamu Takkan Terbalas

oleh Nur Fazlina pada 17 Desember 2011 pukul 17:55

Selamat pagi ibu...
Apa kabar ibu...
Aku, anakmu, disini, baik-baik saja, aku hanya cemas magh ibu kambuh lagi atau air mata ibu jatuh lagi dipagi ini karena kangen aku, karena ulahku, atau karena peliknya hidup. Aku hanya selalu berdo’a pada-Nya, ibu disana baik-baik saja dan senantiasa dihiasi senyuman rindu yang membahana. Akupun disini sama, senyuman ibu dan harapan ibu selalu terbayang dalam mejalani hari-hari menuntut ilmu.
Ibu, kali ini aku menulis surat yang pertama untuk ibu dalam senyuman dan hiasan bahagia. Aku selalu berharap ibu akan membacanya dalam nuansa haru. Bahkan,Aku seakan melihat sosokmu berada didepanku, tersenyum, memelukku dikala malam yang dingin, me”ninabobo”kanku dikala malam semakin gelap, menyuapiku makan dikala sakit dan memarahiku karena aku ceroboh atau malas.
Ibu, kala jauh, kala sosokmu begitu jauh, Aku teringat jasa dan kebaikan hatimu. Walau aku telah lupa dan berpura-pura lupa, tetapi terimakasih terdalam atas semua yang telah engkau beri. Aku lupa bahwa dulu aku tak bisa apa-apa tanpamu, tak bisa makan sendiri, tak bisa mandi sendiri, dan tak bisa jalan sendiri. Namun, aku tetap tumbuh menjadi dewasa seperti sekarang ini. Aku lupa bahwa dulu ketika aku lapar, kau menyusuiku, menyuapiku, memberi bubur tim kesukaanku, mengajariku jalan, dan menggondongku hingga pinggangmu sakit. Bahkan aku lupa bahwa ketika ku masih berada didalam rahimmu, aku suka menendang perutmu hingga sakit, tumbuh dan menambah masa tubuhmu. Terima kasih ibu.
 
Ibu, kala jauh, kala sosokmu semakin jauh, Aku tersadar bahwa aku telah tumbuh dewasa bahkan ukuran tubuhku telah melebihi ukuran tubuhmu. Aku memang telah bisa makan sendiri, berjalan sendiri, mandi sendiri, melakukan aktivitas sebagai ‘manusia’ sendiri, dan telah menduduki bangku pendidikan melebihi yang pernah kau terima dulu. Itu semua berkatmu ibu, aku melihat semua jasamu yang selalu ada, tumbuh subur dihatiku. Namun, aku tetap seperti dulu, seorang anak yang lemah tanpa ibu dan seorang anak yang rindu belaian kasih ibu. Hanya saja, kali ini aku berusaha membalas jasamu walau takkan terbalas. Aku berusaha menjadi anak yang membanggakanmu walau kau lah orang yang paling ku banggakan. Aku berusaha menjadi anak yang begitu menghargaimu walau kau lah orang yang paling ku hargai.
Ibu, entah kenapa tiba-tiba saja air menetes dipipiku. Aku takut jika aku pulang tak ku lihat lagi raut wajah pilumu. Aku takut ketika pulang tak ku temui lagi tubuh dan pelukan hangatmu. Aku takut ketika pulang tak ada lagi marah dan nasehat terdengar dari bibirmu. Aku takut ketika aku pulang tak ada lagi tangan yang akan mengusap kepalaku dan me”ninabobo”kanku di kala malam mencekam dan tak ada lagi tangan yang ku cium untuk berpamitan. Aku takut ketika aku pulang yang ku temui hanya sesosok tubuh terbujur kaku dalam balutan kain putih. Sungguh, Aku takut, aku sayang ibu dan aku rindu ibu. 
Ibu, kala jauh, aku mendekat padamu melalui hati pada penciptaku agar Dia menjagamu dan mencintaimu melebihi cintamu padaku.

Rabu, 07 Desember 2011

Dia, Muslimah yang Berprinsip

oleh Nur Fazlina pada 7 Desember 2011 pukul 4:15 ·

Malam ini adalah malam selasa dan aku pun teringat pada amanah, tugas yang sudah menjadi rutinitas, yakni mempelajari LO yang telah ditentukan pada hari senin. Aku harus segera fokus dan belajar malam ini. Dengan tidak membuang-buang waktu, Aku pun tersentak, bangkit, dan mengangkat piring dan gelas kotor yang baru saja ku gunakan untuk menaruh makanan pengganjal perut malam ini menuju wastefel di dapur yang letaknya tak jauh dari kamar kosku. Ketika ku mulai membilas piring tersebut satu persatu, ku terkejut mendengar suara seakan memanggil namaku dan melihat sesosok tubuh berada tepat disebelahku. Ternyata, kak Anisa telah beberapa detik yang lalu menuju kamarku untuk sekedar menemuiku tetapi tak menemukanku dikamar. Dalam sekejap, percakapan kami pun dimulai sembari menungguku selesai membilas piring dan gelas yang berlumuri sabun. Ku mulai memahami maksudnya menemuiku. Dia bermaksud melihat-lihat atau meminjam buku atau majalah yang ku koleksi dikamar.

Beberapa menit kemudian, kami pun telah berada dikamar dengan ukuran standar untuk kos seorang mahasiswi FK Unand. Ku pun menyuguhkannya beberapa buku ringan yang ku koleksi diantaranya : majalah BROCA FK Unand edisi bulan ini, Dawa’ Buletin FSKI FK Unand, Novel Negeri Lima Menara dan Ranah 3 Warna (hehe, dengan nada bangga, ku ceritakan bahwa novel ini lengkap dengan dengan tanda tangan si penulis, Anwar Fuadi), dan Buku “30 Perempuan Pilihan”. Kak Anisa hanya sesekali berkomentar sembari membuka cover yang mulai agak kusam itu. Ia pun tertarik pada Majalah BROCA yang hanya seharga 3500. Dalam anganku, ku mulai menerawang waktu 2 bulan yang lalu ketika mulai pindah ke kos ini. Kala itu, kak Anisa menyapa Aku dan ibu yang sedang membersihkan kamar. Dengan balutan gamis yang terlihat anggun ia memperkenalkan diri sebagai kakak tertua dikosan ini. Saat ini, Ia adalah seorang dosen di salah satu STIKES dan POLTEKES di Padang. Aku pun tergagum dengan muslimah lulusan S2 FK Unand ini.
.
“Kak, Ana bingung deh, klo berdebat dengan Paman yang tergolong menganut aliran yang lumayan aneh dalam islam, Masa’ ya, pas Ana nanya kenapa Beliau gag shalat. Beliau malah ngajarin ‘klo kita shalat cuma karena tradisi atau ngikut rutinitas kebanyakan orang, orang ruku’ kita ruku’, orang sujud kita ruku’ , trus kita gag ngerti maknanya, itu sama aja gag shalat. Intinya kita kan shalat buat komunikasi dengan Allah, Ya, cukup dengan mengingat Allah setiap saat. Itu lebih baik’. Gimana pendapat kakak? Ana bingung mau mendebat kayak gimana”, ku memulai obrolan dengan kak Anisa di kesunyian malam ini.

Hmm,,”, dengan sedikit wibawa yang agak nyantai kak Anisa mencoba melukiskan pendapatnya yang cukup bisa dicerna oleh setiap lekuk saraf otak ini. “ Ana, kita kan tau, sejak kecil, sejak SD lah, klo dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa diwajibkan atas setiap Umat Islam untuk Shalat 5 waktu sehari semalam sebagaimana hasil dari Isra’ Mi’raj Rasululaah SAW. Shalat adalah komunikasi kita dengan Allah. Memang, yang kita lihat saat ini kebanyakan orang cenderung memaknai shalat sebagai rutinitas, melaksanakan gerakan shalat dan membaca lafal shalat yang dihafal dan diajarkan guru ngaji tanpa memaknai arti setiap ayat dalam shalat sebagai bahasa yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Rabb sehingga shalat hanya terlihat sebagai tradisi belaka. Tapi, apakah karena hal tersebut, lantas kita kalah, kita menyerah, dan memilih jalan mudah untuk berkomunikasi dengan Allah hanya dengan mengingat-Nya setiap detik saja padahal dalam Al-Qur’an, Dia meminta kita berkomunikasi dengan-Nya dengan salah satu cara wajib yaitu shalat. Seharusnya, kita sebagai muslim tidaklah meniru kebanyakan orang dalam berbuat yang belum sempurna. Intinya, dengan menyempurnakan shalat kita, kita akan menjadikan shalat bukan sebagai rutinitas belaka, namun lebih untuk berkomunikasi, berserah, bermunajat, dan berhubungan dengan Rabb. Ana kan juga tau klo shalat bermanfaat untuk kesehatan dilihat dari gerakan shalat yang dilakukan secara sempurna mulai dari wudhu’, ruku’, sujud, dll”. Aku pun tertegun dan kata-kata ini seakan menusuk hati dan logikaku yang mulai rapuh oleh logika nafsu.

Kak, nanya lagi ya, bole kan” kata ku dengan nada memohon dan lugu. Dengan tampang menyebalkan, kak Anisa pun menudingku. “Haha, Kakak sih klo mempelajari soal syariat agama lebih suka dimaknai secara akal dan logika yang sehat. Semua memang telah tertera dalam Alqur’an dan Hadits, tetapi alangkah paham dan indahnya jika kita mencari hal-hal lain yang lebih masuk akal dan lebih ilmiah yang membuat kita lebih yakin pada ayat yang tertera dalam Al-Qur’an dan Hadits dan memaknainya secara lebih ikhlas”.

Benar juga sih kak, tapi kan butuh waktu ekstra buat nyari hal-hal tersebut. Oiya, Btw, Ana kan dulu pernah punya beberapa teman. Anehnya, tapi Alhamdulillah juga sih kak ngeliat dia dalam beberapa bulan saja bisa berubah menjadi akhwat banget gitu loh, jilbab dalam, baju longgar, dll, gimana tuh kak? Ana malah jadi takut ada kaitannya dengan aliran sesat”, ku pun memulai obrolan baru.

“Nah, Menurut kakak ya, terserah Ana setuju atau ngak ya. Kita sebagai muslim sebenarnya ngak berhak menuding seseorang sesat atau mungkin malah memaknai agama dengan sempurna. Cukup Allahlah yang berhak menilai apakah orang tersebut baik, pura-pura baik atau malah terbaik di mata-Nya. Mungkin saja orang yang biasa-biasa saja, hatinya lebih bersih dari kita. Mungkin saja ketika kita benci melihat orang pacaran, jalan dengan cowok, bergunjing, suatu saat kita akan terpengaruh dan berbuat hal yang sama. Kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berusaha menjadi terbaik dimata-Nya. Untuk simplenya, apa yang memang telah umum dalam agama dan menjadi sesuatu yang wajib memang harus kita pertahankan disertai pendalaman menuju kesempurnaan. Jika Ana melihat orang tidak shalat, puasa, berzakat, padahal ia sangat paham agama, Ana boleh dengan gamblang menudingnya ‘sesat’ atau kafir. Terkadang, ada orang yang lebih dahulu menemukan cahaya-Nya untuk menjadi muslimah dalam balutan pakaian taqwa. Namun, terkadang ada orang yang takut, tak berani dan menunda untuk itu karena merasa belum siap dan cahaya itu belum menerobos hatinya. Intinya, kita sebaiknya berusaha menjadi terbaik dimata-Nya, berani berubah dalam usaha memperbaiki, bukan menunda untuk berubah”. Dalam anggukan setujuku, kak Anisa mengakiri penjelasan yang terlihat begitu panjang. Ia hanya nyengir melihat wajah luguku. Sesekali ia bertanya pendapatku. Terkadang ia setuju tetapi terkadang juga membantah dan meluruskan.

Malam semakin larut disertai sunyi yang terus menghiasi. Untung, malam itu setiap kamar di kos dihuni dan pagar digembok dengan kuat sehingga maling-maling mengurungkan niatnya berkunjung untuk ketiga kalinya. Ketakutanku malam ini pun seakan hilang dengan kehadiran kak Anisa dikamarku. Aku bersyukur bisa kenal dan sekosan dengan kak Anisa. Ia tak sama dengan orang yang biasa ku kenal. Biasanya, dengan dengan teman-teman, aku akan mengobrol masalah cowok, pacaran, atau jalan-jalan, semua yang berbau duniawi. Kini sesosok tubuh didepanku seakan menyejukkan hatiku yang mulai gersang. Ia tak ragu-ragu menyodorkan prinsip-prinsipnya tentang hidup dan islam. Aku pun malu akan kekanak-kanakan ku dalam memandang diriku sebagai muslim dalam menjalankan perintah-Nya.

--- | | --

Dengan penuh sabar, ku gosok-gosok baju-baju yang terlihat penuh bakteri. Untung, detergen yang ku pakai lumayan harum untuk merilekskan otot-ototku yang mulai aus oleh kontraksi menggerakkan batang gundar di permukaan baju. Seakan menikmati, satu persatu baju telah selesai ku bilas. Ya, hanya butuh sedikit tenaga lagi untuk menjemur. Tak terbayang rasanya bila esok, aku tak punya baju bersih lagi. Lagi-lagi, ada yang mengganggu konsentrasi ku dalam mencuci dan lagi-lagi, ia adalah kak Anisai. Kali ini, ia menemuiku untuk mengajak ke Gramedia. Dengan cepat, ku menjawab ‘ya’ karena ku memang berfikir untuk hunting buku lagi. Buku “Surat Kecil Untuk Tuhan” yang ku beli seminggu lalu telah ku santap dengan lahapnya. Tentu, kali ini, keinginan untuk hunting mulai muncul lagi.

Beberapa menit kemudian, ku telah siap menunggu kak Anisa yang sedari tadi berdandan di kamarnya. Untungnya, tepat di garasi mobil ibu/pemilik kos, terdapat bangku panjang yang bisa menopang tubuhku. Dengan dandanan seperti kuliah tadi pagi, ku berjalan gontai bersama kak Anisa menuju jalan raya di depan FK Unand. Target kami kali ini adalah menyetop angkot jati yang bisa membawa kami menuju tempat tujuan. Dandan kak Anisa yang terhitung sedikit lama terbayar impas dengan senyuman yang menghiasi bibir kami dan rasa percaya diri ditengan keramaian kawasan mahasiswa ini. Aku kembali menerawang dan teringat pada percakapan di malam itu. Sembari tersenyum didalam hati yang mampu ku simpulkan dari kata-katanya, “tak segampang itu kita sebagai wanita bermimpi memiliki pasangan yang shaleh, begitu juga tak mudah semudah itu seorang laki-laki mendamba seorang wanita shalehah. Semua sebanding, ketika kita seorang wanita, ingin mendapat Rasulullaah, kita harus menjadi seperti Siti Khadijah, ketika kita seorang pria ingin mendapatkan Siti Fatimah, kita harus menjadi seperti Ali bin Abi Thalib”.

Dalam hitungan menit, Angkot Jati pun berhasil mengantarkan kami ke tempat yang tergolong elit, tidak hanya karena bangunan yang dibuat mewah, tetapi juga karena pengunjung yang datang adalah kaum intelektual daerah ini. Kak Anisa dengan sigap menyapa pegawai disana untuk menanyakan Laser infokus yang ia butuhkan. Karena ia ragu dengan harganya dan itupun bukan tipe yang ia inginkan, iapun mengurungkan niat untuk membeli. Aku pun mengajak kak Anisa ke lantai dua untuk melihat buku-buku yang berlabel paling murah 20ribuan. Buku-buku medis, bernuansa biologi di lemari berhasil membiusnya untuk sekedar bertanya harga pada petugas. Hanya saja, ia bisa membandingkan dan menyimpulkan buku-buku di Ramadiva memang lebih murah dan terjangkau oleh kantong mahasiswa. Meskipun buku-buku religi ringan atau novel ringan yang dipajang juga berhasil membiusku, hati ini pun mulai berbisik dan telpon mama pun mengingatkanku bahwa buku-buku kuliah yang mulai menggunung dikamar kos belum ku lahap dengan sempurna. Ku urungkan niatku untuk membeli begitu juga kak Anisa Dalam rintikan hujan yang semakin deras, kami pun mulai melangkahkan kaki untuk keluar dari gedung yang sedikit menghipnotis uang-uang dompetku untuk keluar. Tepat didepan gedung, angkot jati kembali berlalu-lalang dan kami pun memutuskan untuk menaiki salah satu dari mereka.

Dalam perjalanan pulang menuju kosan tercinta. Aku dan kak Anisa berhasil menguasi suasana angkot dengan obrolan kami. Kali ini, keningku berkerut, terharu dan terseyum simpul. Lagi-lagi, Ku sedikit mulai melihat prinsip dalam hidupnya. Ia hanya wanita muslimah biasa yang dengan sungguh-sungguh menempuh pendidikan S2 nya hingga nilai coumloude itu mudah ia dapatkan dan pribadi yang dengan tulus ikhlas menekuni profesinya sebagai dosen, bukan pribadi yang ambisius dan gila gelar akademik seperti : gelar S3 ataupun Professor. Bibirku pun kelu melukiskan semua gambaran prinsip yang ia lukiskan. Namun, tak diragukan ia adalah sosok yang berprinsip, berusaha untuk terus kuat dan menikmati hari-hari. Sungguh, aku ingin belajar dari keteguhan prinsipnya. Sungguh, Aku pun berharap prinsip hidupku bisa tumbuh dalam hatiku, berbunga, dan bisa berbuah pula dikemudian hari. Tak ingin angin menerbangkannya di kala ia mulai berbunga.

Selasa, 01 November 2011

Mereka Adalah Keluarga Baruku ( Turun I Kabin V )

oleh Nur Fazlina pada 1 November 2011 pukul 7:22 ·

Awalnya emang ragu untuk ikut kabin atau tidak. Bukan lebih karena takut ketinggalan kuliah atau bahkan takut gagal dalam membina keluarga yang diamanahkan, melainkan lebih kepada kesibukan akhir-akhir ini seperti LKMM, MAI, OR dan BBMK MRC, dll ditambah cuaca yang tidak bersahabat sehingga lebih menguras tenagaku melawan sekelumit virus yang menyerang tubuh hingga kemaren aku tumbang dan kalah oleh virus-virus itu. Namun, syukurlah teman-teman tutorial menyemangati untuk tetap ikut : Kabin kan baru langkah awal. Kalau pun gagal, kita kan bisa belajar dari kegagalan tersebut untuk FOME tahun depan. Nah, kalau ikut kabin tahun depan, konsentrasi kita harus dibagi 2 dong, KABIN dan FOME. Soal sakit, Alin coba tingkatin imunitas dengan 2 cara : Alami seperti minum bandrek, skoteng, makan telur separuh matang, makan yang pedas-pedas, tidur yang cukup,dll dan Konsumsi obat seperti paraceramol, STM (?), vitamin, dll. Saran dari teman-teman ini dengan ditambah semangatku yang meningkat sepertinya cukup manjur dan mengalahkan sekelumit virus-virus yang senantiasa menyerang tubuh hingga 5 jam yang lalu aku pun menemukan keluarga baru yang begitu bersahabat, Bapak, Ibu dan Adik yang mengingatkanku pada bapak, ibu, dan adik nun jauh disana.

Ketika menginjakkan kaki dirumah yang baru pertama kali ku kunjungi, perasaan dihati ini pun mulai buncah, jantung berdetak sedikit kencang mungkin akibat meningkatnya kontraksi ventrikel akibat ransangan saraf simpatis dan sel-sel otak mulai bekerja mencari cara untuk mengaplikasikan materi yang telah disuapi selama ini, KOMUNIKASI EFEKTIF. Apa yang dibayangkan pun tak seratus persen sama. Ku berusaha mengingat dan mencoba trik-trik yang disampaikan saat tentiren : meyalami bapak dan ibu dalam keluarga tersebut, memperkenalkan diri dengan tanpa embel-embel membutuhkan atau dibutuhkan tetapi saling berbagi perasaan, keadaan, dan ilmu, tidak mengeluarkan kertas kumpulan data (takut dikira sensus), menanyakan nama ibu, bapak, dan adik serta anggota keluarga lain, sedikit bercerita dan sedikit canda tawa, bermain tebak-tebakan dengan si adik yang masih SD, menanyakan kesibukan ibu dan bapak sehari-hari, berbagi cerita tentang penyakit yang ibu, bapak, dan adik pernah derita, menanyakan kapan mereka bisa dikunjungi lagi, dll. Aku pun merasa lega karena bisa mencoba semua trik ini dan sang keluarga pun menyambut dengan bersahabat. Data-data yang dibutuhkan memang belum terlalu komplit, tetapi aku harus pamit karena senja mulai menampakkan diri. Anehnya, bapak dan ibunya malah memberi pisang untuk dibawa pulang. Dengan berat hati, aku pun menerima dan berterimakasih karena mungkin saja ibunya tahu kalau kami, anak kos, jarang makan pisang. Dalam perjalanan pulang yang temani tetesan hujan deras, aku dan temanku memang basah kuyup, tetapi setidaknya senyuman diawal ini meyakinkanku untuk tetap mencoba, berusaha, dan mereka adalah keluarga baruku

Kamis, 27 Oktober 2011

Teman, Ku Balas Surat Cinta darimu


oleh Nur Fazlina pada 27 Oktober 2011 pukul 10:57 ·

Teman, ketika menerima surat yang mengaromakan suara-suara cinta dan kasih darimu, bibirku kelu seakan tak bisa berkata. Namun, hati ini berontak untuk membalas setiap untaian kata yang sarat akan makna. Dalam senyuman yang tulus dan sedikit cekikikan tawa, ku merasa agak janggal dengan kalimat ‘aku membutuhkanmu’ . Aku merasa tak layak menerima tudingan itu karena merasa terlalu berlebihan. Aku merasa Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang lebih pantas menerimanya. Lirikan mataku pun berpindah pada baris berikutnya tetapi tetap pada bait yang sama. Ku melihat raut-raut keseriusan mulai muncul dan memori-memori yang kamu gambarkan pun mulai tampak. Allah memang Maha Tahu, teman. Setiap takdir yang digariskan adalah takdir terbaik yang Dia beri, hanya saja terkadang kita merasa kurang tepat menerimanya. Aku hanya seorang teman yang berusaha untuk menemani, memahami, dan mengerti. Namun, akupun sama denganmu, terkadang dikuasai keegoisan dan ketakberdayaan. Setidaknya, kebersaman ini bisa melemahkan virus-virus keegoisan dan ketakberdayaan.

Teman, setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam memaknai kata cinta dan mencintai. Kamu, aku, mereka, dan dia pun akan menyetujui hal tersebut. Aku jadi ingat beberapa kalimat dari Tenliit yang berjudul Rival.
"Batas antara cinta dan benci adalah dusta
Batas antara rival dan teman adalah persaingan
Batas antara jenius dan tolol adalah usaha
Batas antara berani dan nekat adalah pertimbangan"

Teman, aku sungguh terharu dengan kata-kata ‘sahabat sejati hanya karena Allah’ dalam suratmu. Goresan penaku seakan gagal ketika berusaha menggambarkan sosok‘sahabat sejati hanya karena Allah’. Namun, aku sama denganmu, sungguh ingin menjadi dan bersabahat dengan sosok sahabat sejati karena Allah, sahabat yang memberitahu kekurangan sahabatnya, sahabat yang mengajak ke dalam kebaikan, sahabat yang berteman karena Allah bukan karena kaya, keren, populer, modis, gaul, pintar dll, dan sahabat yang mau mengajak dan diajak ke Syurga-Nya.

Teman, jika memang suatu saat perpisahan itu harus ada dan tangisan itu harus pecah dan membasahi bumi, pesanmu akan selalu ku simpan dalam setiap lekukan saraf-saraf otakku hingga sel-sel itu tak mati dan lengkang oleh waktu, bahkan Alzheimer pun tak mampu membunuhnya. Aku pun berpesan, jadilah dirimu yang begitu bahagia karena keinginan yang besar akan cita-citamu, jadilah dirimu yang anggun ketika berpakaian putih itu, jadilah dirimu yang mulia dalam gelar yang ditulis didepan namamu itu, dan jadilah muslimah sejati dalam cinta pada Ilahi. Bila nanti waktunya telah tiba, ku akan mengabarkan bahwa aku telah menemukannya dan berikan undangan padamu. Nanti dan disini, aku pun akan sabar menunggu kabar dan undangan darimu.

Minggu, 23 Oktober 2011

Kenalkah anda dengan penyakit Alzheimer ?


oleh Nurfazlina, peserta Latdas 1 , BKMM MRC FK Unand
 
 
Bagi para pencinta sinetron Indonesia terutama sinetron keluarga yang ditayangkan di RCTI saat beristrahat malam dengan episode yang relatif lama bahkan dengan kisah yang cukup pelik, tentu ada yang masih ingat dengan film yang mengisahkan tentang kisah Nikita willy bersama sang bunda yang menderita sakit. Sebenarnya, film ini tidak berpusat pada kisah ia bersama ibunya. Namun, pada topik ini, kita akan cenderung sedikit mengingat bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Nikita willy, sang ayah, dan anggota keluarga lainnya saat menghadapi sang bunda yang berkelakuan aneh setiap harinya. Sang bunda divonis dokter menderita Alzheimer, penyakit yang terdengar baru tetapi sangat marak dibicarakan.
 
 
Bagi kalangan yang menonton film ini secara seksama, tentu akan bisa melihat bagaimana sang bunda setiap ia bangun tidur lupa atas kegiatan yang pernah ia lakukan beberapa waktu sebelumnya sehinggga ia akan merasa hari tersebut adalah hari yang sama, tanggal yang sama, dengan berfikir akan melakukan kegiatan hari sebelumnya yang ia pikir belum dilaksanakan. Dalam dunia medis, hal ini disebut dengan pikun, yaitu kemuduran intelektual berat dan progresif yang mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari sebagai akibat kemunduran otak akibat berkurangnya massa otak dan kematian sel-sel otak karena proses penuaan.
 
 
Dalam menonoton film yang diperankan oleh ibu yang kelihatan seperti berusia lebih dari setengah abad ini, sebagian atau beberapa orang akan berpendapat bahwa penyakit ini diderita oleh kalangan berusia lanjut. Kali ini, pendapat ini bisa dikatakan benar. Penyakit alzheimer menyerang orang berusia lanjut( diatas 65 tahun). Tingkat terjangkitnya penyakit yang selalu menyerang para lansia ini memiliki rasio 1:10. Pada kelompk usia 80 tahun rasionya lebih besar menjadi 1:4.
 
 
Ketika kembali mengingat apa yang menyebabkan sang bunda menderita penyakit ini, kita mungkin sedikit enggan menyimpulkan karena film ini terlihat terlalu pelik. Sesuai dengan gambaran umum dari penyakit ini pada paragraf sebelumnya, faktor penyebab penyakit alzheimer antara lain proses degerneratif otak akibat keracunan, gizi buruk, penggunaan alkohol, stres dan depresi, serta penggunaan obat anti depresi, obat tidur,obat herbal, dan obat bebas secara berlebihan. Alzheimer juga disebabkan oleh faktor keturunan genetis. Jika orang tua atau generasi sebelumnya pernah menderita penyakit ini, maka kemungkinan besar penyakit ini menurun.
 
 
Berbagai usaha tentu dilakukan Nikita willy bersama keluarga untuk menyembuhkan sang bunda, mulai dari setiap hari berpura-pura mengikuti alur pikiran sang bunda, tidak menimbulkan depresi lebih buruk pada sang bunda sehingga tidak memperparah penyakit, dll. Sebenarnya, apa yang dilakukan Nikita willy dan keluarga tersebut merupakan salah satu terapi untuk menyembuhkan sang bunda. Dunia medis menyebutnya terapi nonfarmakologis yaitu terapi yang memerlukan intervensi pasien sendiri, pengasuh dan lingkungan yang bertujuan untuk mempertahankan fungsi kognitif yang masih ada. Disisi lain, terapi ini juga dapat berupa terapi relaksasi dan latihan fisik untuk menyehatkan kerja otak atau senam otak. Yang tak kalah penting adalah terapi farmakologis yaitu berupa obat-obat yang diberikan dokter ketika penderita dan keluarga mengecheck secara berkala.
 
 
Akankah kita menjadi orang yang tak mengenal penyakit ini? Hal yang terburuk ialah bagaimana seandainya ada orang disekeliling kita yang menderita gejala atau tanda-tanda yang sama dengan sang bunda alami dalam film tersebut sementara kita tak pernah peduli dan tau. Setidaknya, dengan sedikit mengenal akan penyakit ini, kita bisa respect , memahami, dan menolong dengan cara-cara yang bisa dilakukan.
 
 
Daftar Pustaka

Pratiwi, D.A. ,dkk .2006. Biologi SMA jilid 2 untuk Kelas XI . Jakarta : Penerbit Erlangga

Entri Terbaru

Tokoh Indonesia dan Nilai Berakhlak