Kamis, 20 Oktober 2011

Daun Sirih bagi Penderita Epistaksis (ARTIKEL ILMIAH BBMK MRC)



ARTIKEL ILMIAH

“ Daun Sirih bagi Penderita Epistaksis (Mimisan) ”
Oleh : Nurfazlina
(Peserta BBMK dan OR MRC 2011-2012)


1.    Pendahuluan

Secara tradisional, Orang Indonesia sudah tidak asing lagi dengan daun sirih. Daun sirih memiliki banyak manfaat, diantaranya bisa digunakan untuk berkumur jika mulut sedang bengkak, menghilangkan bau mulut, serta menghentikan darah ketika gigi dicabut, rasa gatal dan bisul kecil dapat disembuhkan dengan mencuci bagian tersebut dengan ekstrak daun sirih, mengandung eugenol yang bisa mencegah ejakulasi dini, membasmi jamur candida albicans yang antara lain menyebabkan keputihan pada kaum wanita, dan bisa meredakan rasa nyeri mengandung tanin yang bisa mengurangi sekresi cairan pada vagina, melindungi fungsi hati, dan mencegah diare, dll.

Mimisan. Kata yang cukup akrab di telinga banyak orang ini biasa digambarkan sebagai mengalirnya darah dari hidung. Orang Yunani kemudian menyebutnya epistaxis atau perdarahan hidung. Umumnya, epistaxis atau mimisan memang tidak berbahaya, meski dalam beberapa kasus mimisan mengindikasikan penyakit yang berbahaya.

Secara umum, ada sebuah fenomena yang banyak kita temukan yang berkaitan dengan mimisan ini yaitu orang Indonesia yang masih tradisional spontan akan menggulung selembar daun sirih (piper betle lynn) dan memasukkannya ke hidung bocah untuk menyumbat darah yang keluar akibat mimisan. Dalam sekejap, aliran darah dari hidung itu pun berhenti. Namun, hingga saat ini, belum banyak kajian ilmiah tentang kaitan mimisan dengan daun sirih tersebut. Namun, dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia (1987) disebutkan, jika diisap, cairan daun sirih mampu menghentikan perdarahan pada hidung.

Terkait dengan fenomena diatas, maka masalah yang akan dibahas adalah bagaimana daun sirih dapat mengobati pendarahan pada saat Epistaksis? Tujuan peneliti adalah untuk mengetahui bagaimana daun sirih dapat mengobati pendarahan pada saat Epistaksis?

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena di masyarakat tradisional mengenai manfaat daun sirih bagi penderita Epistaksis secara ilmiah sehingga di kemudian hari terdapat kejelasan yang meyakinkan masyarakat tentang manfaat daun sirih. Penelitian ini difokuskan pada penelahaan kandungan daun sirih dan manfaatnya pada proses pembekuan darah.


2.    Pembahasan

2.1 Epistaksis

Epistaksis atau mimisan adalah gangguan klinis berupa pecahnya pecahnya pembuluh darah pleksus Kieselbach dan pleksus Woodruff di septum nasi sehingga menimbulkan pendarahan. Menurut Porter, misteri di balik mimisan pertama kali diungkap oleh Carl Michel (1871), James Little (1879), dan Wilhem Kiesselbach. Mereka adalah orang pertama yang berhasil mengidentifikasikan bahwa mimisan merupakan perdarahan hidung akibat terganggunya sekat rongga hidung bagian depan atau anterior.
Gangguan klinis pada Epistaksis bisa diakibatkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor lokal dan sistemik. Faktor lokal yang menyebabkan mimisan termasuk anomali vaskular, infeksi atau radang ringan, trauma, luka iatrogenik, neoplasma, serta munculnya unsur desikasi di dalam tubuh. Sedangkan faktor sistemik mencakup hipertensi, atheroklerosis, infeksi atau radang karena suatu penyakit, hingga ginjal dan liver. Karena itu, mimisan bisa menjadi gejala biasa, tetapi bisa pula menjadi gejala berbahaya.
Ada dua area yang paling terkena imbas mimisan, yang disebut plexus Kiesselbach dan plexus Woodruff. Plexus Kiesselbach merupakan perdarahan dari wilayah sekat rongga hidung bagian depan (anterior), sedang plexus Woodruff adalah posterior. Perdarahan anterior biasanya terjadi pada anak-anak berumur dua tahun hingga 10 tahun dan remaja. Adapun perdarahan posterior umumnya terjadi pada orang dewasa, tepatnya di atas umur 40 tahun. Yang paling umum, mimisan pada orang dewasa akibat tekanan darah tinggi karena pengapuran pembuluh darah.
Mimisan bisa terjadi akibat tindakan sangat sepele, misalnya mengorek hidung terlalu kuat, hingga penyakit serius. Umumnya ini gejala seperti sering terjadi pada anak-anak. Selain itu, mimisan bisa pula karena pilek, polip, pengeringan hidung akibat pergantian cuaca, hingga penyakit TBC. Jika TBC menyerang hidung, bisa dipastikan akan terjadi mimisan. Juga, trombositopenia, hemofilia, leukimia, hipertensi akibat pengapuran pembuluh darah, kekurangan vitamin D serta K, gangguan keseimbangan hormon, dan keracunan obat. Khusus pada anak-anak, mimisan bisa terjadi karena hidung kemasukan benda keras atau biji-bijian yang mengakibatkan infeksi dan perdarahan. Biasanya, gejala seperti ini ditandai dengan bau busuk dari lubang hidung. Namun, mimisan yang harus diwaspadai adalah dalam kasus posterior. Umumnya, mimisan pada kasus ini lebih sering terjadi dan mengeluarkan darah lebih banyak. Karena itu, mimisan pada kasus ini hanya bisa ditangani para ahli. Perdarahan hidung posterior karena infeksi antara lain akibat sinus paranasal seperti rinitis atau sinusitis. Namun, yang lebih parah adalah mimisan akibat lupus, sifilis, atau lepra.
                                          
2.2    Kandungan daun Sirih untuk mengobati Epistaksis

Sirih merupakan tanaman menjalar dan merambat pada batang  pohon di sekelilingnya dengan daunnya yang berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh bersilang-seling, bertangkai, teksturnya agak kasar dan mengeluarkan bau jika diremas.  Batangnya berwarna cokelat kehijauan, berbentuk bulat dan berkerut. Sirih hidup subur dengan ditanam di daerah tropis dengan ketinggian 300-1000 m di atas  permukaan laut terutama di tanah yang banyak mengandung bahan organik dan air.Sirih merupakan tumbuhan obat yang sangat besar  Dalam farmakologi Cina, sirih dikenal sebagai tanaman yang memiliki sifat hangat dan pedas.

Daun sirih mengandung minyak atsiri di mana komponen utamanya terdiri atas fenol dan senyawa turunannya seperti kavikol, kavibetol, karvacol, eugenol, dan allilpyrocatechol.Selain minyak atsiri, daun sirih juga mengandung karoten, tiamin, riboflavin, asam nikotinat, vitamin C, tannin, gula, pati dan asam amino.Kandungan eugenol dalam daun sirih mempunyai sifat antifungal.   
                                                                                                   
Daun sirih di yakini bisa meredakan kucuran darah dari hidung atau mimisan, khasiat daun sirih membantu menutupnya pembuluh darah yang pecah di hidung .Daun sirih lebih efektif karena memiliki dua fungsi.Fungsi pertama adalah mekanis dan kedua berfungsi kimiawi. Fungsi mekanis daun sirih adalah menekan pembuluh darah didalam hidung, saat gulungan daun dimasukkan ke dalam lubang hidung yang mimisan. Dengan begitu, otomatis penutupan pembuluh darah yang pecah bertambah cepat. Sedangkan fungsi kimiawi daun sirih disebabkan adanya kandungan zat kimia bernama tanin di dalamnya zat ini bisa membantu menutup pembuluh darah yang pecah di hidung. Sumber lain menyebutkan bahwa minyak atsiri dari daun sirih mengandung betalephenol dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi, dan anti jamur. Itulah sebabnya, daun sirih bersifat menahan pebuluh darah, menyembuhkan luka pada kulit, dan menghentikan pendarahan.Fungsi daun sirih sebagai desinfektan atau pembunuh kuman, membuat tanaman obat tradisional ini dapat membunuh bakteri atau kuman yang terdapat dalam hidung. Selain menghentikan pendarahan, akan mengurangi luka dihidung akibat infeksi.

                        Penelitian yang dilakukan Dr.drg Hari Sumitro SpBM dalam promosinya sebagai doktor di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG-UI), ditemukan khasiat daun sirih yang mampu mempercepat pembekuan darah karena ekstrak daun sirih oleh etanol yang mengandung senyawa aktif seperti phenol, beta caryophyllene, 2-methoxy-4(1-prophenyl, dan alfa-amorphene, dapat mempercepat proses koagulasi atau pembekuan darah.
    




3.    Penutup

Berdasarkan pembahasan ilmiah dan penelitian ilmiah diatas, daun Sirih dapat dimanfaatkan sebagai obat bagi penderita Epistaksis untuk menghentikan pendarahan. Daun sirih pun dapat menjaga cavum nasi (rongga hidung) yang mengalami gangguan ini dari infeksi akibat bakteri saat penyumbatan.


                                                                                                       
Sumber :

Detik.com

Senin, 10 Oktober 2011

Perlukah Takut terhadap Risiko Strok pada Anak-Anak yang Masih Rendah? (Essai Ilmiah BBMK MRC)



Nama               : Nurfazlina
BP                   : 1110312157
Prodi               : Pendidikan Dokter 2011
Peserta BBKM dan OR MRC 2011-2012

Kebanyakan orang awam masih memiliki pandangan bahwa strok adalah penyakit yang banyak dialami oleh orang lanjut usia. Pernyataan ini tidaklah salah karena kasus yang sering kita temukan dilapangan adalah orang lanjut usialah yang rentan menderita stroke. Bahkan, kita akan dengan cepat memutuskan bahwa anak-anak tidak mungkin atau jarang mengalami strok. Namun, saat ini diakui atau tidak, strok juga diderita oleh anak-anak walaupun dengan risiko yang masih tergolong rendah. Kita tentu akan bertanya atau malah sedikit meremehkan dengan mengatakan “ perlukah saya takut pada risiko strok pada anak-anak yang masih rendah tersebut? ”.

Sebelum kita mengupas dan menuding pernyataan diatas, alangkah baiknya kita melupakan sejenak tudingan diatas dan memusatkan perhatian pada apa itu strok pada anak-anak. Pengetahuan tentang strok secara teoritis ini memang akan membingungkan dan membosankan, tetapi ini akan membantu dalam hal pemahaman apa itu sesungguhnya strok.

Strok (stroke = dalam bahasa inggris) merupakan suatu keadaan dimana secara tiba-tiba pasokan darah ke suatu bagian otak terganggu. Strok pada anak didefinisikan sebagai gangguan serebrovaskular yang terjadi pada usia antara 30 hari (1 bulan) sampai 18 tahun. Definisi lain menyebutkan strok pada anak adalah strok yang terjadi pada usia antara 28 hari setelah lahir sampai 18 tahun.

Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami strok atau bukan, kita dapat melihat gejala-gejala pada anak berupa pusing, migrain atau sakit kepala di bagian tertentu, dan mata terasa berkunang-kunang, pusingnya semakin menjadi-jadi selama 1-2 jam, muntah, kejang, hilang kesadaran, anak yang semula dapat berbicara dengan lancar akhirnya menjadi terbata-bata,dan gerak tubuhnya pun mendadak kaku dan menjadi lumpuh. Gejala tersebut tak hanya dialami oleh anak-anak usia sekolah, melainkan juga pada bayi. Bayi tersebut biasanya akan rewel terus-menerus, tak mau minum susu, muntah, dan kejang. Selanjutnya diikuti dengan menurunnya kesadaran, lemas, bahkan kelumpuhan. Dr. E Steve sebagai ahli penyakit strok mengatakan bahwa gejala pertama stroke pada bayi adalah kejang yang hanya mengenai satu lengan atau tungkai. Gejala kejang ini sering sekali timbul hingga jumlahnya mencapai sepuluh persen dari kelainan kejang yang terjadi pada bayi. Sedangkan pada orang dewasa, gejala kejang jarang sekali ditemukan.

Risiko strok pada anak di dunia memang tergolong rendah. Berdasarkan akumulasi dunia, angka kejadian stroke pada anak-anak sekitar 2 per 100.000 anak per tahun, sedangkan angka kejadiannya pada bayi mencapai 25 per 100.000 bayi per tahun. Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Kanada, dan Cina memberikan akumulasi yang sedikit masih dapat dihitung jari. Di Amerika Serikat Insidensi stroke pada anak diperkirakan antara 2-3/100.000 anak/tahun dan di Perancis Insidensi stroke pada anak diperkirakan 13/100.000 anak/tahun. Di Inggris sekitar 400 anak mengalami stroke setiap tahun. Untuk negara Kanada, Canadian Pediatric Ischemic Stroke Registry (CPISR) melaporkan insidensi stroke iskemik pada anak usia <18 sebesar 2,7/100.000 anak/tahun, 40% pada usia < 1 tahun dengan perbandingan laki-laki: perempuan (1,5:1). Ditambah lagi, Penelitian pada anak-anak Cina di Hong Kong mendapatkan stroke pada anak sebesar 2,1/100.000 anak/tahun dengan 28% diantaranya stroke hemoragik.

Risiko strok yang masih tergolong rendah ini dapat terjadi tentu dengan adanya penyebab-penyebab yang disadari ataupun tidak. Penyebab ini bisa dianggap sebagai awal mula mengapa bisa terjadi strok pada anak, namun bisa juga sebagai pembelajaran bahwa jika terjadi peningkatan risiko strok pada anak tidak terlepas dari faktor penyebab. Secara umum, sebagian besar stroke pada anak-anak terjadi akibat kombinasi faktor penyebab medis dan faktor penyebab perilaku. Berdasarkan pembagian strok, dapat kita lihat beberapa penyebab strok. Sebagian besar (> 70%) kasus stroke pada anak adalah stroke iskemik , yaitu ketika pembuluh darah utama terhalang oleh plak, gumpalan darah atau bentuk lemak lain, dan 30% stroke hemorgaik , yaitu ketika pembuluh darah dalam otak pecah dan darah mengalir ke dalam otak. Namun, jika ditinjau dari segi penyakit yang menimbulkan strok, terpadat dua penyakit yang selalu digembar-gemborkan sebagai penyebab strok pada anak yaitu anemia sel sabit dan penyakit jantung bawaan. Lebih serius lagi, jika kita berbicara penyebab strok dari segi lingkungan atau prlaku, Hal ini tentu akan menjadi sangat kompleks, seperti stress, pola dan gaya hidup yang tidak sehat, tekanan darah tinggi, diabetes dan obesitas.

Ternyata, tak terlepas dari risiko dan penyebab strok, ada hal utama yang perlu kita kupas. Berdasarkan beberapa sumber  data menunjukkan bahwa 20% kasus stroke anak meninggal dalam perawatan. Sejumlah 45% kasus akan menunjukkan gejala kecacatan akibat stroke yang menetap, dan 35% akan sembuh sempurna tanpa cacat. Kejadian strok ulang terjadi sampai 20% kasus, dan meningkatkan kematian. Lebih ironisnya lagi, dari sumber lain  disebutkan bahwa strok pada anak merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian pada anak. Peninjauan medis ini memberi sedikit gambaran bahwa risiko strok yang sedikit namun pasti yaitu hidup, cacat, atau mati. Ditinjau dari aspek medis pun, penyakit ini tergolong penyakit mahal dalam pengobatan. Akankah kita rela membiarkan seorang anak mati ataupun cacat karena mahalnya alat untuk terapi. Dilihat dari akibat sosial.strok pada anak memiliki dampak yang besar dalam masyarakat, diantaranya berhubungan dangan hilangnya masa-masa produktivitas. Seorang, dua, tiga atau beberapa anak yang seharusnya bermain, belajar, menikmati indahnya bimbingan dan belaian orang tua, dan dipersiapkan menjadi harapan bangsa direnggut oleh strok yang bisa saja mancacatkan atau bahkan membunuh secara perlahan dan pasti. Lebih ditakutkan lagi, angka yang masih bisa dihitung jari, angka yang terlihat kecil pada deretan angka lain pada risiko strok pada anak ini diperkirakan anak meningkat seiring dengan pengabaian dan peremehan pada usaha preventif dan pengobatan. Masihkan kita perlu bertanya atau meremehkan dengan mengatakan perlukah saya takut pada risiko strok pada anak-anak yang masih rendah tersebut? ”.

Rasa takut atau tidak, akan menimbulkan banyak respon. Namun, alangkah indah dan bermanfaatnya jika rasa takut menjadi tonggak awal untuk mencegah, berubah, dan berbuat lebih baik. Ketakutan yang timbul ketika kita tahu bahwa strok pada anak-anak tak pantas dipandang sebelah mata karena risikonya masih rendah, dapat terjadi pada pribadi, keluarga terutama orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Sebagai pribadi, terutama pada anak-anak sebagai objek pembicaraan, ketakutan akan cenderung pada akibat yang ditimbulkan pada fisik,  seperti kematian dan kecacatan, dan pada mental, seperti malu karena cacat, takut harus dirawat dirumah sakit, tidak menikmati masa-masa bermain seperti teman secara normal,dll. Sebagai pribadi, ketakutan ini bisa menuju pada pencegahan personal seperti, menjaga pola makan dan gaya hidup pribadi/ anak-anak, apabila ada masalah dapat berbagi dengan teman, guru, atau orang tua sehingga tidak menimbulkan stress berkepanjangan, dan pemberitahuaan pada orang tua ataupun lingkungan tentang gejala yang timbul pada tubuh. Bagi bayi atau pun balita, hal pencegahan dan pengobatan secara lansung lebih difokuskan pada bantuan pihak lain, seperti orangtua, baby sitter, dokter, dll berupa pengecekan status gizi, pemeriksaan penyakit bawaan atau gejala penyakit, dan perhatian yang lebih pada setiap perubahan tingkah laku bayi/ balita.

Sebagai orangtua, ketakutan terhadap strok pada anak menjadi hal yang dominan dalam tahap pencegahan dan pengobatan karena orang tualah yang paling tahu anaknya, orang tualah pihak yang sering berada di dekat si anak dan orang tualah yang memutuskan apa pertolongan yang harus diberikan pada anak. Pada orang tua, tahap pencegahan dapat dilakukan dengan peningkatan kepekaan orang tua terhadap keingintahuan tentang apa itu strok pada anak, apa penyebabnya, dan apa bahayanya. Tanpa pengetahuan pencegahan tentang strok lebih lanjut terhadap anak, seperti pengaturan pola makan dan gaya hidup, peredaan stress, pemeriksaan penyakit bawaan yang anak derita, dll , orang tua harus rela menggotong anaknya kerumah sakit, bersabar menunggu apakah si anak bisa tetap hidup, cacat, atau meninggal, dan berkorban materi demi pengobatan yang mahal.

Sebagai masyarakat dan negara, ketakutan ini hanya berupa prihatin dan sedikit kegelisahan. Bagaimana tidak, masyarakat dan negara membutuhkan anak-anak sebagai elemen yang berperan khusus sebagai tunas yang akan menumbuhkan bibit-bibit di kemudian hari. Bahkan, adanya kematian dan kecacatan akibat strok ini akan menurunkan status sosial suatu masyarakat dan bangsa karena sedikit menghilangkan garis-garis kesejahteraan rakyat yang diimpikan. Tokoh masyarakat dan pemerintah seharusnya dapat menginformasikan, memberi penyuluhan tentang gejala, risiko, penyebab, dan akibat penyakit yang terlihat masih awan pada masyarakat, seperti strok pada anak ini, untuk menghindari kelalaian dalam pertolongan dan pengobatan akibat ketidaktahuan


Sumber :

Gemari Edisi 94/Tahun IX/Nopember 2008 _ 63

Rabu, 24 Agustus 2011

LAPORAN Safari Ramadhan IV Departemen Pengabdian Masyarakat BEM KM FK UNAND

LAPORAN
Safari Ramadhan IV
Departemen Pengabdian Masyarakat
BEM KM FK UNAND


Nama                          :           Nurfazlina
BP                               :           1110312157
Prodi                           :           Pendidikan Dokter
No.Hp                         :           085210053435
Alamat Rumah             :           Kos putri rumah nomor 16, Jl. Tapakis, Jati Baru, Padang
Nama Mesjid              :           Al-Hidayah
Alamat Mesjid             :          

Ringkasan cerita tentang kegiatan Safir ke SD, SMP, SMA :

            Berdasarkan kesepakatan dengan pihak pembina Pesantren Ramadhan Mesjid Al-Hidayah, kami, kelompok 41 yang beranggotakan 3 orang yaitu Ranti, Ilma, dan saya sendiri, Nurfazlina, memulai perjuangan untuk menyampaikan materi untuk tingkat SMP pada hari Sabtu, 20 September 2011, pukul 06.30-07.30 disebabkan esok harinya pada jam yang sama kami harus mengikuti sosialisasi perpustakaan UNAND di Limau Manis sehingga dengan penuh pertimbangan, kami memutuskan menyicil kegiatan ini.

            Pada hari pertama ini, saya belum ikut serta dalam menyajikan materi karena sesuai pembagian materi, saya mendapat tugas menyampaikan materi “Handwashing” untuk SD dan “Kemana Setelah Lulus SMA?” untuk SMA. Namun, dengan penuh kebersamaan, sebelum tampil, saya dan kedua teman saya membuat yel-yel untuk penampilan perdana. Berikut yel-yel yang membuka penampilan kami dengan meriah, agak memalukan karena tidak maksimal dan tidak kompak yang mungkin disebabkan dipagi buta itu, ide meluncur dengan deras tanpa latihan yang maksimal.

ooooo.....ooooo.....
ooooo.....ooooo.....
Ku Bangun Pagi,
Lari-lari,
Untuk kesini,
Ikut safir, 
Dapat Ilmu,
Dapat Amal,
Dan juga bisa bersenang-senang..
Safir, safir, safir, oooooooooo
Safir, safir, safir, ooooooo
( irama lagu Baby oleh Justin Beiber)


            Minggu pagi, usai mengikuti sosialisasi perpustakaan UNAND, kami bertiga segera meluncur menuju lokasi perjuangan guna melanjutkan amanah yang belum dipenuhi dengan maksimal. Saya merasa sedikit lega. Dalam penyampaian materi seorang diri mengenai “Handwashing” untuk SD, saya bisa menyampaikannya sesuai target dan teknik yang telah saya petakan bersama teman kelompok lain yang juga menyampaikan materi yang sama (tanpa slide dan infocus). Ketika awal penyampaian semua adik-adik SD memang sedikit meribut. Namun, dengan langkah jitu saya menenangkan dan mencoba menyampaikan materi selugas mungkin dan mempraktekkan mencuci tangan dengan menggunakan alkohol secara tenis saja karena alkohol yang telah saya siapkan sebagai bahan percobaan tertinggal di kos. Kemudian untuk teknik mencuci tangan dengan menggunakan air sabun, saya menggunakan ide dalam bentuk lagu agar mudah diingat oleh adik-adik yang tampaknya mulai bosan dengan materi saya.

Hello teman semua,
Ayo kita mulai, hidup sehat sekarang.
Apa yang kau lakukan, ketika akan makan
dan bekerja belajar.
Cuci kita cuci kedua tangan
Sebagai langkah untuk hidup sehat
jadi pribadi sehat
Buka kita buka kedua tangan
Biar air, sabun basahi tangan
untuk hilangkan kuman.
Gosoklah-gosoklah kedua tangan
Keringkan-keringkan kedua tangan,
Gosoklah-gosoklah kedua tangan,
Keringkan kedua tangaaan...........
( Irama lagu Semangat Baru oleh Ipang-Ello )

Lagu ini diminta untuk dinyanyikan bagi santri yang bermental berani dengan imbalan permen yang di kalungkan. Saya telah lampirkan foto yang mendeskripsikan jenis hadiah yang kami beri. Berikutnya, untuk untuk teknik mencuci tangan dengan menggunakan handsanitizer atau jell, kebetulan, teman saya, Ilma membawa handsanitizer miliknya. Saya dengan segera meminta antusias satu orang santriwan dan satu orang satriwati untuk mencoba mencuci tangan dengan handsanitizer tersebut. Saya berharap dengan teknik ini, antusias mereka dalam penyampaian materi bisa disertai dengan ingatan dan aplikasi nyata sehari-hari.

            Minggu siang pukul 14.30, kami pun memulai penyampaian materi untuk SMA. Pada saat giliran saya menyampaikan materi, kali ini tak ada teknik khusus, hanya penyampaian lugas yang sebut “Penyampaian heart to heart”. Saya mencoba menyampaikan semua materi yang terdapat dalam modul yang disertai dengan berbagi pengalaman. Saya menganggap bahwa kali ini, saya menghadapi siswa-siswi SMA yang butuh kerasionalitasan, pengertian,dan perhatian. Semoga saja dengan metode ini, mereka bisa menghayati dan memahami maksud dari materi yang saya sampaikan. Antusias mereka dalam mendengarkan materi ini sepertinya tidak terlalu mencolok.     
    
Dokumentasi :

 


Kamis, 14 Juli 2011

Ibu, ma'af, ku membuatmu menangis untuk kesekian kalinya

oleh Nur Fazlina pada 14 Juli 2011 pukul 20:00 ·
 
 
Sesaat sebelum pendaftaran, Saat ku usai ucap salam,
Deringan itu mengejutkanku, 7 panggilan tak terjawab..

Tangisnya pecah ditambah tangisku karena salah
cemasnya meluap dalam kecewa karena ulah dan lakuku
Sekali lagi, ia meringis dan menangis dalam pendengaranku
lagi dan lagi, suara tangis itu lama dan panjang

Ma'af, aku minta ma'af bunda,
Ma'af, aku minta ma'af bunda,
Aku tak tau, entah berapa kali aku berbohong padamu,
Aku tak tau entah berapa kali aku membuatmu menangis,
Aku tak tau entah berapa kali aku membuatmu sedih, cemas, dan marah
Yang ku tau, saat itu aku rindu, aku menyesal, dan aku sungguh menyesal.

Jujur, sebelumnya aku terus meminta pada yang Maha Kuasa,
Aku memohon dan meminta setiap malam dengan sejuta asa
Agar kau tak tau, agar kau tak cemas, agar kelak saja ku beri tau.
Saat semua telah jelas, saat semua telah terjadi, dan saat Allah memberi takdir terbaikNya
Saat ku berani menerima risiko segala
Saat ku kuat untuk menatap masa depanku

Saat itu,
Aku tak tau berapa besar rasa kecewamu
Aku tak tau berapa besar marahmu
Aku tak tau berapa dalam sedihmu
Aku tak tau berapa lama tangismu
Aku tak tau berapa besar kecewamu
Yang ku tau, aku minta m'af atas keegoisanku
Yang ku tau, aku minta m'af atas salahku
Yang ku tau, aku ingin bercerita padamu
Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja,
Disini...

Entri Terbaru

Tokoh Indonesia dan Nilai Berakhlak